Wednesday, November 28, 2007

AJAL ITU PASTI

“Orang mati lagi” keluhku. Heran aku, sudah banyak orang mati tapi kenapa tambah banyak pula orang yang berbuat dosa. Kapankah aku mendapat giliranya? Tidak! Aku masih belum ingin mati!, aku masih ingin hidup, aku masih ingin menikmati kekayaan yang aku peroleh dengan jerih payahku sendiri. Ah! Tidak mungkin aku mati sekarang toh aku masih muda dan belum menikah lagi, lupakan saja soal kematian tak usalah aku memikirkanya. Seketika itu peperangan yang terjadi di hatiku berhenti.
Keesokan harinya. Ketika di kantor “Yud, gimana kemarin saudaramu, sudah kembali kesisi Nya?” Spontan teman-teman sekantor mentertawakan pertanyaan itu. “Sudah” jawabku singkat. Ledekan itu tidak berhenti sampai situ “Kapan kamu mendapat giliranya?” teman-teman pun menertawakannya lagi, seolah-olah kematian tersebut adalah sebuah lelucon dan mainan. Aku hanya diam tak berkata sepatah kata pun. Pikiranku terfokus pada kematian, tidak! Aku tidak mau mati, aku masih ingin hidup. Deru tawa teman-teman terbayang dalam pikiranku. Telingaku sudah tidak kuat lagi untuk mendengarnya. Akhirnya aku pergi meninggalkan ruangan itu.
Sore itu aku sedang duduk-duduk menikmati pemandangan luar. Sebuah mobil Avanza berhenti di depan rumahku, “kelihatanya aku kenal mobil itu?” Tanyaku penasaran. Aku tersentak kaget dan langsung berdiri dari dudukku ketika aku melihat yang keluar dari mobil itu Wahyu. Mau apa dia datang kerumahku? apa mau mengejek aku lagi?. Dia tersenyum kepadaku sambil berjalan menghampiriku. Dia menyalamiku, aku memepersilahkan dia duduk dia membalasnya dengan senyum. Tiba-tiba dadaku sesak perasaanku tidak enak, aku harus siap mental ini, jangan-jangan dia mengejekku lagi. Dia membuka pembicaraan “Kedatanganku mengganggu mu?” “Oh, ti..dak!” jawabku gugup “malahan aku sedang santai, a..da apa, kok tum..ben kemari? Tanyaku dengan mencoba menghilanhkan rasa gugupku. Dia hanya diam dan tersenyum tidak menjawabnya. Aneh, pikirku. Ada apa dengan Wahyu?. 3 menit lamanya aku kami diam, “ Kedatanganku kesini, mau minta maaf soal tadi siang” Aku tersentak kaget. “ kamu mau kan maafkan aku?”. Aku tidak bias mengatakan apa-apa, aku hanya mengangguk mengiyakan. “ Makasih, aku harus pamit masih banyak urusan yang harus aku kerjakan. Selamt sore”. Dia menjabat tanganku dan berjalan keluar. Aku masih terbengong dan tidak percaya sampai bayangan mobil wahyu menghilang. Aku mimpi? Wahyu minta maaf? Padahal dia sangat membenciku dan selalu bersaing dalam masalah pekerjaan, dia tidak mau kalah denganku.
Tiba-tiba pikiranku langsung menuju ke kematian. Aku ingat kata seorang Ustadz pada waktu aku mengikuti sebuah pengajian. Beliau berkata seseorang sudah menjadi mayat 40 hari menjelang kematiannya. Dan sikapnya akan berubah menjadi baik. Mungkinkah Wahyu akan mati? Malang sekali nasibnya, padahal dia belum menikah?. Aku sudah memaafkan mudah-mudahan kau kembali ke sisi Nya dengan tenang. Ketika itu aku tidak terpikir kalau aku pun akan mendapat gilirannya enyah yang ke nomor berapa. Sudah lah tidak usah dipikirkan yang penting besok dan lusa aku belum mendapatkan giliran.
Aku begitu takut dengan kematian, entah kenapa. Padahal semua orang yang hidup pasti akan mati. Kematian seolah-olah momok bagiku dan aku selalu berusaha untuk menghindarinya. aku pun tahu kematian tidak bias dihindari tapi aku harus menghindarinya. Pokoknya aku tidak ingin mati! Teruiakku dalam hati.
Keesokan harinya aku berangkat kekantor dengan perasaan tenang dan tubuh yang fresh. Aku sudah tidak memikirkan mati lagi karena bukan giliranku. Mobil ku setir dengan nyaman. Sesampai dikantor ku tebarkan senyum semanis-manisnya sehingga seluruh kantor pun terheran-heran. Aku tidak menggubrisnya. Aku percaya karena hari ini adalah hari baikku. Aku duduk di meja kerjaku, wahyu menghampiriku “ Yuda, ada apa gerangan, kelihatnya kau sedang senang?” “ Iya, ini adalah hari terbaik ku” jawabku singkat. “ Yu, aku minta maaf mungkin aku punya salah sama kau” kata-kata itu tak tersadar terucap oleh mulutku. Wahyu hanya mengangguk dan menghilang dari hadapanku.
Jam pulang tiba. Aku menuju lobi bawah. Ketika mau pulang wahyu memanggilku “ Yud, mau pulang?” “ Iya” “ Boleh numpang, mobil masih di bengkel” aku mengangguk tanda meng iyakan. Di perjalanan tak disengaja mobil kusetir dengan cepat, kami berbincang-bincang sambil tertawa. Tiba-tiba ada truk dari depan aku tidak bias menghindar akhirnya mobilku menabrak dan hancur.
Ku buka mataku. Terlihat dinding putih, kain putih, semua serba putih. Rumah sakit rupanya, terkaku dalam hati. Aku bangkit dari tempat tidurku. Seperti ada yang aneh? Ini aku tapi siapa yang sedang berbaring di situ? Sekilas mirip aku. Tidak! Itu bukan aku. Ku lihat sekelilingku. Mayat. Tidak mungkin aku mati, aku pasti salah orang. Aku berlari dengan cepat. Tiba-tiba mataku tertuju oleh sebuah ruangan. “ Wahyu?” ku lihat wahyu berbaring di ruang ICU. Aku masuk untuk memperjelas pandanganku. Tidak mungkin! Seharusnya yang mati bukan aku tapi dia. Hari-hari ini tingkahnya aneh. Aku belum mati, aku masih hidup!”
Aku tidak menyadari. Sikap ku aneh akhir-akhir ini ternyata ajal telah menjemputku. Aku tertunduk dan bersujud tidak mau menerima kenyataan ini.



Read More......

Monday, October 1, 2007

Masyarakat posok dan globalisasi

Masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki banyak sekali suku dengan peraturan atau hukum adat yang beda-beda. Suku-suku yang ada merupakan salah satu bentuk dari pengaruh geografis Indonesia, perbedaan dan letak pulau yang terpisah-pisah membuat pengaruh besar dalam persebaran manusia. Pengelompokan manusia-manusia yang memiliki ras dan kebiasaan sama akan berkembang manjadi sebuah suku-suku, mendiami wilayah tertentu serta mengakui daerah tersebut menjadi tanah adat. Manusia menciptkan budaya dari kebiasaan hidup itu pun berkembang sampai anak cucu, kemudian menjadi hukum adat setempat.


Suku yang ada saat ini sangatlah beda dengan keadaan suku-suku pada masa lampau, dimana saat ini kebiasaan suku atau masyarkat adat telah beralkulturasi dengan masyarakat lain. Suku yang dahulu sangat tertutup dengan masyarakat luarpun saat ini sudah mulai membuka diri menerima para pendatang dengan budaya yang beda.
Perbedaan budaya pun sebenarnya sudah ada dari jaman nenek moyang kita saat zaman masyarakat nusantara belum mengerti apa itu agama, dan masih percaya dengan roh nenek moyang atau atisme, nenek moyang kita sudah memiliki kebudayaan sendiri. Setelah bangsa india datang sekitar abad 4 dengan membawa agama hindu masyarakat indonesia mulai mengerti atau mengelompokkan masyarakat dalam empat kasta. Dari brahmana, satrya, waisa dan sudra dimana empat kasta tersebut tidak boleh tercampur apabila kasta-kasta tersebut sampai tercampur maka manusianya dikelompokkan dalam golongan paria (buangan) serta tidak bias masuk dalam kelompok manapun.
Setelah abad 5 para pedagang dari india yang beragama Budha pun datang kenusantara, bahkan sempat terjadi perang dengan ditandai runtuhnya kerajaan-kerajaan hindu dan digantikan dengan kerajaan yang beragama budha. Setelah itu disusul dengan datangnya pedagang-pedagang islam dari Gujarat pada sekitar abad 7. Dengan alkulturasi ketiga agama tadi secara langsung mengubah pola pikir masyarakat yang menganutnya. Agama juga berdampak pada hukum adat yang dianut masyarakat, sedikit banyak agama tetap mempengaruhi hokum-hukum yang ada dimasyarakat baik itu agama Hindu, Budha, dan Islam. Sekitar abad 16 bangsa asing dari daratan eropa datang dengan membawa agama Nasrani, karena bangsa-bangsa eropa yang datang ke nusantara waktu itu memiliki tiga tujuan pokok yaitu mencari kekayaan, mencari kekuasaan, dan penyebaran agama khususnya Nasrani dan lamanya bangsa eropa khususnya portugis, inggris, dan belanda lama tinggal di nusantara sedikit banyak mengubah adat kebiasaan dan budaya yang ada.
Budaya yang terus berkembang semakin menambah kekayaan yang kita miliki sehingga apa yang ada sekarang merupakan bentuk dari alkulturasi budaya dan agama-agama dari jaman masa lampau atau bentuk dari komunikasi dengan dunia luar entah itu sebagai penjajah , pendeta, dan pedagang.
Dari proses yang panjang masyarakat secara tidak sadar menciptakan beberapa budaya yang ada dan dipertahankan sampai saat ini. Menurut Iris Verner dan Linda Beamer, dalam buku intercultur Communication in the Global Workplace, mengartikan kebudayaan sebagai pandangan yang koheren tentang sesuatu yang dipelajari, yang dibagi, atau yang dipertukarkan oleh sekelompok orang. Pertukaran dan kebiasaan yang terbentuk dipertahankan dan dilakukan turun temurun sehingga oleh anak cucu dinilai sebagai budaya asli mereka yang diturunkan turun temurun.


Read More......

Thursday, August 23, 2007

Unsur Api (dalam sifat dasar makhluk-NYA)

Dalam renungan di bukit yang dipenuhi pohon bambu ini aku berfikir dan ingin menorehkan sebuah kegelisahan yang ada dalam kepala tentang tingkah polah manusia yang semakin hari semakin panas saja bak bara api yang tanpa henti berkobar. Unsur api yang terus menghancurkan tetap ada dalam diri manusia apalagi yang jauh dari agama, manusia ini sangat dekat dengan permasalahan, kejahatan dan persoalan-persoalan lain. Memang setiap manusia pasti mempunyai problem masing-masing, entah itu sangat membebani atau persoalan ringan yang tidak terlalu di fikirkan oleh manusia.

Dapat kita lihat semua makhluk ciptaan-NYA semua pasti mempunyai unsur api baik itu malaikat, jin, bahkan setan. Dapat kita lihat bahwa semua makhluk-makhluk itu mempunyai sifat yang tidak lepas dari asal mereka diciptakan. Perbedaan menonjol antara manusia dan malaikat, jin dan setan hanya pada bentuk fisik, manusia mempunyai bentuk fisik nyata dan memiliki cipta, rasa dan karsa. Semua itu tidak lepas dari sifat tanah liat yang dapat dibentuk dan diubah sesuai keingian dan sangat sulit dibuat bentuk yang sama.

Makhluk yang ada terbagi atas beberapa unsur satu dan dua, yang masuk pada unsur satu adalah malaikat, jin, setan, sedangkan manusia masuk pada unsur kedua.


Makhluk yang ada pada unsur satu, bisa hidup tanpa makan karena tidak memiliki fisik atau raga yang bisa rusak dan mati. Sedangkan ruh tidak akan pernah bisa mati, tidak terkecuali ruh manusia. Mengenai unsur yang membentuk atau awal dari ruh adalah cahaya, sedangkan cahaya ada karena adanya pancaran panas (bisa dikatakan adanya pancaran api) dari api ini dapat kita jabarkan menjadi beberapa unsur yang ada, semisal unsur pembentuk setan yaitu api itu sendiri. Sedangkan jin tercipta dari baranya api dan para malikat tercipta dari cahaya atau nur yang bersumber dari api juga. Tidak luput ruh manusia pun tercipta dari cahaya atau nur itu sehingga kita percaya bahwa ruh kita tidak mungkin rusak atau mati.

Dilihat dari segi kebatinan bahwa mati merupakan terpisahnya raga secara fisik dengan jiwa atau ruh dimana dari segi ketahanan atau usia fisik manusia normal hanya bisa bertahan sekitar kurang lebih 99 tahun, biar pun ada beberapa orang yang memiliki umur melebihi itu dari itu. Tidak lepas dari proses kematian tadi bahwa jiwa atau ruh kita jika sudah tidak mau menempati raga kita yang kian lama kian rusak sehingga perpisahan antara ruh dan raga itu sering kita katakan kematian karena unsur kedua dari manusia sudah terlepas dari unsur pertama.

Unsur pembentuk manusia yang tercipta dari tanah liat telah rusak dan harus kembali pada asalnya sehingga manusia mati harus kita kubur agar unsur tanah kembali pada tanah, sedangkan ruh atau jiwanya masih menunggu sampai hari kiamat, bahkan tidak akan pernah mati atau sirna. Lain dengan orang gila, mereka hanya menanggung beban didunia saja. Untuk urusan ruh dan jiwa tidak diketahui. Dimaksud dengan orang gila adalah orang yang tidak memiliki akal, cipta, rasa, dan karsa, sehingga orang itu hanya mengandalkan insting dan belas kasihan orang. Jika dalam pengertian seperti itu sudah dapat dimengerti maka urusan tentang jiwa dan raga merupakan urusanNYA.
Dapat kita lihat lagi tentang apa sebenarnya yang ada pada manusia, malaikat, jin, bahkan setan. Manusia dapat mempunyai sifat-sifat seperti malaikat, jin bahkan bisa melebihi setan tergantung lagi pada tingkat keimanan dan seberapa dalam dia tahu agama yang merupakan sebuah arahan hidup menuju keabadian.

Pemikiran ini mungkin sudah diulas oleh beberapa tokoh ulama, setidaknya ini merupakan ulasan yang sangat ringan dalam pengartiananya sebagaimana manusia dibekali akal untuk secara terus menerus berfikir cerdas. Dalam proses berfikir itu, manusia pasti menemui beberapa pengalaman baru yang tidak akan terulang lagi dalam hidup. Sampai pada titik di mana manusia dapat berfikir dalam pencarian Tuhan dalam logika biar pun hal tersebut tidak mungkin dilogika.

Dalam proses ini sedikit banyak akan timbul bermacam-macam ilmu pengetahuan yang sebenarnya sudah dijelaskan secara mendasar dalam Al Quran. Sebagai manusia yang haus akan ilmu pengetahuan, setidaknya dapat membedakan masalah yang bisa dilogika dengan akal dan yang tidak bisa dilogika, agar dalam pencarian kebenaran itu tidak terjerumus dalam paham-paham yang keluar agama.

Manusia yang haus akan ilmu yang ada di dunia ini sebenarnya sudah tidak lepas dari sifat dasarnya yang mudah untuk dibentuk dan singkronisasi antara jiwa dan raga sangatlah sebentar dalam kehidupan ini. Jiwa manusia atau yang sering kita kata sebut ruh merupakan gambaran dalam kehidupan yang merupakan adanya beberapa sifat dasar seperti nafsu. Yang selama ini terus-menerus membisiki kita untuk melakukan sesuatu entah itu baik atau buruk. Ruh dalam ajaran Islam dipercaya terbuat dari cahya yang memiliki sifat lurus dan patuh.

Dan yang memiliki sifat sama dengan sifat cahaya tersebut dapat kita percaya dengan sifat-sifar malaikat yang selalu taat akan apa yang diperintahkan oleh-NYA, tanpa ada tanya dan komentar karena malaikat tidak memiliki sifat nafsu yang selalu mengarahkan untuk berfikir dengan logika. Malaikat tidak mengenal apa yang disebuat dengan logika karena apa yang tidak malaikat sendiri tidak dapat dilogika kita hanya harus percaya dengan keberadaanya.

Tidak dapat kita pungkiri, memang manusia mempunyai sifat hawa atau yang sering kita sebut nafsu setan. Memang benar nafsu setan tidak akan hilang dalam diri manusia. Dalam beberapa konteks ilmu agama dan ilmu pegetahuan alam tentang hubungan antara hukum api dan cahaya tidak akan ada habisnya terus beriringan sejajar dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Dapat dilihat secara logika tentang adanya cahaya dalam kehidupan ini. Satu-satunya sumber cahaya dapat dikatakan adalah api. Dilihat dari segi logika, apabila ada api yang hidup maka daerah sekitar tersebut pasti akan tampak terang biarpun hanya radius beberapa meter saja karena adanya cahaya yang terpancar dan dapat tertangkap oleh mata kita.


Read More......

Tuesday, August 14, 2007

Pendidikan dan Kerja Kita


Memperingati kemerdekaan RI yang ke-62 banyak kemeriahan didaerah-daerah bahkan wilayah pedalaman pun ikut serta dalam kebahagian Indonesia ini. Dalam perjalanan yang lama ini beberapa banyak warisan yang ditinggalkan orde lama, orde baru, dan orde revormasi untuk anak cucu kelak. Sedangkan saat ini kita tidak henti-hentinya menghabiskan sumber daya alam dan bahkan alam yang hijau dan subur ini telah di rusak untuk keperluan segelincir orang saja.
Mungkin suatu nyanyian waktu kecil yang berjudul PAK TANI saat ini sudah tidak pantas lagi dilantunkan oleh anak-anak sekolah dasar, karena sawah dan lading yang ada di Indonesia saat ini hilang menjadi bangunan yang tinggi bahkan anak penggembala pun menggembala di jalan raya dan MOL. Betapa indahnya dulu kala mendengar dongeng kakek, nenek kita yang teru menceritakan kehidupannya waktu mereka masih anak-anak, dengan wajah tersenyum seolah mereka mengejek kita karena sekarang kita tidak bisa lagi bermain seperti mereka. Saat ini semua permainan anak-anak sudah dibuat praktis sedangkan beberapa permainan tradisional daerah hanya tinggal kenangan kakek nenek kita.



