Wednesday, June 25, 2008

BOTOL PERDAMAIAN

Triakan orang-orang memecahkan kesunyian. Geb’S sendiri berjalan dengan baju serba hitam, melintasi gelapnya malam. Hujan gerimis terus membasahi wajah ini, untung saya mengenakan jaket kulit hitamku sehingga air tidak dapat menembus dada ini. Berjalan menuju tempat nongkrong para seniman jogja, di depan benteng fanderbruq, Malioboro. Tanpa memperhatikan air jatuh dari langit saya terus membelah jalanan dengan motor yang terkenal butut tong pecah, karena suara motorku yang keras akibat aku hilangkan sarangannya-benda peredam di kenalpot motor.
Tidak memerlukan waktu lama gebs dapat mencapai tujuannya, sesampai di depan benteng bukannya komunitas seniman yang dijumpai, melainkan kumpulan anak-anak jalanan sedang ngamen dengan nada seadanya. dihentikan motornya sebentar ditatap sekeliling dengan mata yang memerah seolah menantang setiap orang yang ada di tempat itu. Tetapi mata merah ini bukannya marah atau mabuk melainkan karena terkena air saat perjalanan ke tempai ini. Merasa asing dan tidak ada yang dikenal di tempat itu gebs melanjutkan perjalanan ke alun-alun selatan.


Dengan harapan ditempat itu ada teman yang dapat dia ajak ngobrol dan menemaninya menghabiskan malam dengan beberapa botol air perdamaian yang sempat dibeli saat mau ke depan benteng tadi. Tapi apa yang diharapkan sirna juga, di alun-alun selatan bukannya teman yang didapati melainkan pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih dan badan.
Otak berfikir”wah sex lagi-sex lagi, kenapa setiap tempat yang kukunjungi malam ini berbau sex dan kemunafikan” pikiran tambah kacau diacungkan jari tengah gebs ke salah satu pasangan yang sedang memadu bibir di pojok alun-alun selatan. Gebs meninggalkan tempat itu serta gagal mendapatkan teman untuk menghabiskan malam bersama botol-botol perdamaian.
Malam semakin larut untuk melanjutkan pejalanan mengitari kota kuno jogja ini, bingung pikirnya untuk melanjutkan perjalanan malam itu,
Didengarkan MP3 beberapa lagu Bob marly melantun diditelinganya. Tanpa tujuan gebs melanjutkan perjalanan, terpikir olehnya satu tempat dimana dia bisa duduk diam sambil menikmati botol perdamaiaan ini. Terus memacu motornya tanpa memerhatikan apa yang ada disekitarnya entah orang mesum atau orang yang sedang meratapi nasipnya. Cuwek tanpa basa-basi gebs menuju sarkem- tempat mangkal para kupu-kupu malam Jogjakarta.
Sesampai di sarkem tempat yang ditujunya adalah biliknya Bu Adi warung penjual minuman keras di sarkem. Berhubung sudah kenal dengan bu adi diminta izin untuk duduk sambil minum. “ bu saya duduk mriki nggih ajeng ngombe” oh kowe to gebs suwe ora ketok, nang endi wae kowe”jawab bu adi mengiyakan.
Sejenak gebs duduk bertemankan botolan perdamaian di tenggakkan dengan pelan-pelan persloki, asap rokok terus mengepul tanpa tahu kapan selesainya. “aloo mas-sendiri aja nii” sapaan seorang kupu-kupu penghuni tempat itu, “Oh mbak sini temani aku minum” jawabku tegas. OK
Setelah perempuan itu duduk gebs membuka percakapan dengan menayakan nama “ namanya siapa mbak” emi-jawab perempuan itu” kalau mas” akau gebs” ohhh....
Asli mana mbak-melanjutkan percakapannya. Ohhh gitu ya mbak.... temani saya minum yaaaa...ya tapi jangan banyak-banyak aku harus jualan malam ini pelangganku lom banyak yang datang.heee.. ok jawab gebs santai sambil terus mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Disodorkannya satu sloki minuman nya....................
(bersambung ......part2)

Read More......

