Hari kartini yaaaaa
MET HARI KARTINI BAGI PARA PEREMPUAN INDONESIA. KESETARAAN GENDER BUKAN BERARTI MELUPAKAN TANGGUNG JAWAB TERHADAP KELUARGA. OK
MET HARI KARTINI BAGI PARA PEREMPUAN INDONESIA. KESETARAAN GENDER BUKAN BERARTI MELUPAKAN TANGGUNG JAWAB TERHADAP KELUARGA. OK
Diposting oleh
egois
di
4:47:00 AM
0
komentar
Sex intelec Yogyakarta, merebak dalam alur-alur birokrasi pendidikan. Birokrasi sex tersusun secara terorganisir rapi ada di dalam setiap Universitas-universtas. Komunitas mereka yang semakin eksis mempunyai peran tersendiri dibandingkan dengan komunitas-komunitas lain. Komunitas yang sering disebut ayam, lebih bias menjaga persahabatan kepada teman-teman kuliahnya, jati dirinya sebagai ayam kampus seolah terus tertutup rapi. Dengan prisai intelek muda dan masih mengenyang pendidikan tinggi secara bebas ayam kampus melancarkan kerja-oprasi sex.
Diposting oleh
egois
di
2:43:00 AM
0
komentar
sex dikalangan intelek baru-baru ini semakin bebas sebebasnya, beberapa kejadian yang mengarahkan dari perubahan budaya. Budaya timur yang syarat dengan adat dan norma sedikit demi sedikit mulai tergeser oleh budaya barat yang memfokuskan pada kebebasan individu. Dengan banyaknya orang asing datang ke asia timur khususnya Indonesia, akan membawa kebudayaan mereka secara tidak langsung. Kebudayaan atau yang sering dikenal dengan kebiasaan tersebut pasti akan tertinggal dan di kembangkan oleh warga Indonesia.
Diposting oleh
egois
di
4:52:00 AM
0
komentar
(pesona sex gunung kemukus)
Pangeran samudra dipercaya salah satu keturuan dari mataram, kisahnya yang melegenda dengan nyai kumitir sangat tersohor di penjuru pulau Jawa dan merupakan salah satu cerita rakyat. Legenda pangeran samudara di gunung kemkus memilikin banyak fersi dan masyarakat jawa percaya makam yang terletak di gunung kemukus membawa berkah tersendiri, bahkan makam pangeran samudro dan nyai kumitir dianggap memiliki tuah atau kekuatan gaib yang memberi keselamatan atau berkah bagi gara pezarah.
Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, 30 km sebelah utara Solo. Untuk mencapai daerah ini tidak terlalu susah, dari Solo kita bisa naik bis jurusan Purwodadi dan turun di Belawan (di sebelah kiri jalan akan kita temukan pintu gerbang yang bertuliskan "Daerah Wisata Gunung Kemukus") dari sini kita bisa naik "ojek" atau berjalan kaki menuju tempat penyeberangan dengan perahu. Perlu diketahui bahwa sejak penggenangan Waduk Kedung Ombo, Gunung Kemukus menjadi seperti sebuah "pulau" tetapi pada waktu musim kemarau air akan surut dan praktis kita tidak memerlukan lagi jasa penyeberangan.
Di Gunung Kemukus inilah terletak sebuah makam yang dikeramatkan banyak orang yaitu makam Pangeran Samudro, sehingga peziarah berdatangan ke tempat ini untuk memohon berkah/keberhasilan. Sebenarnya ada banyak maksud orang datang ke tempat ini, mencari pesugihan (kekayaan), memohon jodoh, mohon agar naik pangkat/mendapatkan pekerjaaan, menikmati seks bebas dan sebagainya, dahulu sewaktu masih ada undian nasional berhadiah (KSOB, PORKAS, TSSB, SDSB) orang berdatangan meminta angka-angka rama lan.
Menurut Humas Kabupaten Sragen, wilayah ini mulai tahun 1983 dikelola oleh Dinas Pariwisata Sragen, setelah sebelumnya dibawah pengelolaan Dinas Pendapatan Daerah. Gunung Kemukus identik sebagai kawasan wisata seks karena di tempat ini orang bisa sesuka hati mengkonsumsi seks bebas dengan alasan untuk menjalani laku ritual ziarahnya, itulah syarat kalau mereka ingin kaya dan berhasil. Dalam suatu aturan yang tak resmi disyaratkan bahwa setiap peziarah harus berziarah ke makam Pangeran Samudro sebanyak 7 kali yang biasanya dilakukan pada malam Jum'at Pon dan Jum'at Kliwon atau pada hari-hari dan bulan yang diyakhini baik, melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang bukan suami atau istrinya (mereka boleh membawa pasangannya sendiri atau mungkin bertemu di sana), pada hari yang terakhir kedatangannya yang ke 7 kalinya, peziarah harus melakukan slametan (semacam syukuran dengan menyembelih ayam atau kambing) yang dipimpin oleh juru kunci untuk mensyukuri penggenapan laku ziarahnya itu dan memohon berkah agar keinginannya berhasil.