Pendidikan pun saat ini terlihat praktis dan semakin rendah nilai sakralnya dalam dunia kerja biarpun mata pelajarannya semakin membuat otak kanan kita bekerja ekstra, dari jam 07.00 sampai 13.30 rata-rata anak belajar disekolah sedangkan waktu untuk bermain dengan alam hanya minggu padahal hari minggu anak-anak sudah disuguhi acara anak oleh beberapa setasiun TV yang ada sehingga anak cenderung duduk berlama-lama di depan TV. Sebenarnya apakah ini yang disebut kemajuan pembangunan memang apabila kita dapat memfaatkan dengan baik dan mendapat bimbingan yang tepat kita dapat maju, sedangkan yang bisa seperti itu saat ini hanya anak-anak kota. Tanpa menyadari bahwa perbandingan usia anak yang tinggal di kota dan desa adalah 5 : 2, lima untuk anak desa dan dua untuk anak kota. Dari lima itu pun hanya sekitar 2 yang dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sedangkan 3-nya hanya menjadi petani, ada juga yang merantau dan berwirausaha. Untuk anak kota dapat terbagi 1 bisa kepeguruan tinggi dan yang satu lagi kerja swasta bahkan nganggur.
Pedidikan yang diterima anak-anak tadi pun hanya sekitar 30% yang dinyatakan menjadi tenaga kerja provesional sedangkan 70%nya entah kerja jadi apa. Kebanyakan yang ada didalam masyarakat ada yang berwirausaha bagi yang punya modal sedangkan laininya bekerja serabutan yang tidak sesuai dengan bidangnya.
Berkiblat kedunia barat memang dunia pendidikan bangsa ini sangat jauh tertinggal dan terbelakang , kemana kebenaran cerita kakek nenek kita saat mengekspor tenaga pendidik keluar negeri pada zaman orde lama apa itu hanya kenagan masalalu saja. Sedangkan saat ini Malaysia sudah jauh mendahului kita dalam segala bidang. Memang Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang tenaga kerja tetapi hanya tenaga kerja kasar atau buruh. Padahal permintaan yang berlaku dipasaran adalah tenaga kerja professional, terampil dan minimal pendidikan D3 perguruan tinggi. Dilihat dari situ semua memang untuk bangsa ini mampu tapi kenyataan dilapangan tidaklah begitu karena beberapa masalah yang kompleks misalnya masalah dana, koneksi dan pungli sangatlah terbuka dan terang-terangan dalam dunia kerja khususnya pegawai negeri (PNS).
Pungutan liar yang ada dalam setiap pendaftaran PNS sudah menjadi rahasia publik itupun jumlahnya mencapi puluhan juta rupiah padahal dari pemerintah sudah mengumumkan tidak adanya uang pendaftaran sampai dinyatakan diterima dan mendapat SK. Memang ada yang mulus tidak menggunakan uang-uang pelicin itu tapi jumlahnya hanya 25% dari jumlah yang diterima sebagai PNS, terus 75% dengan pelicin itu dapat dilihat dalam beberapa hal di yang dapat dievaluasi dalam penanganan pndidikan di Indonesia yang sedang berjalan saat ini.
Beberapa orang mungkin menyalahkan mahalnya pendidikan yang sangat membumbung tinggi, sedangkan di masyarakat menengah bawah masih bingung untuk mencari sesuap nasi anggapan yang ada dalam masyarakat merupakan hal yang sangat prinsip adalah ekonomi. Banyak potensi orang yang pandai dan mau bekerja keras berasal dari kelas masyarakat menengah dengan biaya yang relative pas-pasan. Dengan perkembangan dunia kerja saat ini dan adanya pasar bebas yang ditawarkan merupakan suatu tantangan tersendiri untuk generasi muda dalam dunia pendidikan kecenderungan berwirausaha adalah dampak dari globalisasi yang ada.
Sekarang ini ekonomi yang sangat berperan dalam hidup bahkan untuk dunia pendidikan yang ada di Indonesia saat ini berorientasi pada persiapapan tenaga kerja, beda dengan dunia barat yang berorintasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan provesionalisme manusia. Indonesia saat ini baru mencapai pada tahap tenaga kerja trampil. Kekurangan masih menjadi alasan yang kuat untuk menyembunyikan kelemahan itu.
Apa jadinya apabila dalam departemen pendidikan yang sudah mendapatkan 20% anggaran dari RAPBN belum terrealisasi dengan tertib. Nyatanya ada beberapa sekolah di tingkat desa dan kota yang masih memungut biaya pendidikan yang tinggi padahal dengan adanya dana BOS dan rehab gedung dari pemrintah diharapkan siswa bebas biaya sekolah dan bebas uang gedung. Kenyataan dilapangan masih saja banyak sekolah yang memungut SPP dari siswa yang ada padahal sekolah itu negeri, harus dipertanyakan juga dan yang dari pemerintah untuk apa dan bagaimana laporannya apa hanya fiksi atau memang dana yang diberikan oleh pemerintah tidak mencukupi semua oprasional sekolah saat ini karena mahalnya alat peraga dan barang-barang yang mendukung pendidikan.
Prihatin juga melihat semua itu sudah 62 tahun Indonesia merdeka tapi bukannya maju dalam pendidikan dan menciptakan orang-orang yang berfikir cerdas untuk bangsa. Bahkan kemajuan yang ada hanyalah kemajuan semu dan merupakan bimbingan dari Negara-negara adikuasa yang selalu diatas kita dan mengendalikan lajunya ekonomi dan dunia pendidikan yang ada saat ini. Mungkin dengan berfikir positif dengan politik dan rasa cinta kepada Negara dapat menyadarkan diri kita dan seluruh bangsa untuk sadar daripenjajahan ekonomi dan pendidikan saat ini.

Read More......

Tuesday, August 7, 2007

Dalam Pencarian

Semuanya yang kita rasakan sama, keyakinan, rasa yang bernama cinta tidak lepas untuk di maknai. Tapi, saya sendiri beranggapan bukanlah sebuah hal penting untuk menjelaskan atau menafsirkan cinta. Tetapi harapan yang ada karena cinta itu sebuah perubahan yang terus berbuah kebahagiaan yang abadi entah itu sekarang atau kelak. Kecocokan dan sepemikiran yang merupakan awal dari tumbuhnya benih cinta dalam diri manusia.

Memang, cinta adalah rasa sesuatu yang abstrak tak dapat di raba tetapi bisa di lihat. Bisa di lihat dari sikap dan perbuatan serta pengorbanan. Sebab saya juga berkeyakinan bahwa cinta punya power untuk menggerakkan yang lemah menjadi kuat yang sehari-hari terlihat dungu bisa berubah menjadi jenius. Inikah kekuatan cinta yang sangat dasat itu, dengan menjanjikan ketenangan hati dan kebahagiaan cinta sulit sekali dipelihara dan dijaga.
Saya sendiri pernah merasakan dunia begitu gelap saat makna cinta belum ada dalam diri ini. Kehidupan saya menjadi amburadul, seenaknya sendiri tanpa memperhatikan peraturan yang ada dalam masyarakat. Ketika itu saya mencintai seorang gadis lugu yang cantik dan terlihat begitu anggun juga sederhana dengan jilbabnya, tetapi saya merasa sangat terpukul ketika saya tidak mendapatkanya dan mendapati dia telah mencintai orang lain yang lebih segalanya dari saya.
Sebenarnya, dia disukai juga pria lain bisa dibilang seniornya di kampus, jika di nalar dengan logika yang jernih dan objektif, bukanlah sesuatu yang harus di sesali dan melarutkan diri dalam kekecewaan tetapi itulah cinta. Mungkin benar yang di lantunkan Agnes Monica dalam salah satu lagunya, cinta tak ada logika. Namun, dalam kacamata saya hari ini, logika bisa mengendalikan cinta, inilah cinta yang mencerminkan kedewasaan ketika cinta masih berada di dalam kendali logika.
Membiarkan diri hanyut dalam imajinasi bahwa cinta adalah keindahan sejati merupakan kesimpulan keliru dan fatal. Hal ini bisa berefek pada depresi, stres bahkan lebih jauh bisa menyebabkan bunuh diri. So, saya peringatkan silahkan jatuh cinta tetapi jadilah raja terhadap cinta itu. Jangan biarkan pisau cinta menusuk mata anda sehingga anda buta dan tidak bisa melihat dengan mata yang jernih sebab banyak hal di bumi ini yang menuntut "mata yang selalu awas".
Setelah adanya cinta dalam diri manusia sampai saya memaknai dengan arti yang lain, secara otomatis cinta itu menumbuhkan perasaan hampa dalam kesendirian yang sangat dalam dunia gelapku ada beberapa masalah yang harus dipilah-pilah dengan sangat teliti.



Read More......

Malam minggu di Bukit Turgo”makam Syekh Jumadil Qubro”

Syekh Jumadil Qubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Terdapat beberapa versi babad yang meyakini bahwa ia adalah keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Martin van Bruinessen (1994) menyatakan bahwa ia adalah tokoh yang sama dengan Jamaluddin Akbar (lihat keterangan Syekh Maulana Akbar di bawah).
Sebagian babad berpendapat bahwa Syekh Jumadil Qubro memiliki dua anak, yaitu Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq, yang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa. Syekh Jumadil Qubro kemudian tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai. Dengan demikian, beberapa Walisongo yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya; sedangkan Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kudus adalah buyutnya. Hal tersebut menyebabkan adanya pendapat yang mengatakan bahwa para Walisongo merupakan keturunan etnis Uzbek yang dominan di Asia Tengah, selain kemungkinan lainnya yaitu etnis Persia, Gujarat, ataupun Hadramaut.
Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di desa Turgo (dekat Pelawangan, Puncak pegunungan Turgo sekitar Merapi, Yogyakarta). Belum diketahui yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya.



Tanggal 4 Agustus 2007, sabtu malam minggu sekitar pukul 19.00 aku berangkat ke makam KH Cudhori tegalrejo magelang untuk berziarah dan sowan (menghadap) KH Durrahman Kudhori. Aku memang punya maksud lain datang ketempat itu untuk menemui teman musyafir yang datang dari jawa timur tepatnya lamongan namun dia lama nyantri di beberapa pondok pesantren, dan salah satunya di Kudus, Demak untuk mengafalkan Al Quran.
Aku bertemu dengannya memang tanpa sengaja di makam KH Dalhar Gunung Pring, Muntilan saat dia singgah 41 hari dan menghatamkan 13 kali Al Quran, waktu itu aku juga sedang ngaji di Gunung Pring 41 hari juga karena aku malas pulang dan suka tidur diluar rumah mendingan aku bermalam di gunung Pring lagian disana ada koprasi santri yang buka 24 jam jadi untuk urusan makan dan minum bisa terjamin. Setiap malam-malam yang kulalui aku hanya diteman dengan seorang teman namanya sastro
Waktu tanpa terasa berlalu dengan cepat aku sudah 21 hari ngaji di gunung pring, bertepatan dengan itu datanglah seorang musyafir dari jawa timur. Musyafi yang berniat menghafal Al Quran itu biasa di sebut kang Gondrong menurutnya dia telah berjalan menelusuri pulau jawa dan sumatera dan dilakukan jalan kaki. Hari pertama pertemuan aku belum begitu menanggapi tapi seiring berjalannya waktu dan seringnya aku ngobrol masalah hukum dikitab-kitab aku jadi dekat dengannya. Hukum sunah dan hukum wajib dalam ajaran Islam yang semakin lama semakin ditinggalkan antaranya beberapa syariah tentang tata cara tahlil, berziarah, berpakaian dengan tata cara agama serta bagaimana cara menghindari hidup kita dari fitnah. Kami juga membandingkan antara ilmu logika marx, higel dan tan malaka dengan beberapa kitab yang pernah dia pelajari.
Kang Jalil memang ahli dalam bidang kitab dari bab sufi sampai bab tafsir Al Quran, di tambah lagi dengan beberapa pengalaman dan kepandaianya untuk hidup di jalan yang terkenal keras dan penuh maksiad. Menghadapi beberapa masalah yang ada dalam setiap perjalanan yang kang jalil lewati menorehkan banyak cobaan yang dia hadapi sebagai musyafir yang bertujuan untuk menghafal Al Quran. Entah pada malam keberapa saya, kang jalil dan beberapa orang yang sedang berziarah ke makam KH Dalhar ngbrol membicarakan beberapa wali dan syekh yang ada di pulau jawa ini, sampai ada yang membicarakan bukit turgo yang diatasnya ada makam syekh Jumadil Qubro yang dikenal sebagai bapak dari Maulana Malik Ibrahim tokoh tertua dari cerita Wali Songo.
Sebuah pemikiran pun tumbuh bagikan benih tumbuhan yang terus bermekaran dalam sarang otak. Tiba-tiba aku dan kang Jalil mempunyai pikiran untuk berziarah ke makam Syekh Jumadil Qubro setelah kang jalil menyelesaikan hafalaSebuah pemikiran pun tumbuh bagikan benih tumbuhan yang terus bermekaran dalam sarang otak. Tiba-tiba aku dan kang Jalil mempunyai pikiran untuk berziarah ke makam Syekh Jumadil Qubro setelah kang jalil menyelesaikan hafalannya yang ke13 dimakam KH Dalhar dan pergi ke KH Nur Muhammad serta mamir kerumah teman saat dia nyantri di Kudus, dan ternyata temannya itu aku juga kenal. Sekalian saja kang jalil ku ajak kerumahku dan kuantar ketemannya.
Selang 2 hari dari pertemuan antara kang jalil dengan temannya itu aku dengar kabar kalau kang jalil berada di jejeran Bantul tuk tiga hari. Dan hari sabtu tanggal 4 agustus kemarin kang jalil sudah berada di magelang lagi tepatnya di Tegalrejo dirumah teman saat dia nyantri di Cirebon. aku di SMS sore kang jalil memberikan kabar keberadaannya dan menayakan jadi tidak kita pergi ke Turgo? Aku langsung menelfon dia dan menyatakan sanggup. Sekitar jam 20.00 aku sudah berada di Tegalrejo.
Kami bertiga berangkat keturgo sekitar pukul 22.00 jadi sampai dikakibukit jam 23.00. kami langsung membangunkan jurukunci untuk menitipkan kendaraan tanpa menunggu lama kami bertiga langsung naik kebukit Tugo berbekalkan senter Korek yang penerangannya sangat terbatas. Dalam setiap perjalanan kami sempat merasakan beberapa suasana yang berbeda-beda. Saat kami mau masuk ke gerbang jalan ke makam entah mengapa perasaan dan hati kami berdetak kencang diikuti berdirinya bulu kuduk kami. Suasana mistis sangat kental tapi kami tidak begitu nenghiraukannya langkah tetap diteruskan sekitar setengah perjalanan kami menemukan dua batang kayu yang kering sudah siap bakar kami beranggapan diatas banyak batuan serta bisa kita gunakan untuk api unggun agar tubuh kami bisa hanggat.
Perjalanan pun usai kami sudah berada di puncak bukit itu tapi sebelum kami ke makam syekh Jumadil Qubro kami menemukan sebuah Gua yang oleh masyarakt sekitar di sebut Goa Jepang karena merupakan salah satu peninggalan jepang saat penjajahan waktu dulu untuk penjagaan keamanan wilayah Yogyakarta dan sekitar dari serangan sekutu. Kami hanya melihat dari luar dan langsung naik kemakam. Heran bukan kepalang ternyata di atas bukit ini ada satu makam yang sudah dibangun dengan megah. Kami langsung naik dan melepaskan letih sejenak sambil membakar sebatang rokok. Sekitar jam 01.30 dini hari kami bertiga mulai TAHLIL sambil diterangi cahaya bulan. Satu jam untuk TAHLIL dan menghafal AL Quran kami pun selesai berniat untuk tidur agar besok saat kami turun badan kami sudah fit.
Entah mengapa malam itu aku tertidur paling pules sedangkan Sasto dan Kang Jalil hanya tidur sayu sampai subuh.




Read More......

Bendera "Agustus Part III"


Merah Putih bendera Negara Indonesia yang merupakan simbul dari semangat perjuangan Negara Republik Indonesia. Merah yang merupakan lambing dari keberanian dan semangat sedangakan keiklasanya atau suci dilambangkan dengan warna putihnya. Bendera yang ijahit oleh ibu Fatmawati yang merupakan istri pertama proklamator Ir Soekarno telah berhasil dikibarkan dengan semangat perjuangan dan perebutan yang sarat dengan pengorbanan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur hari jumat pukul 10.00 wib.

Bendera yang pertama kali dikiarkan pada hari jumat itu mengartikan keberanian dengan jiwa yang suci melawan penjajah untuk memperjuangkan kemerdekaan. Pada waktu itu Indonesia yang sedang mengalami kekosongan kekuasaan telah dapat dimanfaatkan oleh para pemuda Indonesia untuk mengikrarkan kemerdekaan yang sempat terjadi polemik yang panjang di Rengasdengklok. Yang merupakan perpaduan pikiran dari Pemuda bentukan jepang BPUPKI dan Pemuda golongan muda BPKI. Perdebatan yang berbuntu ke penculikan soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk merumuskan teks proklamasi yang diikrarkan pada 17 Agustus 1945 itu merupakan awal dari perjuangan Indonesia.
Bendera yang dikibarkan sebagai pemersatu seluruh bangsa Indonesia yang merasakan senasib dan sepenanggungan bersatu padu dan saling membantu mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru saja diikrarkan. Sehingga apa yang menjadi tanggungan bangsa Indonesia dapat dirasakan bersama.
dalam perjalanan Indonsia Merdeka yang ke 62 tahun ini sudah banyak sekali masalah-masalah yang sudah teratasi dan yang belum diatasi sama sekali.


Read More......

Friday, August 3, 2007

Menorah asal penjajah Agustus Part II

Dagang, merupakan penggerak ekonomi yang sangat besar dari situ juga asal mulanya terjadi penjelajahan samudara disamping telah ditemukannya penemuan-penemuan baru didunia barat sekitar abad 16-20. Dengan perkembangan perekonomian dan teknologi yang tinggi mendorong orang-orang barat seperti portugis, inggris, belanda dan Negara eropa yang lain berlomba-lomba untuk membuktikan perkembangan teknologinya sehingga sampai adanya penjelajahan samudera.
Ketika Negara eropa telah masuk diindonesia tepatnya di daerah Malaka, Portugis adalah salah satu Negara eropa yang datang pertama kali di Selat Malaka sebagai pedagang dan itu merupakan penemuan besar bagi Negara-negara barat karena waktu itu bumi Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah disamping itu perkembangan politiknya juga sebatas didunia kerajaan saja. Beberapa waktu orang-orang portugis ini memang baik karena mereka hanya membeli rempah-rempah dari petani dengan harga tinggi ‘anggap orang pribumi’ sedangkan bagi orang eropa merupakan harga yang sangat murah.