Triakan orang-orang memecahkan kesunyian. Geb’S sendiri berjalan dengan baju serba hitam, melintasi gelapnya malam. Hujan gerimis terus membasahi wajah ini, untung saya mengenakan jaket kulit hitamku sehingga air tidak dapat menembus dada ini. Berjalan menuju tempat nongkrong para seniman jogja, di depan benteng fanderbruq, Malioboro. Tanpa memperhatikan air jatuh dari langit saya terus membelah jalanan dengan motor yang terkenal butut tong pecah, karena suara motorku yang keras akibat aku hilangkan sarangannya-benda peredam di kenalpot motor.
Tidak memerlukan waktu lama gebs dapat mencapai tujuannya, sesampai di depan benteng bukannya komunitas seniman yang dijumpai, melainkan kumpulan anak-anak jalanan sedang ngamen dengan nada seadanya. dihentikan motornya sebentar ditatap sekeliling dengan mata yang memerah seolah menantang setiap orang yang ada di tempat itu. Tetapi mata merah ini bukannya marah atau mabuk melainkan karena terkena air saat perjalanan ke tempai ini. Merasa asing dan tidak ada yang dikenal di tempat itu gebs melanjutkan perjalanan ke alun-alun selatan.


Dengan harapan ditempat itu ada teman yang dapat dia ajak ngobrol dan menemaninya menghabiskan malam dengan beberapa botol air perdamaian yang sempat dibeli saat mau ke depan benteng tadi. Tapi apa yang diharapkan sirna juga, di alun-alun selatan bukannya teman yang didapati melainkan pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih dan badan.
Otak berfikir”wah sex lagi-sex lagi, kenapa setiap tempat yang kukunjungi malam ini berbau sex dan kemunafikan” pikiran tambah kacau diacungkan jari tengah gebs ke salah satu pasangan yang sedang memadu bibir di pojok alun-alun selatan. Gebs meninggalkan tempat itu serta gagal mendapatkan teman untuk menghabiskan malam bersama botol-botol perdamaian.
Malam semakin larut untuk melanjutkan pejalanan mengitari kota kuno jogja ini, bingung pikirnya untuk melanjutkan perjalanan malam itu,
Didengarkan MP3 beberapa lagu Bob marly melantun diditelinganya. Tanpa tujuan gebs melanjutkan perjalanan, terpikir olehnya satu tempat dimana dia bisa duduk diam sambil menikmati botol perdamaiaan ini. Terus memacu motornya tanpa memerhatikan apa yang ada disekitarnya entah orang mesum atau orang yang sedang meratapi nasipnya. Cuwek tanpa basa-basi gebs menuju sarkem- tempat mangkal para kupu-kupu malam Jogjakarta.
Sesampai di sarkem tempat yang ditujunya adalah biliknya Bu Adi warung penjual minuman keras di sarkem. Berhubung sudah kenal dengan bu adi diminta izin untuk duduk sambil minum. “ bu saya duduk mriki nggih ajeng ngombe” oh kowe to gebs suwe ora ketok, nang endi wae kowe”jawab bu adi mengiyakan.
Sejenak gebs duduk bertemankan botolan perdamaian di tenggakkan dengan pelan-pelan persloki, asap rokok terus mengepul tanpa tahu kapan selesainya. “aloo mas-sendiri aja nii” sapaan seorang kupu-kupu penghuni tempat itu, “Oh mbak sini temani aku minum” jawabku tegas. OK
Setelah perempuan itu duduk gebs membuka percakapan dengan menayakan nama “ namanya siapa mbak” emi-jawab perempuan itu” kalau mas” akau gebs” ohhh....
Asli mana mbak-melanjutkan percakapannya. Ohhh gitu ya mbak.... temani saya minum yaaaa...ya tapi jangan banyak-banyak aku harus jualan malam ini pelangganku lom banyak yang datang.heee.. ok jawab gebs santai sambil terus mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Disodorkannya satu sloki minuman nya....................
(bersambung ......part2)

Read More......

Friday, June 13, 2008

Nikmati Pemandangan Spektakuler Pegunungan Bromo-Semeru, Jawa Timur

Saat anda berwisata ke Provinsi Jawa Timur, ada suatu Kawasan Wisata Alam yang sering di sebut Taman Nasional Bromo, Semeru, dan Tengger. Dengan sajian alam yang masih asri ditambah dengan kondisi udara yang masih segar, dingin dan alam pegunungan yang menawan.

Taman Nasional Bromo-Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, yang berada pada ketinggian 2392 m dari permukaan laut.