Pertama kali pengunjung yang bermaksud berziarah datang biasanya mereka harus menemui juru kunci, kepada juru kunci mereka mencer itakan apa maksud kedatangannya, setelah itu masuk ke dalam beranda makam dan menaburkan kembang telon/bunga tiga macam sambil memohon agar terkabul permintaannya. Syarat laku yang kemudian dilakukan adalah tradisi "bersetubuh" dengan pasangan yang bukan suami atau istrinya dan mereka sengaja tidak tidur semalam dengan menggelar tikar di bawah pohon di sekitar makam bersama pasangannya itu.
Legenda Pangeran Samudro Sebagai Latar Belakang adanya kepercayaan laku ziarah.
Sebagaimana umumnya tempat-tempat ziarah lainnya, tumbuh subur pula legenda disekeliling obyek wisata Gunung Kemukus. Dalam kompleks ini selain terdapat makam Pangeran Samudro juga terdapat makam ibu tirinya dan para pengikutnya, dan didekatnya terdapat Cerita tentang Pangeran Samudro sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di sekitar Gunung Kemukus walaupun cerita tersebut tidak jelas asal-usulnya dan terdapat dalam banyak versi, catatan-catatan sejarah tidak ada yang pernah mengungkapkan kebenaran cerita ini.
Dikisahkan tentang seorang Pangeran dari kerajaan Majapahit yang bernama Pangeran Samudro (ada yang menyebut bangsawan ini berasal dari Majapahit, ada pula yang menduga dari zaman Pajang), si oedipus yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri (Dewi Ontrowulan). Ayahanda Pangeran Samudro yang mengetahui hubungan anak-ibu tersebut menjadi murka dan kemudian mengusir Pangeran Samudro. Dalam kenestapaannya, Pangeran Samudro mencoba melupakan kesedihannya dengan melanglang buana, akhirnya ia sampai ke Gunung Kemukus.
Tak lama kemudian sang ibunda menyusul anaknya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan. Namun sial, sebelum sempat ibu dan anak ini melalukan hubungan intim, penduduk sekitar memergoki mereka berdua yang kemudian merajamnya secara beramai- ramai hingga keduanya meninggal dunia. Keduanya kemudian dikubur dalam satu liang lahat di gunung itu juga. Tapi menurut ceritera, sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Pangeran Samudro sempat meninggalkan sebuah pesan yaitu kepada siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang tidak sempat terlaksana itu akan terkabul semua permintaannya.
Konon selengkapnya ia berujar demikian, "Baiklah aku menyerah, tapi dengarlah sumpahku. Siapa yang mau meniru perbuatanku , itulah yang menebus dosaku dan aku akan membantunya dalam bentuk apapun.
Cerita-Cerita Lain Tentang Pangeran Samudro.
Dalam sebuah brosur yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Sragen (sekarang sudah tidak beredar lagi) diterangkan bahwa Pangeran Samudro adalah seorang pahlawan, karena itu ia patut dicontoh. Dalam data historis versi Pemda itu tercatat, pangeran Samudro pernah hidup pada saat runtuhnya kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1478. Ketika Majapahit bedah, dan muncul Raden Patah sebagai raja yang mendirikan kerajaan Islam Demak, maka saudara- saudaranya yang lain, dari putra-putra Brawijaya V, memilih lari dari kerajaan. Dalam hal ini, Pangeran Samudro tetap teguh pada agama Syiwa-Budha yang diyakininya. Pangeran Samudro beserta para saudara dan pengikutnya itu,yang akhirnya memilih Gunung Kemukus sebagai tempat persembunyian akhir, adalah cikal bakal penduduk desa di sekitar Gunung kemukus kini.
Tetapi cerita yang lebih subur adalah cerita-cerita yang menggunakan idiomatik seks. Selain versi cerita seperti diatas bahwa Pangeran Samudro adalah pangeran yang mencintai ibunya ada pula versi yang menyebutkan bahwa pangeran Samudro adalah lelaki urakan yang suka menggoda isteri orang. Nah, versi yang menggunakan idiomatik seks seperti itu yang sekarang lebih banyak dipercayai orang, dan agaknya cerita ini bercampur aduk dengan cerita versi Pemda Sragen yang menokohkan Pangeran Samudro sebagai pahlawan yang patut dicontoh. Kesimpangsiuran cerita tentang siapa sebenarnya Pangeran Samudro ternyata tak membuat ragu para peziarah yang datang, mereka tetap teguh pada keyakhinan bahwa makam ini akan memberikan berkah bagi siapa yang mempercayainya. Tak jarang ditemukan peziarah yang menangis tersedu-sedu di atas batu nisan makam ataupun menyembah-nyembah makam ini.