Tidak begitu lama Negara lain yang datang portugis adalah inggris tetapi mereka tidak hanya bertujuan menjari rempah-rempah saja tetapi mereka juga memiliki tujuan lain dengan menyebarkan agama nasrani, dan memperlebar kekuasaan. Untuk itu inggris sempat memonopoli pembelian rempah-rempah disekitar malaka untuk djual kembali di negaranya dengan harga yang tinggi. Setelah itu Negara-negara eropa lain menyusul.
Belanda yang paling lama dan yang paling lama berada di Indonesia karena kepandaiannya berpolitik dan penanaman pengaruh yang besar terhadap pribumi melalui badan dagang VOC. Dengan monopoli perdagangan dan dominasi politiknya di Kepulauan Nusantara belanda sukses besar biarpun mendapat perlawanan dari para Raja, bangsawan Istana bahkan perlawanan-perlawanan local yang merupakan pemberontakan petani Nusantara.
Dengan konsulidasi politik PAX NEERLANDLICA dan perubahan setruktur yang dilakukan belanda tidak dengan mudah menenangkan tradisi perlawanan, kemudian ini yang menjadikan kekuatan yang paling tegar dalam Nasionalisme Indonesia sehingga menjadi dorongan idiologis untuk menemukan kebudayaan Nasionalisme sesungguhnya. Nasionalisme bukan semata-mata menolak keberadaan dominasi asing dibumi nusantara tetapi bagaimana cara belajar kita terhadap sejarah dan tata social yang mandiri. Karena itu asal-usul nasinalisme Indonesia tidak dapat dicari dari berbagai corak perlawanan tradisional tetapi bagaimana keseluruhan orang-orang dari beberapa daerah bahkan pulau dapat bergaul dan merasa senasib sepenanggungan sampai menumbuhkan komunitas baru yang dapat berfikir Nasionalis secara menyeluruh Nusantara.
Keinginan bersama dalam emansipatoris nasionalisme ini mendapatkan saluran dengan berdirinya Boedi Utama tanggal 20 Oktober 1928. Dengan selogan sumpah pemuda yang diikrarkan tanggal 28 Oktober 1928 dengan itu paradikma baru wacana politik dan kultur telah ditemukan. Sumpah yang membenarkan sifat etnis-etnis dari nasionalisme Indonesia secara tidak langsung mengesahkan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Indonesia dan mendorong pergerakan kebangsaan seluruh Nusantara, peristiwa itupun memunculkan beberapa tokoh nasionalisme seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, tan Malaka dan banyak lagi. Biarpun tidak beberapa lama mereka telah diasingkan dibeberapa daerah luar jawa bahakan tan malaka diasingkan diluar negeri tepatnya hongkong cina tetapi dengan seangat perjuangan di Hongkong Tan malaka malah berhasil menyelesaikan tulisanya dan dibukukan yang diberi judul”MADILOG” buku yang mengiahkan beberapa cara untuk menjadikan rakyat Indonesia maju dan mandiri degan Matrealisme, Dialektika dan Logika dengan mengambil beberapa pemikir barat seperti Marx, Higel, dll yang mengedepankan masalah dengan cara yang logis. Bahkan dari buku tersebut telah dijelaskan bagaimana cara berfikir yang ideal dan bertanggung jawab dengan penjabaran tesis, anti tesis dan sintetis yang merupakan pola alur berfikir yang logis

Read More......

Wednesday, August 1, 2007

Agustus "Part I"

Hini rabu tanggal 1 agustus 2007, warga indonesia secara otomatis akan merayakan hari kemerdekaan ini. tahun ini indonesia sudah berumur 62 tahun sudah banyak peristiwa yang menemai perjalanannya. memang di usia yang 62 tahun ini indonesia sudah berkembang sangat pesat, dari segi ekonomi, pilitik, budaya, serta pendidikan yang semakin hari semakin mahal.

Proklamator Ir Soekarno yang membacakan teks proklamasi pun sudah lama meninggal dunia dan telah dimakamkan diblitar, setelah itu pun Moh Hatta orang yang ikut menandatangani teks itu juga sudah meninggal. sampai sekarang dua tokoh proklamator itu masih diagung-agungkan oleh masyarakat. setiap bulan agustus seperti ini masyarakat indonesia biasanya sering mengadakan beberapa acara seperti lomba, hiburan, dan beberapa acara yang menunjukkan rasa nasionalisme. Agar masyarakat Indonesia mempunyai rasa nasionalisme seperti Proklamator kita.
teks proklamasi yang telah ditandatangai dan dibacakan oleh soekarno sekarang sudah mulai didengungkan lagi oleh masyarakat. tempat yang dulu untuk ploklamir kemerdekaan pun sekarang sudah dibangun megah.


sejarah telah ada dan banyak dituliskan oleh para sejarahwan, dari profil pahlawan sampai pejalanan kemerdekaan Indonesia pun sudah banyak biarpun ada beberapa fersi yang beberbeda agar masyarakat dan generasi muda dapat mengingat para pahlawan yang berjuang untuk negara Indonesia ini.

globalisasi pun sudah bergema dari segala bidang tidak lepas juga dalam bidang pendidikan globalsasi sudah sangat merasuk dan mempengaruhi generasi muda rasa nasionalisme semakin pudar karena generasi muda sudah jarang sekali membaca buku-buku pahlawan yang ada. saat ini pahlawan yang mereka kenal adalah tokoh-tokoh animasi yang diciptakan orang-ornag barat. memang ada beberapa yang masih menekuni baca buku pahlawan kita tapi dalam kenyataan dilapangan mereka pun seakan meninggalkan jasa pahlawan Nasional.

apakah kita harus menyalahkan globalisasi yang tidak mungkin dihindari ini, atau kita merenung lagi apa yang sebenarnya terjadi dikehidupan bangsa ini. apakah kita harus mulai dari awal lagi itu tidak mungkin, ataukah negara kita belum lepas dari pejajahan yang telah bermetamorfosis ini.

untuk semua masalah itu tidak akan lepas dari dunia pendidikan yang semakin ruwet ini.





Read More......

Monday, July 2, 2007

Perjalanan 41. PART I

akhir-akhir ini suasana malam sangat dingin tapi pikiranku terasa panas dan pusing, ada beberapa masalah yang menjadi tanggunganku padahal saya sendiri tidak tahu menahu. Terasa sesak didada dan sempitkan pikirku apa yang aku alami sebagai seorang muslim saya terpaksa tertuduh mencuri padahal hal itu belum pernah aku lakukan. Sampai menjadi sebuah permasalahan yang membingungkan antara teman, organisasi dan cinta. Pikiran begitu penat ditambah aku yang harus menanggung semua ini gak ada tempat untukku berlabuh saat itu aku terpaksa pulang dan bercerita ke ibu dan bapakku.

Ibuku pun menyarankanku untuk sowan ke pak kyai, tanpa pikir panjang aku menemui kyai itu dan menceritakan permasalahanku tanpa terasa aku udah bercerita sekitar 2 jam.pak kyai itu pun terdiam sejenak dan memberiku beberapa petunjuk dan saran untuk menyelesaikan masalahku, ada beberapa yang memang sudah aku lupakan dan lama kutinggalkan dalam beberapa bulan akhir-akhir ini, yaitu aku lupa siapa diriku sebagai seorang muslim yaitu saya sering meninggalkan shalat dan dzkir bukan itu saja saya malah sama sekali lupa untuk ziarah kubur ke kakek dan nenekku biarpun untuk sekedar mengirimkan doa Al Fatekah untuk mereka yang telah mendahului kita.

Sehingga saya disuruh untuk berziarah ke beberapa makam ulama yaitu KH Nur Muhammad, KH Dalhar, KH Raden Santri, KH Raden Syahid.aku selama 41 hari harus mengirim hadiah AL Fatekah sebanyak 41 bacaan beserta tahlilnya sehingga selama 41 hari aku tidak tidur, bukannya badan sakit karena kurang tidur tetapi saya menemukan beberapa pemecahan yang selama ini menimpaku pelan-pelan aku mulai berfikir dan bertindak untuk mergerak bangkit dari keterpurukan ini.
secara sadar dan penuh pertimbangan aku bergerak mencari kebenaran akan semua permasalahanku memang ada beberapa yang membuatku untuk curiga keteman sendiri tapi apa yang kupikirkan jarang bisa diterima orang lain bahkan teman-temanku sendiri.

jadi aku bangkit dan berusaha mempertahankan harga diriku hanya sendiri, tanpa teman.

Read More......

Monday, June 25, 2007

CINTA BERSEMI

Bagai matahari yang terbit waktu fajar di ufuk timur
Sinar cahanya menerangi rerumputan hijau
dan bunga yang berkuncup di atas puncak gunung mimpi
Lalu ia akan bermekaran, menebarkan semerbak aroma wangi alam segar
Kumbang pun akan berterbangan menikmati madu yang menggoda
Langit biru terbentang luas dihiasi awan putih yang lembut
Burung pun berkicau merdu, sambil mengepakkan sayap putihnya
Awal yang indah dalam setiap sanjungan cinta

Apalah arti sebuah cinta?
Cinta selalu datang dan pergi dengan cepat, tak kunjung habisnya
Kala cinta mengundang kebahagian, hati ini berkembang
Kadang aku terpaku dalam buaian kasih terpuja
Dalam bimbang, hati ini menaung. Memeluk sabda abdi terucap.
Kala cinta ini dibubuhi pupuk, akarnya menjadi kekal
Cinta itu akan duduk di atas singgasana dewa, menyingkirkan
selir-selirnya
Kala cinta ini pupus, dunia akan terguncang ganas dalam isak tangis pedih
Ragaku terkoyak rapuh. Hati ini tercabik-cabik oleh celurit tajam.
Tertatih menahan hasrat abadi. Meronta-ronta merenggut kesetiaan.
Terbelalak dalam terpaan angin kencang.
Terjerat oleh ucapan manis semata. Pekikan tangis yang meraung-raung, arungi suara gema yang tak tersaji
Jiwaku s'lalu menuai harapan yang s'lalu tergusur oleh isyarat kebencian

"jiwaku lunglai langkahku lemas saat menjauh darimu rin"

Read More......

Thursday, June 7, 2007

Keterbatasan Logika Formal

Mendifininisikan logika sebagai sebuah ilmu proses berpikir dalam hubungannya dengan semua proses yang lain di dunia ini. Kita telah belajar mengetahui dua sistim penting dalam logika: logika formal dan logika dialektik
Apa itu logika formal? Kita telah belajar memahami bahwa logika formal adalah cara berpikir yang didominasi oleh hukum identitas, hukum kontradiksi dan kukum tak ada jalan tengah ( excluded middle). Kita telah paham bahwa ketiga hukum fundamental logika formal tersebut memiliki isi materi dan basis objektif; yang dirumuskan secara eksplisit berdasarkan logika instinktif yang ada pada akal sehat; yang bersisikan aturan-aturan berfikir dalam kehidupan borjuis.

Apa hubungan antara logika formal dan logika dialektik? kedua sistim berfikir tersebut tumbuh dan berhubungan di dua tahap yang berbeda dalam perkembangan ilmu-pengetahuan berfikir. Logika formal berkembang secara dialektik dalam evolusi sejarah logika, seperti yang biasa terjadi dalam perkembangan intelektual seseorang. Kemudian logika dialektik muncul sebagai kritik terhadap logika formal, menjatuhkan dan menggantikannya. Logika dialektik menjadi lawan yang revolusioner, mengambil alih dan menjadi solusi.

Dalam pelajaran kedua ini, kita berharap bisa mengungkap keterbatasan logika formal, dan mendapatkan bagaimana dialektika bangkit karena ujian kritis terhadap ide-ide fundamentalnya. Saat ini kita telah memahami apa yang menjadi dasar logika formal, dan apa yang dicerminkannya dari realita, mengapa menjadi penting dan bermanfaat bagi proses berfikir, dan sekarang kita akan melangkah lebih jauh lagi untuk melihat apa yang menjadi distorsi dalam logika formal serta apa yang harus ditolak dari logika formal. Kita akan melihat sisi yang tak bermanfaat dari logika formal.

Dalam langkah selanjutnya dari investigasi kita, kita tak akan mendapatkan hasil negatif yang bisa dijadikan alasan keraguan kita sehingga harus menolak seluruh bagian dari logika formal. Sebaliknya, justru kita akan mendapatkan hasil yang paling positif. Walaupun terdapat beberapa kekurangan dalam logika formal, namun terdapat juga beberapa karakter penting yang bisa diambil dari logika formal yang bisa menyempurnakan logika penggantinya, logika dialektik. Sehingga dalam proses pembelahan logika elementer dan pemisahan unsur yang absyah dari yang salah, kita bisa mendapatkan sebuah landasan bagi dialektika. Tindakan kritis dan kreatif, negasi dan affirmasi, saling bergandengan sebagai dua sisi dari proses yang sama.

Kedua gerak penghancuran dan pembentukan dilahirkan tidak saja dalam evolusi logika tapi juga dalam semua proses. Setiap lompatan ke depan, setiap tindakan kreatif melibatkan penghancuran. Agar dapat lahir, seekor anak ayam harus memecahkan kulit telor yang membungkusnya, yang telah menjadi tempat tinggal dan sumber kehidupan pada tahap tertentu. Sehingga, agar mendapatkan ruang bagi kebebasannya dan melanjutkan perkembangan selanjutnya, ilmu berpikir harus menghancurkan kulit pembungkus logika formal.

Logika formal selalu mulai dengan preposisi:
A adalah selalu sama dengan A. Kita mengakui bahwa hukum tentang identitas ini mengadung beberapa kebenaran, yang merupakan sebuah fungsi yang tidak bisa dipisahkan dalam pengetahuan berfikir, dan yang selanjutnya digunakan dalam peradaban mansuia di dalam kegiatan sehari-harinya. Tapi sejauh mana kebenaran hukum tersebut? Apakah hukum tersebut bisa terus menjadi penuntun dalam realitas yang menjadi lebih kompleks? Demikian lah, pertanyaan selanjutnya.

Pembuktian salah benarnya setiap preposisi diperoleh dengan melihat realitas objektif dan praktek nyatanya, derajatnya dan isi konkrit yang terkandung dalam preposisi tersebut. Apa kah isinya berhubungan dengan sebuah output yang bisa dihasilkan oleh realitas, sehingga preposisi itu menjadi benar. Jika tidak, maka preposisi tersebut tidak bisa dibenarkan.

Sekarang apa yang bisa kita dapat saat harus berhadapan dengan realitas, bukti apa yang bisa membenarkan kebenaran preposisi: A sama denan A? Ternyata, tak ada sesuatu pun dalam realita yang secara sempurna sama dengan isi preposisi tersebut. Sebaliknya, kebalikan dari aksioma tersebut jauh lebih mendekati pada kebenaran.

Bagaimanapun kita berusaha membuktikan bahwa A sama daengan A—ternyata, kita tidak bisa berhasil secara sempurna. Seperti kata Trotsky: "...meneliti dua huruf tersebut di bawah sebuah lensa pembesar—satu dengan yang lainnya sama sekali berbeda. Namun, orang bisa saja berkeberatan, karena hal-hal lain (misalnya) semata-mata merupakan simbol bagi kuantitas-kuantitas yang sederajat, contohnya, satu pon gula, masalahnya bukan ukuran atau bentuk dari huruf-huruf tersebut."

"Di samping kecurigaan ekstrim pada nilai praktis. Hal tersebut juga menunjukan ketidakkritisan teoritis. Bagaimana dengan momentum? Hal yang pertama tentu berbeda momentumnya dengan hal yang kedua karena segalanya ada dalam kurun waktu tertentu. Waktu adalah sebuah unsur yang paling fundamental bagi keberadaan. Sehingga aksioma A sama dengan A akan berlaku jika tidak ada perubahan, jika tidak, maka aksioma tersebut tidak akan berlaku"

Itu lah sebabnya beberapa pembela logika formal mencoba membela diri dengan berkata: memang benar hukum identitas tidak bisa absolut, tapi itu tidak berarti kita dapat menolak prinsip tersebut. Kebenaran tersebut adalah absyah walaupun tidak berhubungan dengan realitas. Posisi mereka tidak bisa memahami kontradiksi; justru, dengan demikian, semakin menunjukkan bahwa, dalam pandangan mereka, hukum identitas tersebut hanya berlaku sejauh tidak berhubungan dengan realitas, dan jika berhubungan dengan realitas maka hukum tersebut justru akan mendatangkan kesalahan-kesalahan tertentu.

Seperti yang di kemukakan oleh Trotsky: "Aksioma A sama dengan A menunjukkan suatu titik keberangkatan menuju ke keseluruhan kebenaran pengetahuan kita namun, di sisi yang lain, juga merupakan titik keberangkatan menuju ke keseluruhan kesalahan pengetahuan kita." Bagaimana mungkin sesuatu hal, yang ada dalam hukum yang sama, menjadi sumber bagi kedua pengetahuan—pengetahuan yang salah dan pengetahuan yang benar? Kontradiksi tersebut dapat dijelaskan oleh fakta bahwa hukum identitas memiliki dua sisi karakter: kesalahan dan kebenaran. Hukum identitas memiliki kebenaran pada batas-batas tertentu. Batasan tersebut dikarenakan karakter esensialnya, yang ditunjukkan oleh perkembangan aktual obyek pertanyaannya. Di sisi lain, dilihat dari tujuan praktis cara pandang tertentu.

Sekali waktu, batasan-batasan tersebut muncul, sehingga hukum identitas tidak lagi tepat dan berbelok menjadi kesalahan. Semakin jauh kita maju tanpa pegangan batasan tersebut, semakin jauh pula hukum identitas tersebut menyeret kita membelok dari kebenaran. Hukum yang lain mungkin akan mengoreksi kesalahan yang semakin banyak tersebut, namun tidak terlepas juga kemungkinannya akan masuk ke persoalan yang lebih kompleks dan yang lebih baru lagi.

Mari kita lihat contohnya. Dari Albany ke New York hanya disusuri oleh sungai Hudson, tak ada yang lainnya. A selalu sama dengan A. Dengan keterbatasan tersebut akan sulit untuk memastikan bahwa sungai Hudson tersebut merupakan satu-satunya sumber air yang ada, dan sama dari hilir sampai muara, sungai Hudson. Setelah sampai di muara pelabuhan New York, ternyata sungai Hudson telah kehilangan identitasnya dan menyatu dengan Samudra Atlantik. Sedangkan air Sungai Hudson, terpecah menjadi beberapa anak-anak sungai yang lain yang, walaupun berasal dari mata air yang sama, tapi memiliki identitas yang berbeda-beda dan materi yang berbeda pula, jauh berbeda dengan sungai Hudson itu sendiri. Sehingga di kedua tempat tersebut—sumber mata air dan muaranya—identitas Sungai Hudson menghilang, tak lagi seutuhnya sama.

Demikian pula halnya dengan kemungkinan hilangnya identitas di sepanjang sungai Hudson tersebut. Identitas sungai tersebut tergantung pada kedua sisi parit yang menahan aliran airnya. Namun, jika sungai tersebut pasang atau surut, atau jika terjadi erosi, maka parit tersebut akan berubah. Hujan dan banjir akan merubah batasan-batasan sepanjang sungai itu secara permanen atau sementara. Walaupun sungai tersebut tetap bernama Hudson, namun isinya tak akan pernah berupa air yang sama. Setiap tetesnya sudah berbeda. Oleh karenanya, sungai Hudson tersebut terus berubah identitasnya setiap saat.