Pegunungan Bromo-Semeru, merupakan pegunungan yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Kawasan wisata ini menjanjikan sebuah keindahan yang tak bisa anda temui di tempat lain. Dari puncak gunung berapi yang masih aktif ini, anda bisa menikmati hamparan lautan pasir seluas 10km persegi, dan menyaksikan kemegahan gunung Semeru yang menjulang menembus awan. Anda juga bisa menatap indahnya matahari beranjak keluar dari peraduannya.


Selain menyaksikan keindahan panorama yang ditawarkan oleh Bromo-Semeru, apabila Anda datang di waktu yang tepat, maka Anda dapat menyaksikan Upacara Kesodo, yang diadakan oleh masyarakat Tengger. Upacara ini biasanya dimulai pada saat tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kesodo [ke-sepuluh] menurut penanggalan Jawa. Upacara Kesodo merupakan upacara untuk memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Saat prosesi berlangsung, masyarakat Tengger lainnya beramai-ramai menuruni tebing kawah dan sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Cara Mencapai Daerah Ini

Anda dapat mencapai daerah ini dengan menggunakan mobil pribadi ataupun menyewa kendaraan. Ada empat pintu gerbang utama untuk memasuki kawasan taman nasional ini yaitu: desa Cemorolawang jika melalui jalur Probolinggo, desa Wonokitri dengan jalur Pasuruan, desa Ngadas dari jalur Malang dan desa Burno adalah jalur Lumajang. Adapun rute yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
Pasuruan-Warung Dowo-Tosari-Wonokitri-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 71 km, Malang-Tumpang-Gubuk Klakah-Jemplang-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 53 km. Atau dari Malang-Purwodadi-Nongkojajar-Tosari-Wonokitri-Penanjakan sekitar 83 km

Tempat Menginap
Berbagai hotel dan penginapan dapat ditemukan disekitar area Taman Nasional Bromo-Semeru, mulai dari losmen sampai dengan hotel berbintang 4 dapat di jadikan pilihan untuk menginap di Bromo. Rata rata setiap hotel memasang tarif yang terjangkau.

Tempat Bersantap
Agak sedikit sulit untuk menemukan tempat makan di area ini terutama pada malam hari. Akan tetapi, apabila Anda menginap di desa Wonokitri, sekitar 3 km ke bawah tepatnya di pasar Tosari dapat ditemui beberapa warung makanan yang buka dan menjajakan makanannya hingga pukul 9 malam.

Berkeliling

Anda dapat berkeliling ke sekitar areal Taman Nasional dengan menyewa kendaraan jenis jeep 4x4. Atau, jika hanya ingin berkeliling di sekitar area lautan pasir Bromo, Anda dapat menyewa kuda yang banyak tersedia disana.

Yang Dapat Anda Lihat Atau Lakukan
Adapun hal-hal lain yang dapat dilihat atau dilakukan di area ini adalah Anda dapat mengunjungi beberapa objek di bawah ini:

*
Cemorolawang. Salah satu pintu masuk menuju taman nasional yang banyak dikunjungi untuk melihat dari kejauhan hamparan laut pasir dan kawah Bromo, dan berkemah.
*
Laut Pasir Tengger dan Gunung Bromo. Berkuda dan mendaki gunung Bromo melalui tangga dan melihat matahari terbit.
*
Pananjakan. Melihat panorama alam gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru.
*
Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Puncak Gunung Semeru. Danau-danau yang sangat dingin dan selalu berkabut ( 2.200 m. dpl) sering digunakan sebagai tempat transit pendaki Gunung Semeru (3.676 m. dpl).
*
Ranu Darungan. Berkemah, pengamatan satwa/ tumbuhan dan panorama alam yang menawan.

Buah Tangan
Anda dapat membeli oleh-oleh atau cinderamata di sekitar point area yang biasa digunakan untuk melihat matahari terbit. Di area ini banyak terdapat kios cinderamata yang menjajakan dagangan mereka seperti kaos atau t-shirt, topi kupluk, syal dan lainnya. Selain itu, di sekitar area laut pasir juga terdapat beberapa penjaja cinderamata yang menjual kaos atau t-shirt yang bertuliskan Gunung Bromo-Semeru.