Dan apa yang kemudian terjadi di Gunung kemukus? Mitos-mitos yang simpang siur seperti diatas menyuburkan tumbuhnya warna lain: Pelacuran yang dilegalisir oleh adanya kepercayaan tersebut.
Kemukus Wisata Spiritual Atau Wisata Yang Tak Jelas Identitasn ya?
Mengamati laku ziarah yang ada di Kemukus kita pasti diperten tangkan pada nilai-nilai moral dan agama. Meski ada Perda 15/1978 yang melarang para peziarah melanggar tata norma susila, agama dan hukum dengan sangsi denda dan kurungan badan tetapi aturan itu tak pernah dijalankan, buktinya hingga saat ini belum ada seorangpun yang pernah terkena sangsi justisi tersebut. Pelanggaran-pelanggaran dengan mudah dapat kita temukan di tempat- tempat sekitar makam, di bawah-bawah pohon yang rindang laki perempuan non suami istri bebas melakukan aktifitas seksual dengan menggelar tikar yang disewanya dari anak-anak kecil yang menawarkan jasa itu, atau kalau mau lebih nyaman mereka bisa menyewa kamar-kamar yang sengaja disewakan oleh pemilik-pemilik barak yang ada disekitar makam. Bahkan bagi laki-laki yang tak mempunyai pasangan dengan mudah bisa menemukan "lawan main" yang menawarkan jasanya dengan imbalan uang.
Pelacur-pelacur ini berbaur dengan para pengunjung atau memang telah disediakan oleh
pemilik-pemilik barak. Jumlah barak yang yang beridentitas sebagai warung "lengkap" ada sekitar 50 buah. Memang sangat sulit untuk membedakan antara wanita pelacur dengan wanita yang betul-betul melakukan ritual seks, juga sama sulitnya untuk membedakan antara laki-laki hidung belang dengan laki-laki peziarah karena pada malam Jum'at Pon atau malam Jum'at Kliwon ada ribuan pengunjung yang datang di tempat ini dan tentu mereka datang dengan
bermacam-macam kepentingan.
Pemda Sragen seakan tak mau tahu saja dengan keadaan tersebut, mungkin yang terpenting pemerintah daerah bisa mengambil keuntungan banyak dari retribusi masuk yang dijual dengan harga Rp. 750,- . Pendapatan yang diperoleh Pemda dari Gunung Kemukus memang paling banyak dibandingkan dengan daerah wisata yang lain di Sragen, misalnya Museum Sangiran atau Taman Rekreasi Kedung Kancil. Sebagai catatan dapat dikemukakan dari pemasukan Rp. 23 juta pada tahun anggaran 1986-1987, yang 15 juta adalah hasil pendapatan Gunung Kemukus. Sadar bahwa daya tarik seksual terdapat pada Kemukus, mitos-mitos tentang Pangeran Samudro yang simpang siur ini dipelihara aman oleh Pemda Sragen dengan menerbitkan brosur yang dijual kepada para pengunjung. Walaupun brosur itu sudah tidak kita jumpai sekarang tetapi pengaruhnya masih terasa pada orang-orang yang sudah terlanjur mempercayainya sehingga kabar inipun terus berlanjut dari mulut ke mulut.
Melihat situasi yang salah kaprah di Kemukus, penulis mengambil kesimpulan bahwa Wisata Kemukus adalah wisata yang tak jelas identitasnya dan cenderung sebagai wisata seks daripada wisata kesimpulan ini:
1. Menjamurnya seks bebas di Gunung Kemukus dibiarkan saja oleh pihak Pemda, tak ada niat baik dari pihak Pemda untuk menegakkan Perda 15/1978 dengan tindakan-tindakan yang nyata. Perda ini seolah-olah hanya sebagai papan peringatan yang tak berarti.
2. Mitoligisasi yang dilakukan Pemda dengan membuat brosur yang menceritakan legenda Pangeran Samudro sebagai "pahlawan yang patut dicontoh" telah memperparah kesalahpahaman masyarakat terhadap sejarah yang sebenarnya. Pemda dengan seenaknya membuat ceritera yang tidak jelas asal-usulnya. Ada salah seorang sumber yang mengatakan bahwa legenda versi Pemda Sragen itu adalah cerita yang sengaja dibuat untuk membohongi masyarakat. Cerita rekayasa ini dibuat untuk promosi menarik pengunjung, dengan demikian pendapatan Pemda dari tempat wisata ini akan meningkat. Tindakan ini telah melanggengkan idiom-idiom seks dari persyaratan laku ziarah yang mirip dengan ritual purba itu.