Atau coba kita lihat contoh Dolar yang di kemukakan Trotsky. Kita biasanya mengasumsikan bahwa mata uang Dolar adalah mata uang Dolar itu sendiri. A sama dengan A. Tapi kita mulai sadar sekarang bahwa Dolar sekarang berbeda nilainya dengan dolar pada waktu yang lampau. Dolar tersebut semakin berkurang nilainya. Pada tahun 1942 kemampuan dolar hanya tiga perempat kemampuan pada tahun 1929.

Sepertinya, dolar tidak berubah dan hukum identitas masih bisa di gunakan, tapi, pada saat yang sama, nilainya juga sudah berubah.

"Pemikiran ilmiah kita hanya lah salah satu bagian dari keseluruhan tindakan praktek kita, termasuk teknik-teknik. Dalam konsep-kopsep, eksistensi "toleransi" juga diperkenankan. Toleransi tersebut ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma A adalah sama dengan A, tapi dengan logika dialektik yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah. "Akal sehat" dikarakterisasi oleh kenyataan bahwa ia secara sistematis melampaui "toleransi" dialektik."

Dalam bengkel kerja, toleransi diukur di setiap seperseratus sampai seperseribu setiap incinya, tergantung hasil kerja yang hendak diperolehnya. Sama halnya dengan kerja otak dan konsep-konsep peralatannya. Bila batas atau marjin toleransi kesalahan sudah bisa disetujui, maka hukum logika formal dapat berlaku. Tapi pada saat tidak diizinkan oleh toleransi, maka sebuah alat baru harus dibuat untuk memenuhi batas toleransi yang diperbolehkan. Dalam lapangan produksi intelektual, peralatan tersebut adalah logika dialektik.

Hukum identitas bisa diterapkan dalam toleransi dialektik pada dua arah yang bertentangan. Misalnya, toleransi minimum dan toleransi maximum, sehingga hukum identitas tersebut akan berlangsung semakin absyah atau kurang absyah seperti yang dicontohkan oleh deflasi. Satu Dolar nilainya berlipat, sehingga A tidak sama dengan A, tapi lebih besar dari A. Dan dalam contoh inflasi maka, sekali lagi, satu Dolar tidak sama dengan satu Dolar sebelumnya, menjadi setengahnya. Sekali lagi A tidak sama dengn A, tapi setengah A. Dalam beberapa kasus, hukum identitas tidak lagi menjadi benar tapi menjadi semakin salah, tergantung pada jumlah dan karakter khusus perubahan nilai yang ada. Selain A = A, kita juga melihat kemungkinan A = 2A atau 1/2A.

Perhatikan bahwa kita mulai menguji hukum identitas: A adalah yang kita uji. Yang kita dapatkan, kontradiksi: benar bahwa A = A; tapi benar juga A tidak sama dengan A dan, tambahannya, A bisa menjadi 2A atau 1/2A.

Cara tersebut membuat kita lebih mengenal A. A ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan, pasti, tidak berubah seperti yang dianut oleh akhli logika formal. Mereka hanya melihat penampakannya saja. Dalam kenyataanya, A sangat kompleks dan bisa kontradiktif. Tidak hanya A tapi menyangkut semua hal. Kita tidak bisa menangkap A yang sama karena setiap saat A tersebut berubah menjadi berkurang atau bertambah.

Kau mungkin bertanya: kalau begitu, sebenarnya apa itu A? Jawaban dialektiknya adalah A adalah A atau Non-A. Jika kau melihat A seperti akhli logika formal maka kau hanya akan melihat satu sisinya saja, sisi negatifnya. A sama dengan A adalah sebuah abstraksi yang tidak dapat secara penuh menjadi kenyataan atau ditemukan dalam realitas. Abstraksi tersebut berguna sepanjang kau mengerti batasan-batasannya, dan jika batasan telah tercapai maka segera kita akan mengabaikan logika formal tersebut untuk mendapatkan kebenaran final. Hukum dasar identitas bisa dipegang sebagai cara pandang dan untuk bertindak sehari-hari, tapi hukum itu harus digantikan dengan hukum yang lebih dalam dan kompleks.

Para akhli mekanik akan bertanya: mengapa harus ada batas, apakah peralatan yang dimiliki dalam mekanika telah mencakup kebenaran? Segala hal berlaku dalam kondisi tertentu dan dalam operasi tertentu: sebuah potongan, lengkungan, pendalaman dan lain sebagainya, semuanya ditempatkan pada setiap tahapan proses produksi industri. Kelas buruh menentang batasan-batasan yang nyata dalam setiap peralatan dan mesin. Mereka berhasil mengatasi batasan-batasan tersebut dengan dua cara: menggunakan peralatan yang lain atau mengkombinasikan beberapa peralatan dalam proses produksi.

Berpikir secara esensial merupakan produksi intelektual, dan keterbatasan peralatan berpikir akan menghasilkan cara yang sama. Pada saat kita mentok dengan logika formal maka kita harus menggunakan logika lainnya, yakni logika dialektik, atau mengkombinasikan logika formal dengan logika dialektik untuk mendapatkan kebenaran. Itu lah yang disebut dialektika. Sama seperti peralatan-peralatan di pabrik yang harus dikombinasikan agar bisa mengoperasikan pabrik tersebut. Jadi, kalau kita menginginkan hasil yang paling tepat dalam produkis intelektual kita, maka kita harus mengembangkan ide-ide dialektika itu sendiri.

Jika kita kembali pada abstraksi awal, A sama dengan A, maka kita melihat bahwa ada sebuah kontradiksi dalam perkembangannya. A adalah berbeda dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain, A selalu berubah dan perubahan tersebut ke segala arah. A selalu berkembang menjadi berlebih atau berkurang dari A sebelumnya.

Perubahan tersebut memiliki nilai kwalitas tertentu, yang berbeda dari yang sebelumnya, sehingga perlu juga membandingkan kwalitas awal dan kwalitas yang berikutnya dari sesuatu hal yang terus berubah.

Sungai Hudson yang kehilangan identitasnya, menjadi bagian dari samudara atlantik; atau seperti yang terjadi pada mata uang. Mata uang yang semula koin yang bernama mark Jerman telah menjadi kertas cetakan. Dalam bahasa aljabar, A menjadi Minus A. Dalam bahasa dialektikanya perubahan kwantatif menghancurkan kwantitas yang lama sehingga menjadi kwalitas yang baru. "Menentukan titik kritis pada saat yang tepat, saat kwantitas berubah menjadi kwalitas, adalah merupakan suatu tugas yang paling penting serta paling susah di dalam semua bidang pengetahuan, termasuk sosiologi."

Salah satu dari problem sentral ilmu logika adalah mengetahui dan memformulasikan hukum tersebut. Kita harus mengerti bagaimana perubahan kwantitas akan mendatangkan kwalitas baru dan sebaliknya.

Kita tiba pada satu kesimpulan. Pada saat hukum identitas secara tepat mencerminkan bentuk tertentu realitas, hukum itu juga mendatangkan distorsi kesalahan dalam mencerminkan hal yang lainnya. Lebih jauh lagi, aspek yang salah tidak bisa mencerminkan kenyataan objektif yang ada. Campuran setiap partikel fakta jeneralisasi logika yang mendasar bisa memiliki sisi kesalahan yang serius. Hasilnya, instrumen kebenaran menjadi kesalahan umum.



Read More......

Tuesday, May 29, 2007

Jalan

Malam ini
Inginku lari
Menapak kejalan
Yang teramat lurus
TERhias lampu kota
Berjejer dalam kegelapan
Aku dipaksa lari dan terus berlari

Menerpa keegoisan
Dalam kegelapan
Sendiri dalam sepi
Apa aku salah dengan ini

langkah tanpa arah
berbelok tanpa tujuan
aku terhempas dalam kekaguman
keindahan yang sangat




Read More......

Monday, May 21, 2007

Logika Pun Di Pertanyakan

Perjalanan untuk menciptakan berbagai peristiwa-peristiwa yang belum kita ketahui, saya harap akan menguji-coba beberapa proposisi sederhana anda sendiri untuk mengetes penangkapan anda terhadap perbedaan antara proposisi analitik dan sintetik itu. Dewasa ini sebagian filsuf mengira bahwa terdapat begitu banyak proposisi yang sulit untuk dinyatakan sebagai analitik atau sebagai sintetik sehingga keseluruhan pembedaannya sia-sia. Akan tetapi, saya yakin “kawasan abu-abu” sedemikian itu hanya menimbulkan masalah bila kita lalai untuk melihat konteks proposisi, atau bila kita lalai untuk menerapkan setiap pedoman Kant dengan kehati-hatian yang memadai. Namun bagaimanapun, itu bukan persoalan yang bisa kita pecahkan.

Khan pun mengunakan beberapa logika yang ingin di buktikannya yaitu logika kapitalisme yang terbukti gagal ( Pemikiran Karl Mark). Logika menurut runtutan waktu sangat diperlukan untuk mengungkap beberapa kasus dimana kasus tersebut memiliki barang bukti yang cukup dan kuat untuk mengatakan keputusan.

Ada beberapa logika formal yang memiliki kelemahan mendasar dalam berfikir dalam penerapannya di sejarah