Tips

*
Musim kunjungan terbaik adalah sekitar bulan Juni s/d Oktober dan bulan Desember s/d Januari.
*
Perlu disiapkan kesehatan prima dan perbekalan penahan dari udara dingin seperti: baju hangat, penutup kepala, kaus tangan penahan udara dingin, serta bekal makanan-minuman secukupnya
*
Perlu diingat bahwa di puncak Penanjakan tidak ada pengginapan maka dari penginapan terdekat harus berangkat pagi-pagi sekitar pukul 03.00-04.00 pagi dini hari.
Mengingat sulitnya mencari makanan pada malam hari, akan lebih baik apabila Anda membeli persediaan makanan dan minuman sebagai bekal Anda.

(dr.balai bromo,tengger, semeru)


Read More......

Monday, April 21, 2008

Hari kartini yaaaaa

MET HARI KARTINI BAGI PARA PEREMPUAN INDONESIA. KESETARAAN GENDER BUKAN BERARTI MELUPAKAN TANGGUNG JAWAB TERHADAP KELUARGA. OK





Read More......

Tuesday, March 4, 2008

dunia sex inTELEC part 02

Sex intelec Yogyakarta, merebak dalam alur-alur birokrasi pendidikan. Birokrasi sex tersusun secara terorganisir rapi ada di dalam setiap Universitas-universtas. Komunitas mereka yang semakin eksis mempunyai peran tersendiri dibandingkan dengan komunitas-komunitas lain. Komunitas yang sering disebut ayam, lebih bias menjaga persahabatan kepada teman-teman kuliahnya, jati dirinya sebagai ayam kampus seolah terus tertutup rapi. Dengan prisai intelek muda dan masih mengenyang pendidikan tinggi secara bebas ayam kampus melancarkan kerja-oprasi sex.
Konsumen ayam-ayam sendiri merupakan para bos-bos muda sampai tua yang berani membayar mereka dengan harga 500rb -1 juta. Sehingga apa bila ayam kampus itu melakukan hubungan sex dengan teman-teman kuliahnya yang merasa berat membayar uang sebanyak itu, menimbulkan dua opsi yang bias diterka-terka. Kemungkinan pertama yaitu mahasiswa tersebut memang tajir, beruang dan yang kedua atas dasar suka sama suka. Sehingga sex dilakukan dengan fan.


Entah keuntungan apa yang diterima dari si ayam dan temannya, yang jelas kepuasan mempunyai peran penting disini. Atau hanya mempraktekkan gaya-gaya baru saat berhubungan sex. Yang jelas sex dikalangan ini berakibat butuk kepada pihak ayam-cewek.
Beberapa penelitian yang dilakukan badan surfai tentang tingkat sex dikalangan mahasiswa menyebutkan bahwa 85% mahasiswi dijogja sudah tidak virgin-perawan. Uangkapan-ungkapan dari kalangan perempusan minoritas yang menganggap bahwa virgin hanya sebuah wacana menerangkan bahwa sebenarnya sex itu perlu, asalkan mematuhui apa aturan yang ada. Sehingga kemungkinan hamil diluar nikah bias ditekan-pada porsi sex antar pacar atau teman.
Banyak uang menentang ungkapan-ungkapan dari mahasiswi minoritas tersebut-virgin hanya wacana. Datangnya penentangan itu banyak dari golongan agama dan komunitas lain dengan paham mereka yang berseberangan bahwa sex harus dilakukan setelah mempunyai hubungan resmi-nikah, berdasar agama dan norma. Penentanga terus ada karena dapat dilihat budaya yang ada di daerah timur memang sangat kental dengan peran agama yang secara tidak langsung membentuk norma-norma masyarakat.
Norma-norma tersebut secara tidak langsung akan berbenturan dengan kebasan sex yang ada dimasyarakat khususnya kalangan muda, dimana pada usia muda merupakan saat-saat mencari dunia baru dan hal barus-sex salah satunya.
Di kota Yogyakarta sex dikalangan muda dan cenderung kekalangan mahasiswa yang merupakan pendatang dari berbagi daerah, berbeda pula latar belakang dan adat.


Read More......