3. Terjadi banyak pergeseran nilai, yang kemudian dikukuhkan dalam bentuk-bentuk tradisi. Aliran animisme dan dinamisme yang kini lebih banyak muncul, kepercayaan pada logika dan kekuatan iman tumbuh dalam dimensi yang sempit. Banyak manusia yang lari dari kekuatan pribadinya, jatuh pada lambang-lambang yang sebetulnya tak terungkap secara utuh. Orientasi hidup, agaknya beru bah menjadi makin individual. Jika dulu semadi atau menepi untuk keseimbangan jagat (besar atau kecil) yang kemudian diimplementa sikan dalam realitas sosial, sekarang untuk bagaimana caranya
meningkatkan kesejahteraan sosialnya sendiri.
Sumber : Humas Pemda Sragen
Stanley, Seputar Kedung Ombo,Y. GENI dan LBH Indonesia, Ceta kan Pertama, 1990.
Tim Wartawan Kompas, Peziarahan di Jawa, Daripada Untung tapi Lupa, Lebih Baik Ingat Waspada, Kompas, 2-12-1984.
Bonglin, Saefudin, Wisata Mesum Malam Jumat Pon di Sragen, Gunung Kemukus Hasilkan Rp 7 Juta, Suara Merdeka 18-11-1984.
Wahjoedi, HR. Kenali Daerah Wisata Jateng (Kab. Sragen), Punya "Balung Buto" dan "Gethek" Jaka Tingkir untuk "Obat Kuat", Suara Merdeka, 2-8-1984.
Wirodono, Sunardian, Kemukus: Antara Wanita dan Angka Nujum, Kedaulatan Rakyat 31-2-1988.
Yulianto, I, Pariwisata Spiritual Menjual Obyek Sejarah, atau Menawarkan yang Lain?, Kedaulatan Rakyat, 20-9-1992.
Wirodono, Sunardian, Pangeran Dengan Banyak Versi, Kedaulatan Rakyat, 31-8-1988.
Tulisan ini disampaikan pada Pelatihan untuk Aksi Kepariwisataan di Indonesia, yang diselenggarakan oleh YMCA Solo, 8-18 Agustus 1994 di Yogyakarta.
Diposting oleh
egois
di
4:52:00 AM
2
komentar
“Orang mati lagi” keluhku. Heran aku, sudah banyak orang mati tapi kenapa tambah banyak pula orang yang berbuat dosa. Kapankah aku mendapat giliranya? Tidak! Aku masih belum ingin mati!, aku masih ingin hidup, aku masih ingin menikmati kekayaan yang aku peroleh dengan jerih payahku sendiri. Ah! Tidak mungkin aku mati sekarang toh aku masih muda dan belum menikah lagi, lupakan saja soal kematian tak usalah aku memikirkanya. Seketika itu peperangan yang terjadi di hatiku berhenti.
Diposting oleh
egois
di
12:16:00 AM
0
komentar
Masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki banyak sekali suku dengan peraturan atau hukum adat yang beda-beda. Suku-suku yang ada merupakan salah satu bentuk dari pengaruh geografis Indonesia, perbedaan dan letak pulau yang terpisah-pisah membuat pengaruh besar dalam persebaran manusia. Pengelompokan manusia-manusia yang memiliki ras dan kebiasaan sama akan berkembang manjadi sebuah suku-suku, mendiami wilayah tertentu serta mengakui daerah tersebut menjadi tanah adat. Manusia menciptkan budaya dari kebiasaan hidup itu pun berkembang sampai anak cucu, kemudian menjadi hukum adat setempat.
Suku yang ada saat ini sangatlah beda dengan keadaan suku-suku pada masa lampau, dimana saat ini kebiasaan suku atau masyarkat adat telah beralkulturasi dengan masyarakat lain. Suku yang dahulu sangat tertutup dengan masyarakat luarpun saat ini sudah mulai membuka diri menerima para pendatang dengan budaya yang beda.
Perbedaan budaya pun sebenarnya sudah ada dari jaman nenek moyang kita saat zaman masyarakat nusantara belum mengerti apa itu agama, dan masih percaya dengan roh nenek moyang atau atisme, nenek moyang kita sudah memiliki kebudayaan sendiri. Setelah bangsa india datang sekitar abad 4 dengan membawa agama hindu masyarakat indonesia mulai mengerti atau mengelompokkan masyarakat dalam empat kasta. Dari brahmana, satrya, waisa dan sudra dimana empat kasta tersebut tidak boleh tercampur apabila kasta-kasta tersebut sampai tercampur maka manusianya dikelompokkan dalam golongan paria (buangan) serta tidak bias masuk dalam kelompok manapun.