Tuntutan Logika Formal: Semesta Tidak Berubah
Pertama sekali, logika formal menolak suatu gerak, perubahan dan perkembangan dalam realitas. Penolakan tersebut tidak secara eksplisit ditujukan pada keberadaan realitas. Tapi, secara tak langsung, yakni, hukum-hukumnya menolak implikasi penting logika internalnya.
Seperti yang dikemukan oleh hukum identitas, jika setiap hal sama dengan dirinya maka, seperi yang ditunjukkan oleh hukum kontradiksi, tak ada yang tidak sama dengan dirinya, semuanya sama. Tapi ketidaksamaannya merupakan manifestasi dari perbedaan—dan, sebenarnya, perbedaan mengindikasikan operasional perubahan. Jika semua perbedaan ditolak maka tidak akan ada gerak dan perubahan itu sendiri, oleh karenanya tidak ada alasan menjadi berbeda.
Jika logika formal ingin mendapatkan sisa kebenaran dirinya, bukan lah dengan menolak keberadaan nyata dan rasionalitas gerak. Tak ada tempat bagi perubahan di dunia ini yang bisa diterima oleh atau digambarkan oleh logika formal. Tak ada gerak dalam dirinya. Tak ada ledakan logis dalam hukum-hukumnya yang dapat melewati dan masuk ke dunia nyata. Tak ada dinamika dari dunia luar yang mendorong segala hal keluar dari kondisinya yang sekarang guna menghasilkan formasi baru. Gerak digambarkan atau ditunjukkan sebagai realisme statistik, yang segalanya membeku di tempatnya masing-masing.
Mengapa formalisme tersebut memunggungi realitas? Karena gerak memiliki karakter kontradiksinya sendiri. Seperti kata Engels: ”…bahkan perubahan mekanis sederhana suatu tempat bisa berlangsung dalam sebuah tubuh dan, pada saat yang bersamaan, keduanya bisa berada di sebuah tempat lainnya, berada di suatu tempat atau tidak berada di suatu tempat lainnya pada saat yang bersaman.” [5] Segala yang bergerak memiliki kontradiksi dalam keberadaanya, di suatu tempat yang berbeda pada saat yang bersamaan, dan bisa menundukkan atau keluar dari kontradiksi tersebut dengan menerjang satu tempat guna menuju ke tempat lainnya.
Perkembangan dan bentuk kompleks gerak, seperti perkembangan pohon dan tumbuhan, perkembangan spesies, perkembangan masyarakat dalam sejarah dan perkembangan sejarah filsafat, hadir bahkan lebih sulit bagi logika formal. Tahap sekarang, yang menggantikan setiap proses adalah serial kontradiksi. Pada pertumbuhan tanaman, contohnya, tunas keberadaannya diganti oleh bunga dan kemudian oleh buah.
Dimana pun mereka dikonfrontasikan dengan kontradiksi nyata, penganut logika formal selalu akan gagal. Apa yang akan mereka lakukan? Anak kecil sewaktu berhadapan dengan sesuatu yang asing, sesuatu yang menakutkan mereka, yang mereka tak mengerti dan tak dapat mereka kuasai, akan menutup mata mereka dan menutup mukanya dengan kedua tangannya, serta akhirnya melarikan diri dari ketakutan tersebut. Penganut formalis bereaksi dan terus bereaksi, sama seperti anak-anak berhadapan dengan kontradiksi. Ketika mereka tidak bisa secara komprehensif melihat kenyataan alamiahnya dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dengan semua hal yang mengerikan—itu lah yang menyedihkan dari dunia logika formal—maka, dengan ledakan kontradiksi, segera mereka akan menghancurkan logika formal mereka.
Dimana pun, saat otoritas reaksioner diancam oleh kekuatan subversif, mereka akan menekan, memenjara dan membuang kekuatan subversif tersebut. Penganut logika formal menjawab kontradiksi dengan cara yang demikian. Seperti yang dilakukan oleh Sir Anthony Absolute terhadap anaknya dalam lakon komedi Sheridan: “…Jangan masuk dalam ruanganku, jangan berani menghirup udara dan menggunakan lampu bersamaku, tapi carilah atmosfir dan matahari lain untuk dirimu! ...”
Hukum tersebut menunjukkan bahwa A tidak pernah menjadi Non-A. Itu bukan sebuah ekspresi nyata dari kontradiksi yang nyata, atau, terbaca: A bukan Minus A atau bukan Non-A.
Logika formal tidak dapat mentoleransi kontradiksi aktual dalam sistimnya sendiri. Logika formal akan menekan dan menghancurkan kontradiksi tersebut. Dalam usahanya untuk membebaskan dirinya dari kontradiksi, penganut logika formal memperketat kontradiksi absolut di atas kenyataan objektif. Dalam dunia yang direpresentasikan oleh logika formal, segala sesuatu berdiri dalam oposisi absolut terhadap yang lainnya. A adalah A; B adalah B; C adalah C, namun, sebenarnya, secara logis, mereka tidak ada yang sama
Kontradiksi dieliminasi dari sistim logika formal, kemudian bergerak naik menghindari semua kenyataan. Penganut logika formal menolak kontradiksi dalam sistimnya sendiri hanya demi merestorasinya, mengambil kekuasaan dari luar sistim mereka.
Kontradiksi nyata harus memasukkan kedua hal: kesamaan dan perbedaan di dalam dirinya. Penganut logika formal tak bisa melakukannya. Semua hukum logika formal sebenarnya tidak lain merupakan kesamaan-kesamaan dalam berbagai versi. Merka tak mengenal apa perbedaan-perbedaan.
Itu lah sebabnya hukum kategori yang pas bagi logika formal tidak dapat menjelaskan esensi gerak. Gerak adalah sangat lengkap, terang-terangan, bahkan kontradiksinya kasar. Dalam dirinya, ia memiliki dua sisi perbedaan waktu, unsur, fase dan lain sebagainya secara diametris. Pada saat yang bersamaan, benda yang bergerak adalah keduanya, disini dan disana, secara terus menerus. Jika tidak, dia tidak bergerak tapi diam. A tidak semata-mata Non-A. Diam adalah gerak yang berhenti; gerak adalah perhentian yang berurutan.
Logika formal tidak bisa mengetahui atau menganalisa kontradiksi alam nyata—yang di dalamnya terdapat gerak—tanpa melanggar dirinya sendiri, tanpa menjatuhkan hukum-hukumnya sendiri, tanpa menerjang dan masuk ke alam yang lain. Adalah mimpi mengharapakan logika formal menjadi dialektik. Itu tepatnya dengan apa yang terjadi pada logika dalam evolusi. Tapi, logika formal, dalam dirinya dan oleh dirinya, tidak dapat mengambil lompatan revolusioner, tidak bisa keluar dari kulitnya. Semua pemikir formal yang konsisten tetap bertahan pada azas jeneralitas identitas dan terus menolak—cukup logis menurut logika mereka, tapi tak logis menurut kenyataan-keberadaan objektif yang nyata, yakni kenyataan perbedaan diri atau kontradiksi.
Kategori identitas itu abstrak: hukum logika formal merupakan ekspresi langsung dari konsepsi dan persamaan logika ke-diam-an keberadaan objek. Oleh sebab itu, logika formal, secara esensial, merupakan logika kematian, hubungan yang dingin, sesuatu yang diam, pengulangan abadi dan kemandegan. Sejauh kita mengganggap bahwa sesuatu itu statis dan mandeg, maka adalah benar bahwa kita tidak bertentangan dengan kontradiksi. Kita mendapatkan kwalitas tertentu yang sebagian merupakan hal yang bias, terpisah, bahkan saling kontradiktif, tapi, dalam kasus ini (dalam sistim logika formal), kwalitas tersebar di antara objek yang berbeda dan tanpa kontradiksi. [6]
Bila melihat apa yang terjadi pada kasus lain, yang bergerak, ternyata tidak saja saling berhubungan, dan tidak saja secara eksternal tapi juga secara internal, sesuatu akan kehilangan identitas dan bergerak menuju sesuatu yang lain. Sungai Hudson mengalir dan bergabung dengan samudra Atlantik; Mark jerman merosot menjadi secarik kertas cetakan dan lainnya. Apa yang bisa dilakukan oleh sesuatu hal dapat dilihat saat ia kehilangan identitas. Hasil internal dan eksternal gerak benda-benda nyata terwujud secara kontradiktif. Tapi tetap ada benarnya juga bahwa: mereka berhubungan dengan realitas.
Tidak ada yang permanen. Kenyataan tidak pernah berhenti, selalu berubah, selalu fluktuatif (tidak stabil/naik turun). Proses universal, yang tak terbantahkan, membentuk landasan material bagi teori yang di ajarkan Engels ”…seluruh alam, dari unsur yang paling kecil sampai yang paling besar, dari debu hingga matahari, keberadaannya ada dalam keabadian, yakni menjadi dan melenyap, menghilang, kemudian bergolak dalam gerak yang tak berhenti…” [7] Dalam ilmu modern, tak ada jeneralisasi yang lebih aman selain berbasiskan pada percobaan, fakta, ketimbang memahami teori perkembangan universal pikiran manusia, yang bergerak maju dalam abad ke-19.
Hukum logika formal, yang berada di luar kontradiksi, mengabaikan kontradiksi dalam teori dan realitas perkembangan universal. Hukum identitas itu abstrak, tak melahirkan perubahan. Sebenarnya, dari dua preposisi yang bertentangan tersebut, yang mana yang benar dan yang salah? Itu lah pertanyaan dari penganut dialektika—yang melandasi pikirannya berdasarkan proses alamiah—kepada penganut logika formal yang berkepala batu. Persoalan pikiran ilmiah, yang sedang berhadapan dengan logika formal, tidak semata-mata merupakan persoalan yang terjadi dari akhir abad ini saja namun sejak zaman sebelumnya.
2. Logika Formal Mendirikan Benteng/Hambatan (di Antara Segala Hal) yang Tak Boleh Diterobos
Logika formal memiliki kesalahan-kesalahan karena dikepung oleh persoalan-persoalan material, ditelikung oleh ketidakmengertian terhadap fase perkembangan semua persoalan, dan tak bisa mengerti mengenai cerminan, refleksi, kenyataan objektif dalam jiwa kita. Antara kebenaran dan kesalahan tak ada fase antaranya, tak ada tahap transisi dan rantai penghubungnya.
Hegel bicara tentang hal tersebut: “Pikiran-Jiwa, mengabil posisi oposisi di antara kebenaran dan kesalahan, serta menjadi pas, terlebih-lebih setelah diterima entah sebagai perjanjian atau sebagai kontradiksi antara sistim filsafat. Dan hanya melihat alasan pada sesuatu yang ada dalam pernyataan-pernyataan sistim tersebut. Hal tersebut tidak lah menggambarkan perbedaan sistim filsafat sebagai evolusi progresif kebenaran; tapi harus lebih dilihat sebagai kontradiksi.” [8]
“Tunas menghilang setelah bunga berkembang, dan dapat kita katakan: yang awal ditolak keberadaanya oleh yang berikut; sama dengan setelah buah muncul, bunga bisa dijelaskan sebagai sesuatu bentuk yang salah (dari keberadaan tumbuhan) bagi kemunculan buah, dilihat sebagai kebenaran alamiah menggantikan bunga. Tahapan tersebut bukan berarti sekadar pembedaan; yang satu merupakan pengganti, tak tepat lagi, bagi yang lain. Aktivitas tanpa henti hakikat inherennya membuat mereka, pada saat yang sama, dan dalam seluruh momentumnya, memiliki kesatuan organik, yang bukan saja sekadar nmengkontradiksikan yang satu dengan dengan yang lainnya, namun yang satu merupakan keniscayaan bagi yang lainnya; dan keniscayaan (setara) seluruh momen tersebut lah yang menentukan kehidupannya secara keseluruhan. Tapi kontradiksi antar sistim filsafat tidak bisa diselesaikan dengan cara seperti itu; di lain pihak, pikiran-jiwa yang menerima kontradiksi tersebut bukan berarti, secara akal sehat, ia memiliki pengetahuan bahwa kebenaran merupakan hasil perbaikan dan pembebasan dari kesalahan bersatu-sisi, dan mengakui bahwa semua itu merupakan hasil dari kehadiran momen-momen selayaknya (niscaya) yang saling melengkapi atau berbalasan—walaupun kelihatannya saling bertentangan dan, secara inheren, antagonostik.”
Jika kita menggunakan logika formal sebagai nilai, maka kita harus mengakui bahwa semua hal, atau segala keadaan sesuatu, adalah mutlak independen dari segala hal atau dari segala keadaan. Dunia diperkirakan sebagai segala sesuatu yang eksis dalam kesendiriannya yang sempurna, terpisah dari segala hal.
Posisi filsafat yang menggambarkan logika tersebut mencapai hasil akhir berupa: filsafat idealis-subjektif, yang muncul dengan membawa asumsi bahwa tidak ada yang benar-benar eksis, kecuali dirinya sendiri. Itu bisa diketahui dari soligisme (dalam kata latin) solus ipse (aku sendiri).
Itu lah cerminan posisi absur dalam melihat sesuatu. Apapun teori yang dikemukakannya, ia hanya mengakui keberadaan dirinya. Lebih jauh lagi, jika kita mau sedikit lebih mendalam, bagaimanapun terisolasi dan independennya sesuatu hal, sebenarnya ia membutuhkan keberadaan yang lain.
Untuk berada dan menjadi dirinya, jika kita tidak menghubungkannya dengan sesuatu yang terkait dengan realitas, maka kita tidak akan pernah bisa mengerti secara tepat dan pas.
Segala sesuatu akan melaju dan mengubah dirinya menjadi sesuatu yang baru. Untuk mengerti hal tersebut, kita harus menerobos batasan-batasan formal yang memisahkan satu dengan yang lainnya. Sejauh ini, kita tahu bahwa tak ada benda yang diam.
“Preposisi fundamental dialektika Marxisme: semua batasan dalam alam dan masyarakat adalah konvensional dan bergerak, artinya: tak ada satu fenomena pun yang, ketika berada di bawah kondisi-kondisi tertentu, tidak berubah menjadi bertentangan,” kata Lenin. [9]
Dalam skala sejarah yang lebih luas, Trotsky berkata bahwa: ”kesadaran tumbuh dari ketidak sadaran, psikologi dari luar psikologi, dunia organik dari non-organik, sistim tata surya dari nebula.” [10]
Penghancuran batas-batas, perjalan sesuatu menjadi yang lainnya, ketergantugan bersamanya, tidak terlepas dari garis perkembangan sejarah itu sendiri; semuanya berjalan bersama kita. Kita bertindak berbasiskan ide, dan ide tersebut kehilangan karakter mental yang mendominasinya serta menjadi kekuatan aktif di dalam dunia lewat diri kita. Marx menunjukkan bahwa sebuah sistim ide, seperti sosialisme, menjadi sebuah kekuatan material ketika ia berada dalam pikiran massa kelas pekerja, dan akan bergerak dalam aksi-aksi untuk merealisasikannya—perjuangan menuju sosialisme.
Segalanya memiliki garis batas demarkasi, yang membatasi segala sesuatu. Bila tidak, ia tak akan menjadi sebuah tubuh yang memiliki identitas yang unik. Kita harus menemukan batasan-batasan tersebut dalam praktek dan menyusunnya dalam pikiran kita. Tapi batasan-batasan tersebut jangan menjadi kaku dan menelikung segala kondisi; batasan-batasan tersebut tak akan sama dalam setiap saat. Mereka berfluktuasai menurut proses perubahan. Batasan-batasan relatif, gerak dan cair dikenal namun ditolak oleh logika formal. Hukum tersebut menyimpulkan segalanya memiliki batasan-batasan tapi, yang lebih penting lagi, bahwa batasan-batasan tersebut memiliki pembatas-pembatas bagi dirinya.
3. Logika Formal Menolak Pembedaan Setiap Identitas
Kita telah melihat bahwa logika formal menggambarkan pembatasan tajam antara kesamaan, atau identitas (identity), dengan perbedaan (difference). Semuanya ditempatkan dalam pertentangan yang mutlak satu dengan yang lainnya. Jika terdapat hubungan antara keduanya, dianggap kebetulan dan eksternal serta tidak akan berdampak pada keberadaan internalnya.
Penganut logika formal melihat semua itu sebagai sebuah kontradiksi logis, dan merupakan sebuah horor yang mengerikan untuk mengatakan—seperti para penganut dialektika—bahwa identitas bisa menjadi perbedaan, dan perbedaan bisa menjadi identitas. Mereka yakin bahwa identitas adalah identitas dan perbedaan dalah perbedaan, dan tidak dapat sama pada saat yang bersamaan. Coba kita bandingkan kesimpulan-kesimpulan tersebut dengan fakta-fakta pengalaman yang diuji dari kebenaran semua hukum dan ide.
Dalam Dialectic of Nature, Engels mengatakan: “Tumbuhan, binatang, dan setiap sel, setiap saat dalam hidupnya adalah sama dengan dirinya dan menjadi berbeda dari dirinya, karena bergabung dan mengalir dalam substansi hidup, karena respirasinya [11], karena pembentukan sel dan karena kematian sel—lewat proses perputaran yang bergantian, dengan singkatnya bisa disebutkan: karena ada perubahan molekul yang membuatnya hidup. Dan karena kesimpulan dari setiap hasilnya merupakan bukti bagi mata kita bahwa mereka memiliki setiap fase kehidupan: fase embrio, remaja, kematangn seksual, proses reproduksi, usia lanjut dan kematian. Semua itu adalah bagian dari evolusi semua spesies di bumi. Fisiologi lebih lanjut menggamblangkannya: yang lebih penting adalah ia tidak berhenti, tidak selesai dan, yang lebih penting lagi, adalah bahwa semuanya tetap berbeda di dalam identitasnya. Namun pandangan abstrak-kuno indetitas formal memahaminya bahwa suatu organik berada seperti sebuah identitas yang sederhana dalam dirinya, konstan dan statis—menjadi ketinggalan jaman.
“Namun demikian, corak berpikir itu berbasiskan seperti itu, bersama dengan kategorinya, terus menerus bertahan. Tapi, bahkan dalam hakikat non-organik pun, identitas seperti itu tak terdapat dalam realita. Setiap orang terus menerus menunjukkan dan menerima pengaruh-pengaruh mekanik, fisika dan kimia, yang selalu merubah dan memodifikasi identitasnya.”
Hambatan/benteng absolut tak mungkin bisa didirikan oleh logika formal—misalnya dalam kasus antara dua hal yang saling berpenetrasi dalam realitas yang berlanjut, bergerak—karena telah dicuci oleh proses perkembangan sehingga kemudian perbedaan telah menjadi kesamaan. Sebelum kami datang ke gedung ini, kami adalah orang-orang New York yang berbeda-beda. Persamaan menjadi perbedaan: setelah pelajaran ini selesai, kita akan berpisah ke tempat yang berbeda-beda. Perubahan dari perbedaan menjadi persamaan dan persamaan menjadi perbedaan mengambil peran dalam semua hubungan. Tunas yang mekar menjadi bunga, bunga menjadi buah, sehingga setiap fasenya yang berbeda adalah menjadi bagian dari pohon yang sama.Tidak seperti hukum logika formal, kesamaan material yang nyata tidak menyingkirkan dari dirinya sendiri perbedaan-perbedaan yang ada tapi mengisi ke/di dalam dirinya sebagai bagian yang esensial. Perbedaan nyata tidak membuang kesamaan tapi memasukkannya sebagai elemen esensial di dalam dirinya. Kedua bentuk tersebut dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dengan membuat pembedaan dalam pemikiran, tapi itu tidak berarti—seperti dalam logika formal—bahwa, dalam realita, mereka bisa dipisah-pisahkankan.
4. Hukum-hukum Logika Formal: Absolut
Ketidaklengkapan keempat hukum logika formal adalah bahwa mereka menyatakan dirinya sebagi sesuatu yang absolut, mutlak, final, tak bersyarat, dan pengecualian adalah tidak mungkin. Mereka mengatur dunia pemikirannya dengan cara yang totaliter, memastikan kepatuhan yang tidak boleh dipertanyakan dalam segala hal, memanjat otoritas tanpa batas demi kedaulatan mereka. A selalu sama dengan A, tak ada satu pun yang bisa menggugatnya.
Sialnya, bagi penganut logika formal, tak ada di dunia ini yang seperti mereka kemukakan. Ternyata, segalanya hadir sebagaimana aslinya, dengan sejarah dan syarat-syarat materialnya yang sudah tertentu, baik dalam hubungan satu dengan yang lainnya maupun dalam keterpisahannya, dan setiap waktu proporsinya sudah tertentu serta dapat diukur. Masyarakat manusia, contohnya. Manusia hadir di muka bumi pada waktu tertentu dan secara material dibedakan evolusinya (lebih tinggi) dari binatang. Namun Ia tak dapat dipisah-pisahkan sebagai sesuatu yang organik atau non-organik; mereka berkembang dalam derajat-derajat tertentu dan kehadirannya telah melangkah jauh, tumbuh, secara kwantitif penuh menuju kwalitatif yang berbeda. Setiap tahap perkembangan sosialnya memiliki hukum perkembangan sendiri dan memiliki karakter-karakter khususnya.
Hukum yang mutlak tidak dapat lagi bertahan di dunia nyata. Dalam berbagai tahap alam, perkembangan ilmu fisika, elemen kimia, molekul, atom, elektron diyakini oleh pemikir-pemikir metafisika sebagai atau memiliki substansi yang tidak berubah. Manusia tidak dapat mundur atau maju. Dengan kemajuan ilmu alam, setiap bagian keabadian-mutlak telah ditumbangkan—setiap pembentukan materialnya telah teruji memiliki syarat, terbatas dan relatif. Semua kepentingannya yang menjadi mutlak, terbatas (secara absolut) dan tidak berubah telah terbukti: salah.
Ketika, pada akhir abad ke-19, ilmuwan mulai mengadakan dan memperoleh berbagai macam penemuan, ilmuwan sosial Amerika Serikat malah meyakini bahwa demokrasi borjuis merupakan bentuk mahkota pemerintahan bagi peradaban manusia. Namun, pengalaman sejarah sejak 1917 telah menjadi saksi bahwa demokrasi borjuis telah ditumbangkan oleh bolsevikisme dan fascisme—telah terbukti bahwa alangkah terbatasnya sejarah ini, dan alangkah banyak serta bersyaratnya bentuk-bentuk kapitalisme.
Jika setiap hal hadir di bawah syarat material sejarah tertentu, berkembang, beragam, kemudian menghilang, bagaimana mungkin hukum absolut berlaku pada segala hal dengan cara yang sama, pada derajat yang sama, di setiap waktu dan di bawah semua syarat-syarat tertentu? Itu tentunya merupakan klaim yang dibuat oleh logika formal. Tuntutannya pada realistas, dan dalam pencarian hukum-hukumnya, logika formal menyebabkan ilmuwan jatuh pada kebutaan logika.
Pada analisanya yang terakhir, hanya Sang Absolut lah yang memenuhi standar logika formal. Sang Absolut lah yang seharusnya mulak, tidak terikat, sempurna, independen dari segalanya...
5. Logika Formal Bisa Membuat Perhitungan tentang Segala Hal—Tapi Bukan atas Dirinya
Akhirnya, hukum logika formal, yang seharusnya memberikan penjelasan rasional bagi segala hal, memiliki kesalahan yang serius. Logika formal tak bisa memperhitungkan atas dirinya. Menurut teori Marxisme, segalanya menjadi ada karena hasil dari sebab-sebab material, yang berkembang lewat fase-fase yang silih-berganti, yang akhirnya mati.
Bagaimana logika formal dan hukummya? Dimana, kapan dan mengapa segala hal bertumbuh, bagaimana segala hal berkembang? Apakah segala hal abadi?
Jika kau menantang penganut logika formal, bertanya bagaimana cara menerapkan hukum-hukum logika ke dalam sejarah dan bagaimana menerima aturan-aturan universal tersebut maka, tak ada yang berbeda, mereka akan menjawab seperti halnya kaum monarki menjawabnya: kami melakukannya atas nama ... (Sang Absolut)
Kita lihat berapa banyak kebenaran dalam dialektika dan agama seperti yang dibuat profesor James Burnham dan Sidney Hook. Dalam kenyataanya, logika formal berjalan bergandengan dengan ke-Absolut-an dan dogmatisme. Sebagai hukum-hukum keabadian.
Logika formal berdiri bersamaan dengan prinsip-prinsip keabadian moralitas, seperti yang digambarkan Trotsky: “Surga selalu hanya dijadikan senjata—yang digunakan dalam operasi militer—untuk melawan dialektika materialis.” [12]
Pada kenyataannya, logika formal muncul dalam suatu masyarakat pada tahapan tertentu, dalam sebuah titik perkembangannya. Dan, kemudian, manusia dapat menundukkan alam; kemudian ia berkembang sepanjang pertumbuhan umat manusia, sepanjang pertumbuhan tenaga-tenaga produktifnya, hingga bisa bekerja sama dengan pemikiran dialektik, yang ditanamkan lewat perkembangan lebih lanjutnya. Tempat bagi logika dialektik ada dimana saja, tapi dibutuhkan suatu revolusi dalam pemikiran manusia untuk menempatkannya secara tepat.
Salah satu kelebihan dialektika dari logika formal bisa dilihat dalam kenyataan; tidak seperti logika formal, dialektika tidak hanya dapat menghitung keberadaan logika formal namun juga dapat menunjukkan mengapa harus menggantikan logika formal tersebut. Dialektika dapat menjelaskan tentang dirinya, pada dirinya, dan pada yang lain. Oleh karenanya, dielektika lebih logis ketimbang logika formal.

***

Mari kita melihat bagaimana kemajuan kritik kita terhadap logika formal. Kita mulai dengan mencari kepastian tentang kebenaran logika formal. Kemudian kita mencapai sebuah batas yang, bila kita teruskan (pencarian tersebut), hanya akan berisi kesalahan-kesalahan semata. Kemudian kita dorong maju melewati batasan tersebut. Maka kita, akhirnya, akan menolak “kebenaran” logika formal yang tak bersyarat, absolut, bertentangan dengan apa yang hendak kita pastikan.
Hukum formalisme terlihat memiliki dua sisi, kebenaran dan kesalahan.Kemudian, ketika segala hal menjadi lebih kompleks dan kontradiktif, hukum-hukum bisa berkembang dan berubah sesuai dengan akal sehat saat menganalisa tendensi yang berlawanan (secara terus menerus)—memang demikian lah hukum yang ada dalam diri segala hal. Ketika kita meganalisa dua kutub yang bertentangan dari segi karakter kontradiksinya, melepas saling-hubungan di antaranya, maka kita dapatkan bagaimana dan mengapa masing-masing kutub tersebut menjadi berubah sesuai dengan hukum-hukum dirinya masing-masing.
Itulah metode dialektik yang digunakan dalam berfikir. Hasilnya, kita akan tiba di depan gerbang dialektika dengan menggunakan jalur dialektik yang sejati. Itu lah sebabnya juga mengapa kemanusiaan akan sampai pada dialektika, memegangnya sebagai sebuah sistim perumusan pemikiran. Manusia menemukan batasan-batasan dalam logika, namun bisa menundukkannya dengan membuat sebuah bentuk logika yang lebih tinggi lagi secara teoritis. Dialektika membuktikan kebenarannya dengan mengaplikasikan metode berpikirnya demi menjelaskan dirinya dan asal usulnya.
Dialektika hadir sebagai hasil dari sebuah revolusi sosial yang kolosal, menembus batas semua bagian kehidupan. Dalam politik, representasi massa yang bangkit secara tidak sadar kemudian dibimbing oleh pemahaman dialektik. Mengetuk pintu kaum monarki dan menghancurkannya: “Waktu telah berubah, kami menuntut kesederajatan!” Dengan semangat formalisme, dengan semangat logika formal, kaum pembela absolutisme menjawab: “Kau salah, kau subversif, tidak ada yang berubah dan tidak ada yang dapat berubah. Raja tetap lah raja, dimana saja dan kapan saja. A sama dengan A, kedaulatan tidak dapat mensejajarkan manusia yang bukan A, yang Non-A.” Alasan formal semacam itu tidak dapat membendung kemajuan, kemenangan revolusi demokratik borjuis lah yang, kemudian, menghancurkan monarki. Dialektika revolusioner, bukan logika formal, yang berlaku dalam politik praktis.
Dalam ruang ilmu-pengetahuan, logika formal terjerumus dalam kriris revolusioner yang sama sebagaimana yang dialami politik absolutisme. Kekuatan baru ilmu-pengetahuan bangkit dalam perkembangan alam dan ilmu sosial—yang memukul logika formal yang sudah berkuasa ribuan tahun—guna menuntut hak mereka. Bagaimana revolusi logika dimulai dan dan ke mana arahnya, akan dijadikan topik berikutnya.

engels F., Anti-Duhring, hal. 137.
Ibid, hal. 137.
Engels, F., Dialektic of Nature, hal. 13.
Engels, F., dalam pembukaan Phenomenology of Mind, hal. 68.
Lenin, Collected work, vol. 19, hal. 203.
Leon, Trotsky, In defence of Marxism, hal. 51.
Respiration: proses metabolisme organisme dalam menyerap, mengasimilasikan, oksigen dan melepaskan karbon dioksida dan segala produk oksidasi; bernafas; Webster’s II New Riverside University Dictionary, The Riverside Publishing Company, hal.1001.
Trotsky, Leon, Their Moral and Ours, hal. 16.