Wednesday, February 20, 2008

Dunia Sex IN TELEC 01

Perkembangan sex dikalangan intelek baru-baru ini semakin bebas sebebasnya, beberapa kejadian yang mengarahkan dari perubahan budaya. Budaya timur yang syarat dengan adat dan norma sedikit demi sedikit mulai tergeser oleh budaya barat yang memfokuskan pada kebebasan individu. Dengan banyaknya orang asing datang ke asia timur khususnya Indonesia, akan membawa kebudayaan mereka secara tidak langsung. Kebudayaan atau yang sering dikenal dengan kebiasaan tersebut pasti akan tertinggal dan di kembangkan oleh warga Indonesia.
Kebudayaan barat juga berkembang melalui media informasi, yang sedikit demi sedikit akan di tiru oleh para anak muda yang sedang berkembang atau mencari jati diri. Dari situ sangat mudah sekali budaya barat akan terus teradopsi oleh kalangan remaja agar mereka terlihat lain dan dianggap anak gaul. Tetapi bukan budaya yang positif yang masuk, ada beberapa budaya yang saat ini mengancam kemajuan bangsa Indonesia tercintaan saat ini.


Ada kebudayaan yang merusak salah satunya sex dimana hubungan yang sangat pribadi dan dianggap tabu oleh masyarakat kita saat ini mulai tergeserkan. Para memuda baik laki-laki maupun perempuan saat ini tidak malu-malu melakukan hubungan sex diluar nikah. Terlihat saat ini banyak sekali banyak pasangan melakukan tindakan mesum di tempat umum seperti tempat wisata, nongkrongan dan lain-lain. Mereka melakukannya tanpa ada rasa basa-basi dimana khalayak umum dengan sangat mudah melihat.
Sangat parah sekali tindakan sex yang dilakukan kalangan remaja terutama para mahasiswa dimana mereka merantau dari beberapa daerah serta jauh sama orang tua sehingga pengawasan dari orang tua sudah tidak ada. Jadi dengan kondisi seperti itu tidak sedikit para mahasiswa yang terjerumus pada tidakan sex bebas dimana mereka melakukan hubungan sex secara bebas di beberapa tempat.
(bersambung-------02)

Read More......

Monday, February 18, 2008

PERJUANGAN MAHASISWA






Read More......

Wednesday, January 16, 2008

Hubungan Mesum Pangeran Samudo dan Nyai Kumitir

(pesona sex gunung kemukus)

Pangeran samudra dipercaya salah satu keturuan dari mataram, kisahnya yang melegenda dengan nyai kumitir sangat tersohor di penjuru pulau Jawa dan merupakan salah satu cerita rakyat. Legenda pangeran samudara di gunung kemkus memilikin banyak fersi dan masyarakat jawa percaya makam yang terletak di gunung kemukus membawa berkah tersendiri, bahkan makam pangeran samudro dan nyai kumitir dianggap memiliki tuah atau kekuatan gaib yang memberi keselamatan atau berkah bagi gara pezarah.
Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, 30 km sebelah utara Solo. Untuk mencapai daerah ini tidak terlalu susah, dari Solo kita bisa naik bis jurusan Purwodadi dan turun di Belawan (di sebelah kiri jalan akan kita temukan pintu gerbang yang bertuliskan "Daerah Wisata Gunung Kemukus") dari sini kita bisa naik "ojek" atau berjalan kaki menuju tempat penyeberangan dengan perahu. Perlu diketahui bahwa sejak penggenangan Waduk Kedung Ombo, Gunung Kemukus menjadi seperti sebuah "pulau" tetapi pada waktu musim kemarau air akan surut dan praktis kita tidak memerlukan lagi jasa penyeberangan.