Setelah abad 5 para pedagang dari india yang beragama Budha pun datang kenusantara, bahkan sempat terjadi perang dengan ditandai runtuhnya kerajaan-kerajaan hindu dan digantikan dengan kerajaan yang beragama budha. Setelah itu disusul dengan datangnya pedagang-pedagang islam dari Gujarat pada sekitar abad 7. Dengan alkulturasi ketiga agama tadi secara langsung mengubah pola pikir masyarakat yang menganutnya. Agama juga berdampak pada hukum adat yang dianut masyarakat, sedikit banyak agama tetap mempengaruhi hokum-hukum yang ada dimasyarakat baik itu agama Hindu, Budha, dan Islam. Sekitar abad 16 bangsa asing dari daratan eropa datang dengan membawa agama Nasrani, karena bangsa-bangsa eropa yang datang ke nusantara waktu itu memiliki tiga tujuan pokok yaitu mencari kekayaan, mencari kekuasaan, dan penyebaran agama khususnya Nasrani dan lamanya bangsa eropa khususnya portugis, inggris, dan belanda lama tinggal di nusantara sedikit banyak mengubah adat kebiasaan dan budaya yang ada.
Budaya yang terus berkembang semakin menambah kekayaan yang kita miliki sehingga apa yang ada sekarang merupakan bentuk dari alkulturasi budaya dan agama-agama dari jaman masa lampau atau bentuk dari komunikasi dengan dunia luar entah itu sebagai penjajah , pendeta, dan pedagang.
Dari proses yang panjang masyarakat secara tidak sadar menciptakan beberapa budaya yang ada dan dipertahankan sampai saat ini. Menurut Iris Verner dan Linda Beamer, dalam buku intercultur Communication in the Global Workplace, mengartikan kebudayaan sebagai pandangan yang koheren tentang sesuatu yang dipelajari, yang dibagi, atau yang dipertukarkan oleh sekelompok orang. Pertukaran dan kebiasaan yang terbentuk dipertahankan dan dilakukan turun temurun sehingga oleh anak cucu dinilai sebagai budaya asli mereka yang diturunkan turun temurun.
Diposting oleh
egois
di
3:21:00 AM
0
komentar
Dalam renungan di bukit yang dipenuhi pohon bambu ini aku berfikir dan ingin menorehkan sebuah kegelisahan yang ada dalam kepala tentang tingkah polah manusia yang semakin hari semakin panas saja bak bara api yang tanpa henti berkobar. Unsur api yang terus menghancurkan tetap ada dalam diri manusia apalagi yang jauh dari agama, manusia ini sangat dekat dengan permasalahan, kejahatan dan persoalan-persoalan lain. Memang setiap manusia pasti mempunyai problem masing-masing, entah itu sangat membebani atau persoalan ringan yang tidak terlalu di fikirkan oleh manusia.
Dapat kita lihat semua makhluk ciptaan-NYA semua pasti mempunyai unsur api baik itu malaikat, jin, bahkan setan. Dapat kita lihat bahwa semua makhluk-makhluk itu mempunyai sifat yang tidak lepas dari asal mereka diciptakan. Perbedaan menonjol antara manusia dan malaikat, jin dan setan hanya pada bentuk fisik, manusia mempunyai bentuk fisik nyata dan memiliki cipta, rasa dan karsa. Semua itu tidak lepas dari sifat tanah liat yang dapat dibentuk dan diubah sesuai keingian dan sangat sulit dibuat bentuk yang sama.
Makhluk yang ada terbagi atas beberapa unsur satu dan dua, yang masuk pada unsur satu adalah malaikat, jin, setan, sedangkan manusia masuk pada unsur kedua.
Makhluk yang ada pada unsur satu, bisa hidup tanpa makan karena tidak memiliki fisik atau raga yang bisa rusak dan mati. Sedangkan ruh tidak akan pernah bisa mati, tidak terkecuali ruh manusia. Mengenai unsur yang membentuk atau awal dari ruh adalah cahaya, sedangkan cahaya ada karena adanya pancaran panas (bisa dikatakan adanya pancaran api) dari api ini dapat kita jabarkan menjadi beberapa unsur yang ada, semisal unsur pembentuk setan yaitu api itu sendiri. Sedangkan jin tercipta dari baranya api dan para malikat tercipta dari cahaya atau nur yang bersumber dari api juga. Tidak luput ruh manusia pun tercipta dari cahaya atau nur itu sehingga kita percaya bahwa ruh kita tidak mungkin rusak atau mati.
Dilihat dari segi kebatinan bahwa mati merupakan terpisahnya raga secara fisik dengan jiwa atau ruh dimana dari segi ketahanan atau usia fisik manusia normal hanya bisa bertahan sekitar kurang lebih 99 tahun, biar pun ada beberapa orang yang memiliki umur melebihi itu dari itu. Tidak lepas dari proses kematian tadi bahwa jiwa atau ruh kita jika sudah tidak mau menempati raga kita yang kian lama kian rusak sehingga perpisahan antara ruh dan raga itu sering kita katakan kematian karena unsur kedua dari manusia sudah terlepas dari unsur pertama.