Read More......

Sunday, May 13, 2007

Dua Hariku "part I"


Malam sudah larut, mata ini tertuju sama satu bintang diangkasa, bintang yang bersinar lebih terang diantara yang lain. Pikiran masih melayang sehingga keinginan untuk pergi pun semakin berdendang kencang. Beranjak dari tempat duduk saya berjalan menuju ke motorku aku mulai perjalanan tanpa arah ini.

Ku arahkan motorku kearah timur,dengan keinginan dalam hati tuk menjemput mentari, tapi ini masih terlalu malam dalam pikirku harus kemana, tapi entah mengapa aku ingat memori kecilku, di suatu tempat yang tinggi tapi ada aliran air yang bergemricik dari tebing atas ke arah bumi. Tawang Mangu daerah di gunung Lawu dengan pemandangan sangat indah. Terdapat air terjun Grojogan Sewu yang cukup tinggi, hutan Cemara Sewu, dan danau Sarangan. Tawang Mangu terletak sekitar 30 km dari kota Solo.


Malam yang dingin pun semakin sepi tapi entah mengapa pikirku dalam perjalanan mengarakkanku ke tempat itu, hatipun tak kuasa untuk menolak. Mantap dan membuang jauh-jauh pikiran burukku aku belokkan motorku menuju Tawang Mangu. Dalam perjalanan pun sempat berhenti di suatu temapat yang sangat sepi. Berhenti sejenak tuk berteriak sekaligus istirahat, 15 menitpun berlalu aku mulai lagi perjalanan ini.

Jalan yang terjal dan berkelok tidak patahkan semangatku untuk terus melajukan motorku ketujuan itu. Sampai juga aku diTawangmangu aku langsung menuju ke pos penjaga dan meminta izin untuk masuk komplek, pertamanya satpam pun tidak mengizinkan karena sudah malam, tapi dengan beberapa alasan dan rayuan akhirnya aku boleh masuk, bahkan diantar sampai warung yang berada dalam komplek itu. Aku bertemu penjaga warung sekalian saja aku minta izin tuk menginap.

Malam ini tepat jam 00.00 aku merasakan diriku sangat ringan seperti kapas yang terbang tertiup semilir angin malam, sehingga kulangkahkan kaki ini kesebuah batu yang berada tepat didepan warung itu, dukuk dan menatap sekitar sambil ditemani secangkir kopi dan rokok yang terus berapi, saya nerasakan kesegaran yang alami semua masalah yang ada dikepala sejenak terlupakan digantikan dengan kenyamanan.

Tapi mata ini masih saja ingin lihat bintang di angkasa ternyata bintang tadi masih bersinar terbayang seseorang yang menamai bintang itu, bintang fourin bersinar terang berdampingan dengan bulan yang terlambat datang. Mencoba untuk merebahkan tubuhku diatas batu sambil mengenakan sarung yang baru saja dipinjami pemilik warung. Tiba-tiba aku melayang jauh kenegeri hayalan sejenak jiwa pergi dari raga ini.
Tuk malam itu aku tak ingat lagi apa yang terjadi sampai aku terjaga karena jiwaku telah kembali, ternyata disekelilingku aku ditemani sekitar 50 monyet yang sedang bergoyang di ganggu pengunjung tawangmangu. Aku langsung berhentak berdiri dan menuju warung. Berlari menuju air terjun yang tinggi berbaur dengan pengunjung yang datang aku sempatkan tuk membasuh muka dan gosok gigi, saat itu entah orang bilang apa toh aku juga tidak kenal dan gak ketemu lagi.

Melihat air yang terus terjun dari lereng yang curam, kutatap dan kunikmati setiap percikan yang membasahi wajah ini. DAMAI TERASA DIHATI.....terus dan terus teringat wajahmu..Bintang FOURINku..

Read More......

Tuesday, May 8, 2007

Bintang Fourin


Bertemu becanda dan berdebat tapi malam ini kita tidak lakukan hal-hal itu kamu terlihat murung tanpa ekspresi, kamu malah memintaku untuk membuatmu tertawa. Aku sendiri bingung bagaimana caranya sedangkan kamu sendiri mau berada disini tempat yang sangat sulit untuk membuat kamu tertawa.

Hingga pada akhirnya kita membicarakan bintang lucu juga kamu memilih bintang yang paling bersinar dan menyebutnya bintang faurin. Aku mengiyakan saja sembrani mencari bintang yang lebih bersinar tapi aku belum menemukan, entah mengapa beberapa saat muncul bulan dengan pancarkan cahaya yang lebih terang.


Namun bulan itu tetap saja berada dibawah bintang faurin biarpun dia bersinar terang namun ia tak sanggup mencegah bintang tuk pergi meninggalkannya, seraya berontak dengan keangkuhan bulan pun menunggu dengan sabar dan memasrahkan semua harapan pada bintang dan Tuhan.

Setelah kamu pulang ingin rasanya aku pergi kebukit tertinggi dan berteriak lantang memanggil namamu, tapi aku hanya bisa pergi keatas gedung ini dan memanggil namamu berulang-ulang hingga aku lelah. Suatu tindakan yang bodoh tapi mengasikkan aku berharap triakanku didengar olehNYA.

Aku letih dan mencari tempat tuk membaringkan tubuhku, mata dah tidak mau diajak kompromi dan berdebat untuk meminta dia tidur.

Senja datang bintang pun hilang namun bulan sering berontak sampai ada istilah bulan kesiangan ha..ha..aneh juga cahayanya kalah dengan terangnya sinar ahari sinar yang lebih sombong dan sinar yang memberi kehidupan yang lebih panjang dan lebih keras.

Malam ini pun bintang faurin bersinar lagi masih ditempat itu dan bersinar paling terang diantara bintang-bintang yang lain.

Tapi malam ini apa yang terjadi padamu aku tidak mengerti, seperti cahaya yang sedang redup karena belenggu kaca kehidupan, penuh bayang dan kebingungan mencari sebuah jawaban dan senyuman yang sedang hilang dari dirimu.

Read More......

Anarkisme : sebuah alternatif bagi sistem yang ada sekarang


Apa itu Anarkisme serta hubungannya dengan Punk diseluruh penjuru dunia. Kegagalan para politisi dalam “politik jual - beli” meyakinkan sebuah kontra kultur akan ide bahwa kita semua akan jauh lebih baik hidup tanpa vampir-vampir ini. “Semua pemerintahan tidaklah diinginkan dan tidak perlu, tidak ada pelayanan yang dapat disediakan pemerintahan yang tidak dapat disediakan oleh suatu komunitas secara swadaya.

Kita tidak perlu disuruh - suruh melakukan sesuatu atau diberitahu bagaimana menghidupi hidup kita apalagi dibebani oleh pajak, aturan, regulasi - regulasi serta tuntutan - tuntutan akan hasil kerja kita” Profane Existence(PE) #5,Agustus 1990 hal 38,Ayf)


Ketika harus memilih diantara ideologi politik : Punk cenderung Anarkis. Hal ini tidak mengesampingkan fakta masih ada punk yang tidak membaca sejarah dan terus mempromosikan tetap berlanjutnya bentuk-bentuk kapitalisme atau komunisme berjalan dimuka bumi ini. Tetapi dapat dikatakan hampir semua Punk percaya akan prinsip Anarkis untuk sama sekali tidak menggunakan pemerintahan resmi atau pengatur serta menghargai kebebasan dan tanggung jawab individu (siapa yang tidak). Profane Existence(berikutnya ditulis PE) merupakan fanzine Anarkis Punk terbesar di Amerika Serikat yang didalamnya berisi reportase politik maupun musik dari perspektif Anarkis.

Isi majalah ini banyak memuat periodikal yang ditujukan bagi pembaca-pembaca yang secara intelektual mulai berkembang menjadi aktivis dan mulai meninggalkan sisi musikal gerakan Punk ke format politik. Sebelumnya perlu diketahui Scene di Eropa banyak memiliki fanzine-fanzine dan band-band Anarkis karena sejarah punk disana lebih aktif dibandingkan rekan-rekan mereka di Amerika serikat.

Para pembuat dan editor-editor fanzine ini terinspirasi oleh gelombang ke 2 Punk di Eropa (1980 - 1984) yang sangat berorientasi politis. Band-band seperti CRASS, CONFLICT dan DISCHARGE di Inggris, THE EX dan BGK di Belanda serta MDC dan DEAD KENNEDY di Amerika Serikat merubah Punk dari berandalan Rock N Roll menjadi para pemberontak yang berfikir. Semangat ini diwariskan sekarang oleh jutaan band-band yang memainkan berbagai ragam spektrum musikal Punk.

Los Crudos yang menjerit didepan wajah para penindas dengan lirik-lirik eksplisit bagi kesadaran kelas serta Propagandhi yang menemukan tempatnya dalam irama pop Punk yang gampang disenandungkan, ini semua menghasilkan ribuan anak-anak muda diseluruh dunia dengan bangga menyebut diri mereka “Anarkis” dan mulai secara sehat menunjukkan ketidaksukaan akan rezim- rezim pemerintahan yang ada diseluruh dunia.
“Pada perkembangan awal apa yang disebut peradaban ada segelintir orang yang menyadari jika mereka dapat hidup dengan mudah dan menjadi kaya dengan membuat orang lain bekerja bagi mereka, Orang-orang ini menggunakan tipuan bahkan kekerasan untuk menginstitusi diri mereka sebagai ketua, orang suci, raja atau pendeta.

Dengan menggunakan ancaman dan tahayul mereka membuat orang - orang lain patuh, dimana orang-orang ini selalu menjadi subjek dari orang-orang yang menemukan cara tersebut dan kemudian menjadi penguasa- penguasa baru atas nama reformasi yang tidak akan pernah menghasilkan perubahan apa-apa karena tetap mempertahankan adanya pemerintah”(PE des 1989, hal 19, Felix “sejarah singkat Anarkisme oleh Prof. Felix”).
Punk telah beralih pada Anarkisme sebagai alternatif bagi sistem dunia yang eksis sekarang ikut terlibat mencari alternatif dari siklus kontinuitas penindasan yang terjadi dalam setiap revolusi selama ini.

Sifat alami pemerintahan (serta hirarki secara keseluruhan) meliputi penindasan dan eksploitasi bagi semua orang- orang didalamnya (atau paling tidak terkena efeknya). Tidak seperti kontra kultur borjuis lainnya Punk menolak Komunisme beserta semua tradisi sayap kiri - pemerintah - demokrasi terlebih lagi kapitalisme. Reformasi yang dilakukan partai besar dianggap Punk tidaklah cukup karena amat sangat bersifat statis (misalnya dengan tetap mempertahankan perlunya pemerintahan formal).

Reformasi hanya MENYENANGKAN bukan MEMBEBASKAN orang-orang yang telibat didalamnya. Meskipun demikian seperti halnya Komunisme, Punk terlibat dalam berbagai gerakan-gerakan yang mendukung hak perempuan, kelas pekerja serta sama-sama membenci masyarakat kapitalis. Banyak anggota- anggota komunitas Punk terlibat dalam demonstrasi-demonstrasi yang diorganisasi oleh Liga Spartakis atau grup-grup Marxis, Leninis, Trotskys lainnya.

Hal ini dikarenakan mereka memiliki goal-goal yang mirip dalam beberapa isu yang spesifik. Anarkisme dan siapa saja yang membaca sejarah sadar akan realitas Komunisme yang telah melenceng jauh dari goal “ideal” akan sebuah “negara”, apalagi bila dilihat dari kaca mata Anarkis yang menolak negara. “Grup-grup komunis yang telah kehilangan kekuatan membicarakan tentang kebersamaan dalam satu garis dan menampilkan Komunisme sebagai kekuatan mulia berperang demi persamaan dan keadilan menghadapi dominasi Kapitalis. Tetapi faktanya para partai-partai sayap kiri secara alamiah bersifat autoritarian. Setiap sistem yang didalamnya memiliki bagian dari filosofi dominasi satu manusia oleh manusia lainnya memiliki kemungkinan untuk menindas.

Kelompok-kelompok komunis tidak akan pernah memperjuangkan pembebasan massa karena hal tersebut hanya akan membuat mereka terhambat dalam upaya untuk memegang kekuasaan. Ketika mereka memperoleh jalan kearah kekuasaan maka mereka akan mengadopsi sifat menindas seperti halnya penguasa-penguasa negara sebelum mereka” (PE #2 Februari 1990 Hal 22, Felix dan Rat, Revolt Against communism). Bukti- bukti akan sifat menindas komunisme tidak hanya mengacu pada keadaan rezim - rezim penindas komunis yang ada saat ini, karena hal tersebut sebenarnya telah terjadi sejak pemberotakan Krondstat tahun 1921, gerakan Anarkis Ukrania tahun 1918 - 21 dan perang sipil spanyol tahun 1936 - 1939 ketika para Anarkis dihianati dan dihancurkan oleh kekuatan totalitarian Komunis.

Rezim-rezim Komunis secara substansial tidak berbeda dengan rezim-rezim yang mereka tumbangkan, paling tidak dalam satu subjek MENJADI PENGATUR/PENGUASA sedangkan Anarkis percaya revolusi bukanlah suatu pergantian yang sederhana (meskipun mungkin sangat amat berdarah) dari satu pengatur ke pengatur lainnya_karena Anarkis berarti tanpa pengatur/penguasa. “kita hidup dizaman dimana revolusi hanyalah berarti hasil rekayasa kelas profesional satu organisasi komunis yang merencanakan untuk menggulingkan sistem kapitalis dan mencoba menggantinya dengan sistem yang sama busuknya jika tidak lebih menindas dari yang ada sekarang” (PE #1 hal 29 ,Band Minnessota Destroy) Dalam pengertian ini revolusi hanya menjadi lingkaran setan : satu pemberontakan tanpa orientasi yang hanya akan menguatkan posisi kelas penguasa baru yang akan menggantikan posisi penguasa lama.

Komunisme tidak memiliki ketertarikan akan pembebasan diri dari mental penguasaan yang tidak bisa lepas dalam segala segi kehidupan kita saat ini : untuk menghapus kekuatan itu sendiri, hal yang merupakan ideal para Anarkis__..dan karena hal ini pula maka Komunisme sama tidak diingkan oleh para Anarkis sebagaimana Kapitalisme.

Gerakan Punk berasal dari negara-negara yang memiliki kebijakan-kebijakan demokrasi palsu Kapitalis. Hal yang membuat Kapitalisme beserta masalah-masalah yang diciptakannya menjadi target utama para Punk politis. Kurangnya perumahan yang menciptaka tuna wisma, klasikisme yang menyebabkan pemikiran sempit serta eksploitasi ditempat-tempat kerja merupakan hasil dari sistem yang dibangun atas dasar kerakusan. Sementara tidak perlu dipungkiri jika ternyata sistem kapitalisme juga membuat sebagian orang dapat merasakan kemewahan hidup. Yang merupakan hasil eksploitasi dari mereka- mereka yang tidak memiliki kemewahan. Kepercayaan kuno akan menjadi kaya melalui kerja keras dan kejujuran adalah mitos paling bodoh yang pernah dicekokkan ke kepala kita_.karena bila hal tersebut benar-benar terjadi maka saya sudah amat sangat kaya saat ini.

Dalam masyarakat kapitalis definisi kesuksesan diartikan dalam pengertian kemewahan dan komoditas, dimana dengan menggunakan definisi ini kelas menengah sudah “lebih dari cukup” akan menolak perubahan radikal, dengan status kelas menengah mereka sangat ketakutan menjadi “miskin”..kecenderungannya adalah mereka yang merasa miskin secara material merasa HARUS (dan lebih sering lagi) bekerja keras demi memenuhi kemewahan gaya hidup kelas menengah. Fakta bahwa orang - orang lebih memilih menjarah peralatan stereo dan TV daripada makanan dalam kasus - kasus penjarahan, menunjukkan mereka telah teryakinkan bahwa hidup yang lebih baik berarti lebih banyak memiliki barang- barang. Tidak diragukan kemewahan dan uang pada saat ini membuat hidup menjadi lebih mudah_tetapi untuk menilai kesuksesan dan kegagalan hanya dalam term ini memiliki dampak yang amat berbahaya.

Kapitalisme berhubungan dengan model - model teoritikal yang mengasumsikan tiap - tiap manusia mencoba untuk MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN INDIVIDUALNYA_. “dengan menggunakan model seluruh mahluk hidup sebagai contoh mengubah semua hal menjadi komoditi-komoditi yang dapat dijual dan dibeli”(Maximum Rock n Roll(MRR) # 98 juli 1991, New World Order). Hal inilah yang paling jelas dalam lingkungan hancur - hancuran yang kita hidupi sekarang _.ketika ekonomi hanya menghitung nilai - nilai produk lingkungan tanpa menggubris kehilangan - kehilangan yang diakibatkannya _.hal ini merupakan satu pertanda yang memastikan bencana bagi generasi manusia berikutnya (termasuk juga didalamnya hewan dan tumbuhan).

Dalam kasus yang paling ekstrem “pemikiran - pemikiran mencapai puncaknya ketika manusia saling berperang _dan hal tersebut menjadi komoditi bagi manusia lainnya_. membuat membunuh sudah kehilangan makna “(ibid).
Satu point yang sangat penting untuk ditegaskan disini adalah dengan menggunakan contoh perang teluk yang terjadi di Timur tengah pada tahun `1991. Seringkali dikatakan bahwa kapitalisme adalah kanibalisasi. Pernyataan ini biasanya digunakan untuk menggambarkan bagaimana pemilik korporasi serta eksekutif - eksekutif mengeksploitasi sesama manusia demi keuntungan profit. Kapitalisme sering terlihat sangat gembira di atas kesengsaraan sekelompok orang lain. Selama perang teluk para tentara dari kedua belah pihak merupakan alat - alat yang mampu meningkatkan tingkat bisnis dan menghasilkan keuntungan ; sebuah kenyataan disamping fakta ratusan ribu orang yang tidak tahu menahu kehilangan nyawa ; serta sebuah peradaban coba dihancurkan. Implikasi menyedihkan tersebut memiliki dampak yang berbeda di Amerika Serikat : perang menghasilkan banyak uang, tanpa perlu lebih jauh berfikir kalau PERANG ADALAH SATU KESALAHAN, dapat dilihat dari beragam jenis hasil ekonomi dari perang _kaos Dessert Storm , Kaset Video, hak siaran Televisi serta stiker - stiker dengan slogan - slogan rasis akan kematian orang lain demi keuntungan kapitalis.