Di Gunung Kemukus inilah terletak sebuah makam yang dikeramatkan banyak orang yaitu makam Pangeran Samudro, sehingga peziarah berdatangan ke tempat ini untuk memohon berkah/keberhasilan. Sebenarnya ada banyak maksud orang datang ke tempat ini, mencari pesugihan (kekayaan), memohon jodoh, mohon agar naik pangkat/mendapatkan pekerjaaan, menikmati seks bebas dan sebagainya, dahulu sewaktu masih ada undian nasional berhadiah (KSOB, PORKAS, TSSB, SDSB) orang berdatangan meminta angka-angka rama lan.
Menurut Humas Kabupaten Sragen, wilayah ini mulai tahun 1983 dikelola oleh Dinas Pariwisata Sragen, setelah sebelumnya dibawah pengelolaan Dinas Pendapatan Daerah. Gunung Kemukus identik sebagai kawasan wisata seks karena di tempat ini orang bisa sesuka hati mengkonsumsi seks bebas dengan alasan untuk menjalani laku ritual ziarahnya, itulah syarat kalau mereka ingin kaya dan berhasil. Dalam suatu aturan yang tak resmi disyaratkan bahwa setiap peziarah harus berziarah ke makam Pangeran Samudro sebanyak 7 kali yang biasanya dilakukan pada malam Jum'at Pon dan Jum'at Kliwon atau pada hari-hari dan bulan yang diyakhini baik, melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang bukan suami atau istrinya (mereka boleh membawa pasangannya sendiri atau mungkin bertemu di sana), pada hari yang terakhir kedatangannya yang ke 7 kalinya, peziarah harus melakukan slametan (semacam syukuran dengan menyembelih ayam atau kambing) yang dipimpin oleh juru kunci untuk mensyukuri penggenapan laku ziarahnya itu dan memohon berkah agar keinginannya berhasil.
Pertama kali pengunjung yang bermaksud berziarah datang biasanya mereka harus menemui juru kunci, kepada juru kunci mereka mencer itakan apa maksud kedatangannya, setelah itu masuk ke dalam beranda makam dan menaburkan kembang telon/bunga tiga macam sambil memohon agar terkabul permintaannya. Syarat laku yang kemudian dilakukan adalah tradisi "bersetubuh" dengan pasangan yang bukan suami atau istrinya dan mereka sengaja tidak tidur semalam dengan menggelar tikar di bawah pohon di sekitar makam bersama pasangannya itu.
Legenda Pangeran Samudro Sebagai Latar Belakang adanya kepercayaan laku ziarah.
Sebagaimana umumnya tempat-tempat ziarah lainnya, tumbuh subur pula legenda disekeliling obyek wisata Gunung Kemukus. Dalam kompleks ini selain terdapat makam Pangeran Samudro juga terdapat makam ibu tirinya dan para pengikutnya, dan didekatnya terdapat Cerita tentang Pangeran Samudro sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di sekitar Gunung Kemukus walaupun cerita tersebut tidak jelas asal-usulnya dan terdapat dalam banyak versi, catatan-catatan sejarah tidak ada yang pernah mengungkapkan kebenaran cerita ini.