Unsur pembentuk manusia yang tercipta dari tanah liat telah rusak dan harus kembali pada asalnya sehingga manusia mati harus kita kubur agar unsur tanah kembali pada tanah, sedangkan ruh atau jiwanya masih menunggu sampai hari kiamat, bahkan tidak akan pernah mati atau sirna. Lain dengan orang gila, mereka hanya menanggung beban didunia saja. Untuk urusan ruh dan jiwa tidak diketahui. Dimaksud dengan orang gila adalah orang yang tidak memiliki akal, cipta, rasa, dan karsa, sehingga orang itu hanya mengandalkan insting dan belas kasihan orang. Jika dalam pengertian seperti itu sudah dapat dimengerti maka urusan tentang jiwa dan raga merupakan urusanNYA.
Dapat kita lihat lagi tentang apa sebenarnya yang ada pada manusia, malaikat, jin, bahkan setan. Manusia dapat mempunyai sifat-sifat seperti malaikat, jin bahkan bisa melebihi setan tergantung lagi pada tingkat keimanan dan seberapa dalam dia tahu agama yang merupakan sebuah arahan hidup menuju keabadian.
Pemikiran ini mungkin sudah diulas oleh beberapa tokoh ulama, setidaknya ini merupakan ulasan yang sangat ringan dalam pengartiananya sebagaimana manusia dibekali akal untuk secara terus menerus berfikir cerdas. Dalam proses berfikir itu, manusia pasti menemui beberapa pengalaman baru yang tidak akan terulang lagi dalam hidup. Sampai pada titik di mana manusia dapat berfikir dalam pencarian Tuhan dalam logika biar pun hal tersebut tidak mungkin dilogika.
Dalam proses ini sedikit banyak akan timbul bermacam-macam ilmu pengetahuan yang sebenarnya sudah dijelaskan secara mendasar dalam Al Quran. Sebagai manusia yang haus akan ilmu pengetahuan, setidaknya dapat membedakan masalah yang bisa dilogika dengan akal dan yang tidak bisa dilogika, agar dalam pencarian kebenaran itu tidak terjerumus dalam paham-paham yang keluar agama.
Manusia yang haus akan ilmu yang ada di dunia ini sebenarnya sudah tidak lepas dari sifat dasarnya yang mudah untuk dibentuk dan singkronisasi antara jiwa dan raga sangatlah sebentar dalam kehidupan ini. Jiwa manusia atau yang sering kita kata sebut ruh merupakan gambaran dalam kehidupan yang merupakan adanya beberapa sifat dasar seperti nafsu. Yang selama ini terus-menerus membisiki kita untuk melakukan sesuatu entah itu baik atau buruk. Ruh dalam ajaran Islam dipercaya terbuat dari cahya yang memiliki sifat lurus dan patuh.
Dan yang memiliki sifat sama dengan sifat cahaya tersebut dapat kita percaya dengan sifat-sifar malaikat yang selalu taat akan apa yang diperintahkan oleh-NYA, tanpa ada tanya dan komentar karena malaikat tidak memiliki sifat nafsu yang selalu mengarahkan untuk berfikir dengan logika. Malaikat tidak mengenal apa yang disebuat dengan logika karena apa yang tidak malaikat sendiri tidak dapat dilogika kita hanya harus percaya dengan keberadaanya.
Tidak dapat kita pungkiri, memang manusia mempunyai sifat hawa atau yang sering kita sebut nafsu setan. Memang benar nafsu setan tidak akan hilang dalam diri manusia. Dalam beberapa konteks ilmu agama dan ilmu pegetahuan alam tentang hubungan antara hukum api dan cahaya tidak akan ada habisnya terus beriringan sejajar dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Dapat dilihat secara logika tentang adanya cahaya dalam kehidupan ini. Satu-satunya sumber cahaya dapat dikatakan adalah api. Dilihat dari segi logika, apabila ada api yang hidup maka daerah sekitar tersebut pasti akan tampak terang biarpun hanya radius beberapa meter saja karena adanya cahaya yang terpancar dan dapat tertangkap oleh mata kita.
Diposting oleh
egois
di
5:58:00 AM
0
komentar

Memperingati kemerdekaan RI yang ke-62 banyak kemeriahan didaerah-daerah bahkan wilayah pedalaman pun ikut serta dalam kebahagian Indonesia ini. Dalam perjalanan yang lama ini beberapa banyak warisan yang ditinggalkan orde lama, orde baru, dan orde revormasi untuk anak cucu kelak. Sedangkan saat ini kita tidak henti-hentinya menghabiskan sumber daya alam dan bahkan alam yang hijau dan subur ini telah di rusak untuk keperluan segelincir orang saja.