Perusahaan minyak adalah “pemenang” perang tersebut dilihat dari keuntungan yang dihasilkan. Slogan populer anti perang yang berbunyi “NO BLOOD FOR OIL” seharusnya lebih akurat diteriakkan sebagai “NO BLOOD FOR PROFIT”. Amerika mengeluarkan lebih dari sekitar enam puluh milyar dollar Amerika( belum termasuk kehilangan nyawa baik dari pihak sekutu maupun dari pihak Irak), hal ini merupakan kejahatan moral sebabjika menghitung dengan lebih akurat keuntungan yang didapat Amerika Serikat ” Dengan kontribusi sebanyak 57 bilyun dollar oleh sekutu ditambah 18 bilyun dollar oleh Arab Saudi dan Kuwait buat pembelian - pembelian senjata baru.

Peramng ini merupakan lahan emas yang sangat menguntungkan pemerintah Amerika Serikat” tidak saja bagi pemerintah Amerika Serikat sendiri tetapi juga melibatkan perusahaan kontraktor - kontraktor besar yang akan menggemukkan pundi - pundi uang mereka membangun Irak yang hancur lebur_semakin babak belur maka akan semakin banyak yang dibangun kembali dan berarti semakin banyak keuntungan. Kelihatannya mengambil keuntungan dari perang adalah sangat menjijikkan tetapi inilah yang terjadi di Amerika Seriakt banyak yang menganggap adalah terlalu jauh untuk berfikir perang dibuat demi keuntungan personal selain menambah jumlah pengangguran dan membangkitkan semangat patriotik dibalik topeng “objektifitas militer.”beberapa orang mungkin akan menggunakan suatu teori konspirasi terpadu untuk menjelaskan fenomena ini, tetapi kai berpendapat hal tersebut tidak diperlukan .karena kenyataannya sangatlah sederhana : mengambil keuntungan dari perang adalah tindakan rasional; dalam sistem kapitalis yang merubah segala hal menjadi komoditi_.dimana semua nilai ditentukan oleh “pasar bebas” hal ini pula yang membuat kapitalisme selama kurun waktu masa hidup setan ini akan selalu berbasiskan dehumanisasi dan eksploitasi manusia (termasuk hewan dan tumbuhan beserta lingkuangan) bagi keuntungan, suatu hal yang tidak akan pernah dapat diterima oleh para Anarkis. Masih ada lagi alasan - alasan lain mengapa anrkis menolak kapitalisme negara demokrasi palsu seperti yang akan dikemukakan kemudian dalam tulisan ini. Para Anarkis Punk kelihatan banyak sepakat dengan hal - hal yang biasa diperjuangkan oleh para radikal, liberal dan kelompok - kelompok “kiri jauh”.seperti misalnya kepercayaan dalam memperjuangkan hak wanita, kesamaan, rasial, hak - hak bagi gaybaik yang terlibat dalam platform liberal maupun Anarkis.meskipun demikian kesamaan - kesamaan ini tidak berarti Anarkis tidak saling mencaci maki (bahkan lebih dari hujatan - hujatan pada sayap kanan) dengan sayap kiri : “Kelihatannya cukup aneh ketika para Anarkis berkoalisi dan bekerja bersama grup - grup sayap kiri.

Karena dalam kenyataannya Anarkisme sangatlah berlawanan bagi sayap kiri maupun sayap kanan”(PE # 2 Felix dan Rat) Protes - protes anti perang teluk di Amerika Serikat dapat mengilustrasikan perbedaan mendasar antara sayap kiri dengan para Anarkis. Para pemrotes sayap kiri menunjukkan ketidak inginan mereka untuk “mengambil sikap egaliterisme radikal”(MRR # 99 New World Order) secara keseluruhan pandangan para Anarkis akan sayap kiri adalah ketakutan untuk melakukan sesuatu yang membawa pada konfrontasi langsung dengan negara”_secara personal penulis (CRAIG O_ HARA) menghadiri 2 protest anti perang terbesar di Washington DC dan melihat tuntutan - tuntutan para Anarkis.