Dikisahkan tentang seorang Pangeran dari kerajaan Majapahit yang bernama Pangeran Samudro (ada yang menyebut bangsawan ini berasal dari Majapahit, ada pula yang menduga dari zaman Pajang), si oedipus yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri (Dewi Ontrowulan). Ayahanda Pangeran Samudro yang mengetahui hubungan anak-ibu tersebut menjadi murka dan kemudian mengusir Pangeran Samudro. Dalam kenestapaannya, Pangeran Samudro mencoba melupakan kesedihannya dengan melanglang buana, akhirnya ia sampai ke Gunung Kemukus.
Tak lama kemudian sang ibunda menyusul anaknya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan. Namun sial, sebelum sempat ibu dan anak ini melalukan hubungan intim, penduduk sekitar memergoki mereka berdua yang kemudian merajamnya secara beramai- ramai hingga keduanya meninggal dunia. Keduanya kemudian dikubur dalam satu liang lahat di gunung itu juga. Tapi menurut ceritera, sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir Pangeran Samudro sempat meninggalkan sebuah pesan yaitu kepada siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang tidak sempat terlaksana itu akan terkabul semua permintaannya.
Konon selengkapnya ia berujar demikian, "Baiklah aku menyerah, tapi dengarlah sumpahku. Siapa yang mau meniru perbuatanku , itulah yang menebus dosaku dan aku akan membantunya dalam bentuk apapun.
Cerita-Cerita Lain Tentang Pangeran Samudro.
Dalam sebuah brosur yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Sragen (sekarang sudah tidak beredar lagi) diterangkan bahwa Pangeran Samudro adalah seorang pahlawan, karena itu ia patut dicontoh. Dalam data historis versi Pemda itu tercatat, pangeran Samudro pernah hidup pada saat runtuhnya kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1478. Ketika Majapahit bedah, dan muncul Raden Patah sebagai raja yang mendirikan kerajaan Islam Demak, maka saudara- saudaranya yang lain, dari putra-putra Brawijaya V, memilih lari dari kerajaan. Dalam hal ini, Pangeran Samudro tetap teguh pada agama Syiwa-Budha yang diyakininya. Pangeran Samudro beserta para saudara dan pengikutnya itu,yang akhirnya memilih Gunung Kemukus sebagai tempat persembunyian akhir, adalah cikal bakal penduduk desa di sekitar Gunung kemukus kini.
Tetapi cerita yang lebih subur adalah cerita-cerita yang menggunakan idiomatik seks. Selain versi cerita seperti diatas bahwa Pangeran Samudro adalah pangeran yang mencintai ibunya ada pula versi yang menyebutkan bahwa pangeran Samudro adalah lelaki urakan yang suka menggoda isteri orang. Nah, versi yang menggunakan idiomatik seks seperti itu yang sekarang lebih banyak dipercayai orang, dan agaknya cerita ini bercampur aduk dengan cerita versi Pemda Sragen yang menokohkan Pangeran Samudro sebagai pahlawan yang patut dicontoh. Kesimpangsiuran cerita tentang siapa sebenarnya Pangeran Samudro ternyata tak membuat ragu para peziarah yang datang, mereka tetap teguh pada keyakhinan bahwa makam ini akan memberikan berkah bagi siapa yang mempercayainya. Tak jarang ditemukan peziarah yang menangis tersedu-sedu di atas batu nisan makam ataupun menyembah-nyembah makam ini.
Dan apa yang kemudian terjadi di Gunung kemukus? Mitos-mitos yang simpang siur seperti diatas menyuburkan tumbuhnya warna lain: Pelacuran yang dilegalisir oleh adanya kepercayaan tersebut.
Kemukus Wisata Spiritual Atau Wisata Yang Tak Jelas Identitasn ya?
Mengamati laku ziarah yang ada di Kemukus kita pasti diperten tangkan pada nilai-nilai moral dan agama. Meski ada Perda 15/1978 yang melarang para peziarah melanggar tata norma susila, agama dan hukum dengan sangsi denda dan kurungan badan tetapi aturan itu tak pernah dijalankan, buktinya hingga saat ini belum ada seorangpun yang pernah terkena sangsi justisi tersebut. Pelanggaran-pelanggaran dengan mudah dapat kita temukan di tempat- tempat sekitar makam, di bawah-bawah pohon yang rindang laki perempuan non suami istri bebas melakukan aktifitas seksual dengan menggelar tikar yang disewanya dari anak-anak kecil yang menawarkan jasa itu, atau kalau mau lebih nyaman mereka bisa menyewa kamar-kamar yang sengaja disewakan oleh pemilik-pemilik barak yang ada disekitar makam. Bahkan bagi laki-laki yang tak mempunyai pasangan dengan mudah bisa menemukan "lawan main" yang menawarkan jasanya dengan imbalan uang.
Pelacur-pelacur ini berbaur dengan para pengunjung atau memang telah disediakan oleh
pemilik-pemilik barak. Jumlah barak yang yang beridentitas sebagai warung "lengkap" ada sekitar 50 buah. Memang sangat sulit untuk membedakan antara wanita pelacur dengan wanita yang betul-betul melakukan ritual seks, juga sama sulitnya untuk membedakan antara laki-laki hidung belang dengan laki-laki peziarah karena pada malam Jum'at Pon atau malam Jum'at Kliwon ada ribuan pengunjung yang datang di tempat ini dan tentu mereka datang dengan
bermacam-macam kepentingan.