Mungkin suatu nyanyian waktu kecil yang berjudul PAK TANI saat ini sudah tidak pantas lagi dilantunkan oleh anak-anak sekolah dasar, karena sawah dan lading yang ada di Indonesia saat ini hilang menjadi bangunan yang tinggi bahkan anak penggembala pun menggembala di jalan raya dan MOL. Betapa indahnya dulu kala mendengar dongeng kakek, nenek kita yang teru menceritakan kehidupannya waktu mereka masih anak-anak, dengan wajah tersenyum seolah mereka mengejek kita karena sekarang kita tidak bisa lagi bermain seperti mereka. Saat ini semua permainan anak-anak sudah dibuat praktis sedangkan beberapa permainan tradisional daerah hanya tinggal kenangan kakek nenek kita.
Pendidikan pun saat ini terlihat praktis dan semakin rendah nilai sakralnya dalam dunia kerja biarpun mata pelajarannya semakin membuat otak kanan kita bekerja ekstra, dari jam 07.00 sampai 13.30 rata-rata anak belajar disekolah sedangkan waktu untuk bermain dengan alam hanya minggu padahal hari minggu anak-anak sudah disuguhi acara anak oleh beberapa setasiun TV yang ada sehingga anak cenderung duduk berlama-lama di depan TV. Sebenarnya apakah ini yang disebut kemajuan pembangunan memang apabila kita dapat memfaatkan dengan baik dan mendapat bimbingan yang tepat kita dapat maju, sedangkan yang bisa seperti itu saat ini hanya anak-anak kota. Tanpa menyadari bahwa perbandingan usia anak yang tinggal di kota dan desa adalah 5 : 2, lima untuk anak desa dan dua untuk anak kota. Dari lima itu pun hanya sekitar 2 yang dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sedangkan 3-nya hanya menjadi petani, ada juga yang merantau dan berwirausaha. Untuk anak kota dapat terbagi 1 bisa kepeguruan tinggi dan yang satu lagi kerja swasta bahkan nganggur.
Pedidikan yang diterima anak-anak tadi pun hanya sekitar 30% yang dinyatakan menjadi tenaga kerja provesional sedangkan 70%nya entah kerja jadi apa. Kebanyakan yang ada didalam masyarakat ada yang berwirausaha bagi yang punya modal sedangkan laininya bekerja serabutan yang tidak sesuai dengan bidangnya.
Berkiblat kedunia barat memang dunia pendidikan bangsa ini sangat jauh tertinggal dan terbelakang , kemana kebenaran cerita kakek nenek kita saat mengekspor tenaga pendidik keluar negeri pada zaman orde lama apa itu hanya kenagan masalalu saja. Sedangkan saat ini Malaysia sudah jauh mendahului kita dalam segala bidang. Memang Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang tenaga kerja tetapi hanya tenaga kerja kasar atau buruh. Padahal permintaan yang berlaku dipasaran adalah tenaga kerja professional, terampil dan minimal pendidikan D3 perguruan tinggi. Dilihat dari situ semua memang untuk bangsa ini mampu tapi kenyataan dilapangan tidaklah begitu karena beberapa masalah yang kompleks misalnya masalah dana, koneksi dan pungli sangatlah terbuka dan terang-terangan dalam dunia kerja khususnya pegawai negeri (PNS).
Pungutan liar yang ada dalam setiap pendaftaran PNS sudah menjadi rahasia publik itupun jumlahnya mencapi puluhan juta rupiah padahal dari pemerintah sudah mengumumkan tidak adanya uang pendaftaran sampai dinyatakan diterima dan mendapat SK. Memang ada yang mulus tidak menggunakan uang-uang pelicin itu tapi jumlahnya hanya 25% dari jumlah yang diterima sebagai PNS, terus 75% dengan pelicin itu dapat dilihat dalam beberapa hal di yang dapat dievaluasi dalam penanganan pndidikan di Indonesia yang sedang berjalan saat ini.
Beberapa orang mungkin menyalahkan mahalnya pendidikan yang sangat membumbung tinggi, sedangkan di masyarakat menengah bawah masih bingung untuk mencari sesuap nasi anggapan yang ada dalam masyarakat merupakan hal yang sangat prinsip adalah ekonomi. Banyak potensi orang yang pandai dan mau bekerja keras berasal dari kelas masyarakat menengah dengan biaya yang relative pas-pasan. Dengan perkembangan dunia kerja saat ini dan adanya pasar bebas yang ditawarkan merupakan suatu tantangan tersendiri untuk generasi muda dalam dunia pendidikan kecenderungan berwirausaha adalah dampak dari globalisasi yang ada.
Sekarang ini ekonomi yang sangat berperan dalam hidup bahkan untuk dunia pendidikan yang ada di Indonesia saat ini berorientasi pada persiapapan tenaga kerja, beda dengan dunia barat yang berorintasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan provesionalisme manusia. Indonesia saat ini baru mencapai pada tahap tenaga kerja trampil. Kekurangan masih menjadi alasan yang kuat untuk menyembunyikan kelemahan itu.