Ia juga melihat protest - protest yang dibuat oleh beberapa grup liberal dimana merupakan wahana mengambil point - point bagi grup -grup mereka untuk mengambil keuntungan_sembari mempromosikan diri dan menjual merchandise. “Para pemimpin gerakan - gerakan tersebut secara essensi menyuruh para demostran berada di belakang peneriak - peneriak slogan dan kemudian merapatkan barisan “seperti manusia - manusia yang beradab” serta sangat menentang mereka - mereka yang berada diluar barian_serta para pejalan kaki disuruh berada di trotoar - trotoar jaln dan bertingkah laku bagai media spontanitas dan kreatifitas telah dikebiri_dan bagi mereka - mereka yang memiliki pandangan berbeda dikontrol oleh “monitor - monitor perdamaian” serta dijaga tingkah lakunya”(ibid) Proses pembangunan koalisi - koalisi seringkali merupakan hasil dari protes - protes besar yang di dalamnya terdiri dari banyak issue yang menunjukkan interelasi satu sama lain _pesan - pesan gerakan protes direduksi hingga menjadi “Bring Our Troops Back Home Now!!!” sementara hal - hal ini berarti mengurangi nilai - nilai kemanusiaan yang dihancurkan perang. Serta membuat Punk mengadopsi slogan yang mempunyai efek langsug : “FUCK the TROOPS” Mendukung tentara untuk menghancurkan, membunuh atau membawa mereka pulang hanya membatasi dan mengacaukan persepsi akan suatu situasi”Para pemrotes mereduksi isu - isu perang hanya pada satu isu tunggal yang dicerna sebagai : Militerisme adalah O.K karena yang tidak O.K adalah perang ini dengan menggunakan cara ini gerakan perdamaian hanya mendukung kebohongan patriotik mainstream mengkotakkan oposisi mereka dalam term kepentingan alternatif nasional : “Perdamaian adalah patriotikyang merupakan satu kebohongan karena bagi mereka - mereka yang benar - benar tertarik pada perdamaian HARUS MENOLAK PATRIOTISME dan mengerti jika semua negara dibangun atas dasar penindasan dan eksploitasi sudah amat sangat jelas pada saat ini untuk mengetahui Punk sama sekali bukanlah patriotik ” bagi saya menjadi patriotik sekaligus merupakan oposisi bagi masyarakat adalah munafik sangat tidak mungkin mendukungpoint - point positif suatu negara tanpa mendukung poit - point negatifnya .apakah subjeknya kematian, penyiksaan atau ketidak perdulian yang menjadi kenyataan karena adanya satu negara menurut saya point - point negatifnya lebih besar daripada point - point positif”(MRR #39 Agustus 1986, Martin Sprouse) Protes serta seluruh pendekatan anti- perang yang dilakukan sayap kiri hanya mempromosikan perasaan ketidak percayaan serta keputusasaan individual yaitu dengan memperlihatkan satu - satunya cara mengoposisi perang adalah dengan ikut terlibat dalam sebuah grup dan menitipkan (atau memberikan) kekuatan pada ketua - ketua grup - grup tesebut __..Media sendiri hanya tertarik pada beberapa statement yang diberikan oleh pemimpin - pemimpin atau selebritis_.satu - satunya yang dapat dilakukan adalah dengan membeli T-Shirt atau menulis surat _..bagi sayap kiri metode - metode proses sudah mengalami proses pra - definisi dan merupakan aturan yang cukup ketat mengikat serta hanya berarti kembali pada “hirarki, garis otoritas dan mengambil keuntungan - keuntungan sementara tetap mempertahankan posisi tanpa berusaha mengenali bahwa hal - hal tersebut merupakan kekuatan yang bertanggung jawab akan konflik di teluk : perintah yang harus dipatuhi prajurit adalah berdasarkan sistem yang sama dengan yang kita pelajari dirumah sehari - hari. Pesan dari protes perang teluk tersebut sudah menjadi sangat jelas tereduksi menjadi : Katakan kemarahan kamu (Dengan cara yang paling keras sehingga mendapat perhatian) kemudian pulang kerumah dan nonton televisi”(MRR # 99 Agustus 1991, New World Order) Karakterisasi an kegagalan dari resistensi sayap kiri akan perang teluk memiliki kecenderungan yang sama dengan sayap kanan_..dimana ditolak oleh para anarkis karena selalum menggunakan teknik dominasi_dimana pemimpinnya memberikan perintah pada para pengikutnya yang dengan membabi buta mengikuti perintah - perintah tersebut “Para formal kiri mendominasi dengan satu isu tunggal seakan - akan peniti karir profesional mengusahakan perubahan melalui jalur birokrasi serta mencari status - status dalam perjuangan, semua ini seakan ingin menunjukkan kalau mereka adalah para revolusioner “profesional”_Mirip dengan para komunis sayap kiri juga mencari pembenaran lewat “usulan - usulan” untuk mendukung pemilihan suara bagi para politisi “progresif” yang cepat atau lambat akan menjual suara - suara yang mereka dapat demi kekuasaan dan uang atau kemudian malah menandatangani undang - undang yang akan menindas para pemberi suaranya_. Semua orang yang menyempatkan diri untuk bekerja pada grup - grup non profit yang memiliki “tujuan” pasti pernah memiliki pengalaman akan hal - hal seperti yang dituliskan diatas. Tentu tidak menutup kemungkinan terdapat hal - hal baik yang berhasil dilakukan demokrat - demokrat kiri akan tetapi para Anarkis melihat yang mereka lakuakan hanyalah dibagian kulit luarnya saja dan bukan perubahan yang sebenarnya. Kritik paling mendasar bagi politik sayap kiri adalah bagaimana bagusnyapun proposal akan perkembangan mereka cenderung menginginkan perubahan dengan menjadi bagian dari sistem yang korup dan destruktif..sedangkan para Anarkis hanya tertarik pada PERUBAHAN TOTAL. “jutaan rakyat Amerika Serikat amat sangat tidak puas dengan semua pengatur mereka serta semua pengatur - pengatur yang mengontrol hidup mereka dalam semua tingkatanmeskipun demikian orang - orang ini bukanlah para revolusioner karena mereka masih mempercayai institusi - institusi demokrasi.selama orang - orang masih percaya bahwa mereka dapat memilih orang - orang yang tepat untuk memimpin mereka”legedna demokrasi” inilah yang merupakan satu kekuatyan busuk yang membuat keadaan yang kita hidupi sekarang ini hidup terus. “Legenda Demokrsai” inilah yang menjadi kekuatan pemerintah semua negara di dunia didalamnya beserta para sayap kira maupun kanan mereka beserta politik - politik “progresif” mereka. Tentu saja amt menggoda pada saat ini untuk percaya disuatu tempat masih ada politisi jujur dan baik yang dapat dipilih dan membuat perubahan positif (Ingat legenda satria piningit di Indonesia)jikapun ada manusia yang sejujur ini (baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan) keterlibatan mereka dalam status quo tentu saja menjadikan mereka kandidat - kandidat penguasa berikutnya. Bahkan bila terjadi suatu keajaiban yang memungkinkan adanya para pemimpin - pemimpin “yang baik ini” maka akan muncul sebuah masalah yaitu ketidakpercayaan para reformis ini akan individual - individual serta komunitas - komunitas untuk memecahkan masalah mereka sendiri(lihat kasus - kasus yang trjadi di Indonesia pada saat ini), hal ini dikarenakan para reformis tersebut merasa orang - orang tidak sanggup mengurus urusan - urusan mereka sendiri serta merasa otoritas diperlukan untuk memimpin semua orang dengan sukses ke arah yang lebih baik. “Saya pikir adalah suatu kesalahan besar bergantung pada pemerintah dalam menjalankan satu reformasi ke arah masyarakat yang lebih adil, karena semua masyarakat statis selalu berdasarkan pembagian kelas dan ketidaksamaan”(PE # 13, Maret 1992 hal 6, Felix) bentuk - bentuk reformasi selalu dibesar - besarkan oleh sayap kiri daripada menyerang ke jantung sistem dan menghadapi langsung penyakitnya : sebagai contoh dalam masalah tunawisma dan orang miskin hanya merupakan window dressing dalam agenda - agenda mereka tanpa menyerang langsung keadaan SELURUH SISTEM yang KORUPdan RAKUS yang menyebabkan hukum - hukum kapitalisme. “Jikalau ada sesuatu hal yang perlu diungkapkan maka hal tersebut hanyalah ketertarikan kelas penguasa dan negara akan jutaan individual yang ada di dunia sehingga menjadi cerdas dan membaktikan waktu dalam, hidup mereka untuk berusaha keras tanpa perduli sama sekali akan kehidupan mereka sehingga tidak akan pernah mempengaruhi struktur kekuatan yang dominan saat ini sama ksekali.”(Ibid) Para Anarkis Punk menolak semua fungsi pemerintahan penting untuk dituliskan disini mengenai kemungkinan - kemungkinan yang mereka tawarkan beserta kemungkinan - kemungkinannya juga konsepsi - konsepsi akan Anarkisme akan hal - hal yang telah dikritik diatas. Band Punk pertama yang secara serius tertarik akan Anarki adalah CRASS asal Inggrisuntuk detail sejarah mereka secara lengkap termasuk asal mula dan petualangan mereka maka sebaiknya mencari buku Shibboleth yang ditulis Penny Rimbaud_s..CRASS adalah sebuah komunitas yang terdiri dari kurang lebih dua belas orang, selain sebuah Band mereka juga membuat film, koran dan label rekaman.Band ini dibentuk tahun 1978 sebagai reaksi dari menjamurnya penerimaan serta fashion Punk. Praktek bisnis CRASS ini yang kemudian berkembang menjadi praktek bisnis standar para penerus yang terinspirasi oleh mereka. juga dalam hal merchandise. Hanya dengan penghormatan akan pandangan pacifisme merekalah yang membuat sebagian Anarkis Punk mengacu pada CRASS sebagai salah satu point utama akan referensi ideal para Anarkis Punk. “Anarki adalah satu - satunya bentuk pemikiran politik yang tidak mencari keuntungan atau berusaha mengontrol orang lain lewat kekerasan”(Flipside # 23 Maret 1981, CRASS) CRASS mengutuk baik partai - partai sayap kiri maupun kanan yang menggunakan kekuatan untuk mengontrol maupun memeras orang lain.memiliki ide akan negara sama dengan memiliki ide akan penyerahan sebagian aspek kehidupasn seseorang pada negara (yang dalam beberapa kasus malah menyerahkan hidup mereka)..” Anarki adalah penolakan akan kontrol negara dan representasi akan permintaan bagi individual untuk menghidupi pilihan hidupnya serta tidak lagi perduli pada segala manipulasi politikdengan penolakan pada kontrol maka hal tersebut tidak lain berarti tanggung jawab personal akan semua gangguan an pelecehan yang dilakukan pemerintah. ” Dengan menolak untuk dikontrol kamu mengambil kembali hidup kamu ke tangan kamu dan hal inilah yang disebut Anarkikarena Anarki bukanlah chaos..Anarki adalah suatu keadaan dimana kamu mengatur diri kamu sendiriinilah keadaan Anarki..bukan suatu ajang chaos dimana semua orang melakukan apa yang mereka inginkan tanpa tanggung jawab”(Ibid) Anarki adalah ketika individu - individu hidup bersama dalam kepercayaan dan penghormatan akan satu sama lain. Pertanyaan tentang bagaimana Anarkisme memastikan untuk menghidupi pilihan personalnya dalam keadaan masyarakat sekarang sering menjadi dilema, anarklis dengan tegas tidak dapat memaksa orang lain untuk menerima apapundimana hal ini hanya membawa pada diperlukannya proses pengajaran dan internalisasi untuk mencegah prejudis dan keserakahan. “Penghormatan akan orang lain (termasuk properti) tidak dapat sesederhana memintanya begitu saja karena hal ini merupakan proses belajar..Masyarakat kapitalisme dimana kita hidup sekarang ini merupakan contoh akan masyarakat yang dibangun dalam keserakahan..sebuh proses sosialisasi yang dipaksakan dalam kehidupan keseharian kita sehingga terbiasa memperlakukan manusia lainnya sebagai objek.” (PE # 5 ,Anonymus) Dengan kata lain Anarkis atau orang - orang yang menginginkan suatu akhir perubahan yang positif harus bersedia mengajarkan dan “mensosialisasikan” masyarakat untuk berfikir dalam isu - isu yang manusiawi sehingga memungkinkan untuk membuat suatu masyarakat yang bebas benar - benar terjadi. Untuk mencapai perubahan akan suatu ideologi tanpa pemerasan maupun kekerasan para Anarkis harus berfikir umat manusia mampu dan menginginkan perubahanjika tidak maka para Anarkis hanya akan kembali jatuh dalam lingkarasn setan dimana memaksa dengan menggunakan sikap yang sama dengan hal - hal yang mereka benci.suatu kontradiksi bagi para Anarkis untuk memaksakan hal - hal yang dipercayainya pada orang lain.secara alami tidak ada orang serakah, egois dan saling membenci satu sama lain karena memang “bersifat” demikiankarena hal tersebut merupakan hal yang dikondisikan oleh masyarakat yang dari lahir hidup dalam masyarakat yang mengeksploitasi satu sama laininilah hal yang dibutuhkan sistem yang kita hidupi sekarang terus berjalantentu saja jika seorang anak ditunjukkan pada ide - ide pacifis serta humanitarian yang baik dan bukan ide - ide yang dengan mudah dapat mereka temui dikeseharian pada saat ini, masyarakat tentu saja akan memiliki pandangan yang berbeda dengan yang ada sekarang ini di seluruh dunia(MRR # 48 April 1987/ Band New York A.P.P.L.E) Para Anarkis harus memikirkan bahwa semua orang mampu mengatur diri mereka atau Anarkisme hanyalah menjadi satu hal yang elitis dan mengatakan bahwa goal yang ingin mereka capai adalah satu hal yang tidak mungkinIde - ide tersebut seringkali berdasarkan asumsi bahwa sifat alami manusia sebenarnya baik dan dibuktikan oleh pengamatan Kropotkin bahwa semua kemungkinan befungsi tebaik ketika mempraktekan saling tolong menolong, pemikiran ini adalah yang kemudian menjangkau dari pemikiran Aristoteles akan suatu keyakinan bagi pekerjaan profilik linguistik hingga Noam Chomskyhal lain yang perlu untuk diketahui adalah para Anarkis yang telah menyerah pada basis massa mayoritas Anarkis setuju akan usaha “pembelajaran” tanpa harus menjadi seorang pemimpin. “Dengan satu atau lain hal orang - orang harus mempelajari Anarkisme. Tetapi pada saat ini kebanyakan propaganda anarkis kelihatan seperti ceramah pada orang - orang bodoh” Bagi para intelektual apalagi orang awam amat sangat sulit melihat gerakan Punk sebagai kekuatan yang serius bagi revolusi. Imaji media akan Punk rocker adalah seseorang yang biasa ngobat dan merusak diridan hal inilah yang melemahkan Punk sebagai satu ancaman politikmeskipun demikian hal ini tidak menghentikan gelombang baru Anarkis Punk membuat retorika - retorika akan perubahan dan tindakanselama kurun waktu 80 an hingga 90 an Anarchist Youth Federation(di Minnesota, Tennessee, CaLifornia dan Maryland), Twin Cities(Mineapolis) Anarchist Federation, Cabbage Collective (Philadelphia), Tools Collective (Boston), Positive Force (Washington DC) serta banyak lagi organisasi - oraganisasi lain yang melakukan banyak kegiatan seperti pertunjukkan/acara dan pengumpulan dana bagi tujuan - tujuan yang baik. Pada saat ini collective Punk berkembang dan menyusut dengan cepat diseluruh penjuru duniacontoh paling baik akan semangat kolektif adalah apa yang dilakukan oleh Positive Force di Washington DC. “Positive force (PF) adalah grup yang terdiri dari anak - anak muda di darah DC yang bekerja bersama - sama bagi perubahan. Kami mengorganisasikan pengumpulan dana dan pertunjukkan - pertunjukkan gratis, demonstrasi serta pengajaran - pengajaran berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan orang - orang yang membutuhkan. Kami menentang rasisme, seksisme, Homofobia, militerisme, kekerasan, ketidaksamaan ekonomi serta sensor dan banyak lagi hal - hal jelek lainnyaPF bukanlah bagian dari suatu partai politik atau rantai komando kepemimpinan karena merupakan kumpulan anak - anak muda yang bekerja bersama - sama demi perubahan.”(Pamflet PF) PF sangat aktif dalam berbagai protes anti perang teluk serta mengumpulkan ribuan dolardbagi berbagai tujuan seperti bank makanan, Washington Peace Center, AIDS Center dan banyak lagi lainnyameski PF masih sering dianggap statis dan Reformis oleh banyak Anarkis yang lebih radikal secara sukses PF telah membangun komunitas dan kesadaran. Sebuah buku sedang ditulis oleh pendiri(bukan pemimpin) PF Mark Andersen tentang filosofi serta sejarah scene Punk di Washington DC. Sekali lagi kebanyakandari para Punk I iterinspirasi oleh kata - kata dan tindakan - tindakan band - band politikal Punk seperti CRASS. Secara khusus CRASS pernah bekerjasama dengan Campaign For Nuclear Disarmament (CND) di awal tahun 80 an. Steve Ignorant mencoba mengingat hal tersebut “Pertama kali kami mengunjungi tempat tersebut kantor CND di Kings Road hanyalah kantor kecil berisi dua orang dengan poster - poster 60 an dimana - mana. Kami katakan kami akan bekerja sama dengan mereka.mulai saat itu Punk mulai mengenakan simbol Peace dan mempelajari tentang sejarah perang.sejak saat itu dimulailah semuanyakita mulai menunjukkan situasi yang sebenarnya pada orang - orang dimana tidak ada yang lemah dan Hippies akan perdamaian”(MRR # 62 Juli 1988, Steve Ignorant CRASS) hal lain yang dilakukan CRASS serta band - band lainnya adalah dengan membuka Anarchy Center di London, tempat ini digunakan sebagai toko buku, tempat bermain band dan squat bagi mereka - mereka yang tidak memiliki tempat tinggal.sayangnya center ini kemudian ditutup karena tindakan Vandalisme dan dijadikan tempat penggunaan obat - obatan bagi mereka yang mengartikan “NO RULE ” berarti tanpa TANGGUNG JAWAB..Center - center yang mirip dengan ini kemudian berkembang sepeti EMMA Center yang terdapat di Mineapolis, mereka menghindari penggunaan obat - obatan dan vandalisme sehingga terhindar dari yang terjadi pada pendahulunya. Sebelum lebih jauh membahas pada metode - metode yang digunakan para Anarkis untuk mendapatkan tujuannya serta berbagai argumen akan pacifismeperlu digarisbawahi bnahwa banyak Anarkis yang hanya memiliki Goal - goal yang sangat terbatas. Biasanya Anarkis Punk tersebut cukup puas dengan lingkaran teman - teman mereka sendiri serta menolak menyebarkan Anarkisme dengan skope yang lebih luas. Sikap ini dapat diinterpretasikan sebagai satu konsepsi bahwa dirinya adalah Anarkis tetapi tidak menerima fakta bahwa orang lainpun dapat mengatur diri mereka sendiri.ide ini merupakan cerminan budaya borjuissuatu kepercayaan bahwa “saya OK dan orang - orang lainlah yang ngaco” bukanlah Anarkismehal - hal inilah yang sering terdapat dalam tulisan - tulisan Anarkis Punk. Anarki secara personal merupakan subjek akan klaim statis bahwa Pemerintah dan bentuk - bentuk penegak hukum diperlukan untuk mencegah pembunuhan dan pencurian.sedangkan para komunis maupu republikan yang paling taat sekalipun akan menyangkal membutuhkan pemerintah untuk mengontrol dirinya sendiri.mereka mengatakan hal tersebut dibutuhkan oleh MASSA(untuk lebih lengkap tentang gerakan ANTI - MASSA tunggulah terjemahan dari Nothing Left Collective)meskipun demikian Anarki Personal (yang berarti hanya menyimpannya bagi diri sendiri tanpa berusaha berkomunikasi dengan orang lain) adalah elitis dan counter revolusionari.orang - orang ini telah menyerah akan harapan bagi perubahan besar dalam masyarakat, tetapi bila mereka juga tetap aktif menyebarkan pandangan mereka pada orang lain dalam lingkungan mereka, hal inilah yang membuat mereka masih dianggap kontibusinya dalam komunitas Anarkis Punk.. Pacifisme telah menjadi subjek penting dalam komunitas Anarkis akhir - akhir ini, kondisi invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 91 membuat mereka mencari cara baru dalam resistansi.band - band Anarkis pada awalnya mempraktekkan Pacifisme sebelum mereka sendiri yang kemudian menolak pandangan tersebutBand - band Inggris seperti CHUMBAWAMBA dan CRASS serta band Skotlandia POLITICAL ASYLUM adalah yang pertama - tam menyuntikkan pandangan ini. “Tidak ada kontradiksi antara Anarkisme dan PacifismePacifisme bukanlah menjadi Pasif.bagi saya Pacifisme merepresentasikan penolakan yang dalam untuk mengambil nyawaide bahwa Pacifisme adalah kepasifan adalah se naif ide bahwa Anarki adalah Chaos” (Flipside, CRASS) CRASS adalah yang menunjukkan pacifisme bukanlah respon pengecut pada kekuatan. “Sebagai seorang Pacifist saya berdiri menentang organisasi militerisme, saya percaya bahwa penggunaan kekuatan untuk mengontrol orang lain adalah pelanggarang harga diri manusia, jika saya menemukan diri dalam posisi dimana kekuatan mengancam saya secara langsung serta akan melanggar hak - hak serta harga diri saya maka saya akan mencegahnya dengan melakukan semua hal yang saya bisa. Dalam situasi tersebut saya TIDAK AKAN MENGECUALIKAN PENGGUNAAN KEKERASAN. Pacifist Tidak Ingin Menjadi MARTIR meskipun demikian Pacifisme menekankan bahwa TANPA - KEKERASAN adalah sejalan dengan Anarkisme. Bahwa OTORITAS adalah SALAH bahkan bila ANARKI sekalipun menjadi OTORITA maka hal tersebut amat sangat salahPacifist Punk menemukan sangat suli bagi mereka menyebarkan pandangan tersebut dalam komunitas dimana Pacifisme sering diartikan dalam konotasi mainstream seperti yang dilakukan GANDI. ” Banyak orang masih percaya Pacifisme secara terbuka sangat mudah diinfiltrasi musuhdaripada satu fakta yang sangat jelas bahwas PERANG = KEMATIAN=KESALAHAN. Logika dasar yang fundamental ini dianggap BENAR TAPI TIDAK REALISTIK dalam dunia dimana keserakahan dan Paranoia membuat PATRIOTISME seakan - akan hal yang alami kedua setelah SURVIVAL..”(SUB HUMAN EP RATS .Bluurgh records 1983) Perdebatan yang lebih mendalam akan pandangan pacifist Anarkis datang dari perbedaan antara ENDS (hasil akhir) dengan MEANS (maksud dan tujuan)hal ini adalah karena kesadaran amat sangat sulit untuk menghancurkan semua negara disunia tanpa menghancurkan orang - orang yang mereka perangi. Saya kebetulan salah satu orang yang percaya hasil akhir dan meksud serta tujuan harus merupakan satu hal yang konsisten yang berarti berbohong, membunuh dan berdusta sejauh yang saya bisa tidak akan pernah saya lakukan”(MRR # 77 Oktober 1989, Mike Gunderloy editor Factsheet Five) Bagi pacifist yang tergabung dengan para Anarkis REVOLUSI HANYA BISA DATANG LEWAT EDUKASIkarena hanya dengan menunjukkan tanpa memaksakan maka setiap orang dapat MEMBEBASKAN DIRINYA SENDIRI sebagai pijakan kuat jika menginkan satu revolusi menciptakan masyarakat Anarkis benar - benar terwujud. Seringkali para Anarkis yang menggunakan kekerasan “bertindak dari ego daripada hati dan membuat mereka semakin sering menggunakan kekerasan dari yang mereka butuhkan” (Assault With Intent to Free (AWIF) # 9 musim gugur 1991 hal 34, SKULL) Pacifist memegang pandangan bahwa “memproduksi literatur dan debat dalam suatu isu akan lebih lebih meyakinkan orang daripada menggunakan molotov”(Ibid) Alasan utama Anarkis Punk menjadi Pacifist terletak pada ide akan Anarki sendiri ” Dengan goal - goal menuju ketidak adaan pemerintah serta opresor - opresornya, kekerasan oleh para Anarkis sama sekali tidak mencerminkan pernyataan Anarkis selama ini yang menentang kekerasan yang dilakukan dalam politik yang selalu terjadi”(PE # 5 hal 11. Tood Mason editor IN* CIT) Hal lain yang merupakan alasan jelas bagi para Anarkis untuk mengadopsi sikap -sikap anti kekerasan adalah perbedaan jumlah kekuatan antara Punk serta Counter Culture Freaks lainnya dengan pemerintah - pemerintah yang mereka hadapi di semua negara di dunia. Kesadaran bahwa sangat tiak mungkin menggulingkan pemerintah sendirian apalagi mengharapkan warga negara status quo membantu mereka. Hal lain adalah sangat tidak berguna bila ngotot dan tertangkap apalagi terbunuh. “Bermain - maion dengan romantisme revolusi adalah kekuatan massa yang disertai penggunaan kekerasan akan membuat sesorang terbunuh jauh sebelum waktunya mati ; atau paling tidak berada di balik terali besi.bahkan jika kekerasan tersebut berdasarkan bela diri murniapa kamu masih mendengar kabar terakhir dari Black Panther defensif yang bersenjata lengkap akhir - akhir ini ??” (Ibid) masih banyak Punk masih menganggap serius romantisme - romantisme klasik revolusi dengan melakukan kejahatan - kejahatan kecil tidak efektif atau tindakan - tindakan atas nama revolusi imajinerPacifist Punk mendorong para Anarkis lainnya jika masih banyak yang harus dilakukakan sebelum (Semoga saja tidak diperlukan) suatu tindakan kekerasan dijustifikasi sebagai suatu tindakan bagi terbentuknya masyarakat Anarkis saat ini “semakin banyak tindakan - tindakan tidak berguna yang dilakukan akan menghasilkan lebih banyak orang mengatakan dan menulis kita adalah Punk - punk tanpa otak yang belum dewasa” (AWIF, SKULL) Kontradiksi yang selalu menjadi bagian dari dunia Punk terjadi kemudian ketika beberapa dari para penggagas ide Pacifist sendiri yang kemudian mempertanyakan gagasan tersebut. Anggota - anggota band Inggris Chumbawamba serta Steve Ignorant dari CRASS sendiri yang kemudian menolak dan melihat Pacifist sebagai ide naif. ” sayang sekali dunia nyata tidak berdasarkan premis - premis moral, jika politik dan perubahan revolusioner adalah tentang moral.kita telah menang berabad - abad yang lalupada saat - saat dan tempat - tempat tertentu kita ternyata harus menggunakan kekerasan (MRR # 104 januari 1992, Ramsey Kanaan, Political Asylum)bahkan semakin lama Pacifist dilihat sebagai satu taktik yang tidak menguntungkan ” saya percaya filosofi Pacifist sebagaimana saya mempercayai tuhantetapi didunia nyata saya kesulitan untuk membuktikan Tuhan eksis! Ini dunia nyata dengan kekerasan nyata yang banyak terjadi dalam masyarakat kita. Dengan tidak mempersiapkan diri untuk berhadapan dengannya baik mental maupun fisik adalah satu resiko besar untuk diambil”(PE # 5, Dan sang Edit- terrorist) Felix serta Dan dari kolektif PE seringkali memberikan informasi dalam fanzine mereka bagi persiapan - persiapan menghadapi kekerasan. Artikel yang direkomendasikan disini adalah yang dimuat dalam buku “MAKING PUNK A THREAT AGAIN” dalam sub titel Turn Up The Heat dimana Felix memberikan kebutuhan akurat akan pengetahuan minim penggunaan senjata api. Tidak ada kriteria yang pasti yang dapat diberikan untuk menentukan kapan dan bagaimana kekerasan dapat diterima.
Salah satunya yang terjadi dalam konflik selama protes - protes anti - perang teluk dimana Pasifis sering diprotes karena liberal dan tidak efektif “Minggu - minggu pertama protes di San Fransisko membuat ketegangan antara Pasifis mainstream dengan mereka yang menggunakan konfrontasi langsung yang radikal. Kami semua menyaksikan demonstrasi “damai” hanyalah kedok untuk mempertahankan depot - depot rekruitment kadang mereka malah membantu memadamkan api yang disulut demostran lainnya.sambil meneriakkan “anti - kekerasan” yang terngiang terus di kepala kami” (MRR # 100 september 1991, “The War At Home”)
Penulis di atas telah menolak Pasifisme tanpa menyadari spektrum yang dipancarkan pandangannya dia merasa Pasifisme didukung oleh kesadaran tinggi yang termanifestasi secara puritan dalam kebenaran diri serta tidak menyisakan tempat bagi kemarahan dan spontanitas “seperti halnya menciptakan massa tanpa warna yang ingin menjadi martir dan ketakutan akan energi hidup yang tidak terkontrol dibandingkan ketakutan akan kematian.” (MRR # 99, New World Order) Sementara saya setuju dengan kutukan diatas perlu digarisbawahi bahwa bukan penyerahan diri yang membuat gelombang protes anti perang teluk pada saat tersebut karena bagi sebagian orang hal tersebut merupakan taktik - taktik untuk mencapai tujuan dimana kadang kekerasan diperlukan tetapi kadang pula menjadi counter produktif” (Ibid)
Mengakui terdapatnya banyak kekerasan dalam hidup kita serta mengatakannya sebagai satu hal yang salah kelihatannya tidak menghentikan orang lain untuk melakukan hal tersebutide bahwa kekerasan adalah satu - satunya yang menghasilkan sesuatu adalah argumen yang sangat berbahaya, seperti halnya argumen “mungkin akan membuat lebih baik” yang sangat ditentang para Anarkis.
Para Punk non Pasifis sejauh ini tidak mengakibatkan kekerasan akan manusia bagi signifikansi politik mereka. Perkelahian dengan polisi seringkali terjadi sepanjang tahun 80-an (bahkan hingga sekarang) tetapi biasanya terjadi akibat dilarangnya acara-acara atau pertunjukkan. Punk tidak pernah terlibat dalam kekerasan berkedok revolusi atau pembunuhan politik, yang pasti Punk sama sekali tidak berorientasi kekerasan tidak perduli apa yang dikatakan media. Hanya baru-baru ini saja Punk secara serius tertarik dengan perjuangan bersenjata. Material - material yang tersedia tentang Red Army Fraction atau Angry Brigade, Weatherman serta Black Panther serta kelompk-kelompok yang memilih jalur perjuangan bersenjata seringkali di review dalam fanzine - fanzine hal ini ditambah dengan populernya perjuangan EZLN di Meksiko yang membuat semakin banyak Punk menolak ideologi PacifismeDiharapkan banyak lagi mereka yang memilih jalur - jalur lain untuk mensupport perjuangan diseluruh dunia bagi kemerdekaan individu mempersiapkan diri mereka dengan baik. Sementara kekerasan terhadap otoritas seringkali direview dalam berbagai sudut pandang yang bertentangan, kekerasan terhadap properti telah menjadi statement yang umum dari kedua belah pihak untuk meminta perubahan. Para Punker dari seksi - seksi lingkungan hidup sering mengacu pada tindakan - tindakan yang menacu pada vandalisme dan pengrusakan properti. Tindakan - tindakan tersebut seringkali tidak terpublikasikan dengan baik sehingga menutupi signifikansi mereka, membuat pandangan umum melihat tindakan mereka sebagai hooliganisme. Para Punk di Belanda menghancurkan stasiun bensin SHELL dengan molotov karena keterlibatan mereka di Afrika Selatan, belum lagi Punk diseluruh penjuru dunia menghancurkan laboratorium penyelidikan yang menggunakan binatang sebagai percobaan serta properti-properti pendukungnya, billboard seringkali dirusak dan diganti untuk menyampaikan pesan - pesan politik.
Bagi para Pacifist Punk biasanya sejalan dengan hal - hal diatas karena pacifist mereka hanya berlaku bagi mahluk hidup. Selama protes anti perang teluk Punk menemukan cara - cara untuk membuat konflik adalah dengan meningkatkan jumlah kerusakan material yang terlibat dalam perang tersebut yaitu dengan propaganda perusakan properti serta penggunaan cat semprot yang mengacu pada vandalisme ; hal ini dimaksudkan secara langsung menghancurkan operasi militer dengan menduduki stasiun - stasiun rekruitment dan memblokade pengiriman persenjataan serta berusaha menghambat semua koneksi yang membuat perang berlangsung terus bahkan lewat jalur kekerasan”(MRR # 100 September 1991, New World Order) PE sangat vokal dalam dukungan - dukungan mereka bagi penghancuran Properti. Editorial PE seringkali menganjurkan dan menuliskan berbagai aksi. Editor PE Dan pernah menuliskan keterlibatannya dalam aksi anti perang teluk di DC “aksi yang pertama - tama bertempat di gedung pemerintahan pertama yang kita lewati. Beberapa pembayar pajak berlarian ketika batu mulai dilemparkan ke jendela - jendela dan dinding - dinding dilumuri cat. Uang dapat mengganti jendela dan kaca baru tetapi seberapa banyakpun tetap tidak dapat mengganti nyawa manusia yang melayang dalam peperangan demi pemerintah” Penghancuran properti tudak hanya dapat dilihat sebagai statement politik karena banyak Punk sekaligus mengadopsi hal tersebut sebagai satu cara bersenang - senang. Punk mengadopsi cara - cara yang biasa digunakan EARTH FIRST! yaitu DIRECT ACTION. Penyabotan dan penghancuran sistem adalah bagian utama dari gerakan Punk meskipun demikian aksi - aksi mereka jarang melibatkan konfrontasi fisik kecuali bila melibatkan Skinhead atau polisi.

Filosofi Punk - Anarkisme
On 28th September 2006

Read More......