Apa jadinya apabila dalam departemen pendidikan yang sudah mendapatkan 20% anggaran dari RAPBN belum terrealisasi dengan tertib. Nyatanya ada beberapa sekolah di tingkat desa dan kota yang masih memungut biaya pendidikan yang tinggi padahal dengan adanya dana BOS dan rehab gedung dari pemrintah diharapkan siswa bebas biaya sekolah dan bebas uang gedung. Kenyataan dilapangan masih saja banyak sekolah yang memungut SPP dari siswa yang ada padahal sekolah itu negeri, harus dipertanyakan juga dan yang dari pemerintah untuk apa dan bagaimana laporannya apa hanya fiksi atau memang dana yang diberikan oleh pemerintah tidak mencukupi semua oprasional sekolah saat ini karena mahalnya alat peraga dan barang-barang yang mendukung pendidikan.
Prihatin juga melihat semua itu sudah 62 tahun Indonesia merdeka tapi bukannya maju dalam pendidikan dan menciptakan orang-orang yang berfikir cerdas untuk bangsa. Bahkan kemajuan yang ada hanyalah kemajuan semu dan merupakan bimbingan dari Negara-negara adikuasa yang selalu diatas kita dan mengendalikan lajunya ekonomi dan dunia pendidikan yang ada saat ini. Mungkin dengan berfikir positif dengan politik dan rasa cinta kepada Negara dapat menyadarkan diri kita dan seluruh bangsa untuk sadar daripenjajahan ekonomi dan pendidikan saat ini.
Diposting oleh
egois
di
11:20:00 PM
0
komentar
Semuanya yang kita rasakan sama, keyakinan, rasa yang bernama cinta tidak lepas untuk di maknai. Tapi, saya sendiri beranggapan bukanlah sebuah hal penting untuk menjelaskan atau menafsirkan cinta. Tetapi harapan yang ada karena cinta itu sebuah perubahan yang terus berbuah kebahagiaan yang abadi entah itu sekarang atau kelak. Kecocokan dan sepemikiran yang merupakan awal dari tumbuhnya benih cinta dalam diri manusia.
Memang, cinta adalah rasa sesuatu yang abstrak tak dapat di raba tetapi bisa di lihat. Bisa di lihat dari sikap dan perbuatan serta pengorbanan. Sebab saya juga berkeyakinan bahwa cinta punya power untuk menggerakkan yang lemah menjadi kuat yang sehari-hari terlihat dungu bisa berubah menjadi jenius. Inikah kekuatan cinta yang sangat dasat itu, dengan menjanjikan ketenangan hati dan kebahagiaan cinta sulit sekali dipelihara dan dijaga.
Saya sendiri pernah merasakan dunia begitu gelap saat makna cinta belum ada dalam diri ini. Kehidupan saya menjadi amburadul, seenaknya sendiri tanpa memperhatikan peraturan yang ada dalam masyarakat. Ketika itu saya mencintai seorang gadis lugu yang cantik dan terlihat begitu anggun juga sederhana dengan jilbabnya, tetapi saya merasa sangat terpukul ketika saya tidak mendapatkanya dan mendapati dia telah mencintai orang lain yang lebih segalanya dari saya.
Sebenarnya, dia disukai juga pria lain bisa dibilang seniornya di kampus, jika di nalar dengan logika yang jernih dan objektif, bukanlah sesuatu yang harus di sesali dan melarutkan diri dalam kekecewaan tetapi itulah cinta. Mungkin benar yang di lantunkan Agnes Monica dalam salah satu lagunya, cinta tak ada logika. Namun, dalam kacamata saya hari ini, logika bisa mengendalikan cinta, inilah cinta yang mencerminkan kedewasaan ketika cinta masih berada di dalam kendali logika.
Membiarkan diri hanyut dalam imajinasi bahwa cinta adalah keindahan sejati merupakan kesimpulan keliru dan fatal. Hal ini bisa berefek pada depresi, stres bahkan lebih jauh bisa menyebabkan bunuh diri. So, saya peringatkan silahkan jatuh cinta tetapi jadilah raja terhadap cinta itu. Jangan biarkan pisau cinta menusuk mata anda sehingga anda buta dan tidak bisa melihat dengan mata yang jernih sebab banyak hal di bumi ini yang menuntut "mata yang selalu awas".
Setelah adanya cinta dalam diri manusia sampai saya memaknai dengan arti yang lain, secara otomatis cinta itu menumbuhkan perasaan hampa dalam kesendirian yang sangat dalam dunia gelapku ada beberapa masalah yang harus dipilah-pilah dengan sangat teliti.
Diposting oleh
egois
di
7:26:00 PM
0
komentar