Pemda Sragen seakan tak mau tahu saja dengan keadaan tersebut, mungkin yang terpenting pemerintah daerah bisa mengambil keuntungan banyak dari retribusi masuk yang dijual dengan harga Rp. 750,- . Pendapatan yang diperoleh Pemda dari Gunung Kemukus memang paling banyak dibandingkan dengan daerah wisata yang lain di Sragen, misalnya Museum Sangiran atau Taman Rekreasi Kedung Kancil. Sebagai catatan dapat dikemukakan dari pemasukan Rp. 23 juta pada tahun anggaran 1986-1987, yang 15 juta adalah hasil pendapatan Gunung Kemukus. Sadar bahwa daya tarik seksual terdapat pada Kemukus, mitos-mitos tentang Pangeran Samudro yang simpang siur ini dipelihara aman oleh Pemda Sragen dengan menerbitkan brosur yang dijual kepada para pengunjung. Walaupun brosur itu sudah tidak kita jumpai sekarang tetapi pengaruhnya masih terasa pada orang-orang yang sudah terlanjur mempercayainya sehingga kabar inipun terus berlanjut dari mulut ke mulut.
Melihat situasi yang salah kaprah di Kemukus, penulis mengambil kesimpulan bahwa Wisata Kemukus adalah wisata yang tak jelas identitasnya dan cenderung sebagai wisata seks daripada wisata kesimpulan ini:
1. Menjamurnya seks bebas di Gunung Kemukus dibiarkan saja oleh pihak Pemda, tak ada niat baik dari pihak Pemda untuk menegakkan Perda 15/1978 dengan tindakan-tindakan yang nyata. Perda ini seolah-olah hanya sebagai papan peringatan yang tak berarti.
2. Mitoligisasi yang dilakukan Pemda dengan membuat brosur yang menceritakan legenda Pangeran Samudro sebagai "pahlawan yang patut dicontoh" telah memperparah kesalahpahaman masyarakat terhadap sejarah yang sebenarnya. Pemda dengan seenaknya membuat ceritera yang tidak jelas asal-usulnya. Ada salah seorang sumber yang mengatakan bahwa legenda versi Pemda Sragen itu adalah cerita yang sengaja dibuat untuk membohongi masyarakat. Cerita rekayasa ini dibuat untuk promosi menarik pengunjung, dengan demikian pendapatan Pemda dari tempat wisata ini akan meningkat. Tindakan ini telah melanggengkan idiom-idiom seks dari persyaratan laku ziarah yang mirip dengan ritual purba itu.
3. Terjadi banyak pergeseran nilai, yang kemudian dikukuhkan dalam bentuk-bentuk tradisi. Aliran animisme dan dinamisme yang kini lebih banyak muncul, kepercayaan pada logika dan kekuatan iman tumbuh dalam dimensi yang sempit. Banyak manusia yang lari dari kekuatan pribadinya, jatuh pada lambang-lambang yang sebetulnya tak terungkap secara utuh. Orientasi hidup, agaknya beru bah menjadi makin individual. Jika dulu semadi atau menepi untuk keseimbangan jagat (besar atau kecil) yang kemudian diimplementa sikan dalam realitas sosial, sekarang untuk bagaimana caranya
meningkatkan kesejahteraan sosialnya sendiri.

Sumber : Humas Pemda Sragen
Stanley, Seputar Kedung Ombo,Y. GENI dan LBH Indonesia, Ceta kan Pertama, 1990.
Tim Wartawan Kompas, Peziarahan di Jawa, Daripada Untung tapi Lupa, Lebih Baik Ingat Waspada, Kompas, 2-12-1984.
Bonglin, Saefudin, Wisata Mesum Malam Jumat Pon di Sragen, Gunung Kemukus Hasilkan Rp 7 Juta, Suara Merdeka 18-11-1984.
Wahjoedi, HR. Kenali Daerah Wisata Jateng (Kab. Sragen), Punya "Balung Buto" dan "Gethek" Jaka Tingkir untuk "Obat Kuat", Suara Merdeka, 2-8-1984.
Wirodono, Sunardian, Kemukus: Antara Wanita dan Angka Nujum, Kedaulatan Rakyat 31-2-1988.
Yulianto, I, Pariwisata Spiritual Menjual Obyek Sejarah, atau Menawarkan yang Lain?, Kedaulatan Rakyat, 20-9-1992.
Wirodono, Sunardian, Pangeran Dengan Banyak Versi, Kedaulatan Rakyat, 31-8-1988.
Tulisan ini disampaikan pada Pelatihan untuk Aksi Kepariwisataan di Indonesia, yang diselenggarakan oleh YMCA Solo, 8-18 Agustus 1994 di Yogyakarta.


Read More......

Wednesday, November 28, 2007

AJAL ITU PASTI

“Orang mati lagi” keluhku. Heran aku, sudah banyak orang mati tapi kenapa tambah banyak pula orang yang berbuat dosa. Kapankah aku mendapat giliranya? Tidak! Aku masih belum ingin mati!, aku masih ingin hidup, aku masih ingin menikmati kekayaan yang aku peroleh dengan jerih payahku sendiri. Ah! Tidak mungkin aku mati sekarang toh aku masih muda dan belum menikah lagi, lupakan saja soal kematian tak usalah aku memikirkanya. Seketika itu peperangan yang terjadi di hatiku berhenti.
Keesokan harinya. Ketika di kantor “Yud, gimana kemarin saudaramu, sudah kembali kesisi Nya?” Spontan teman-teman sekantor mentertawakan pertanyaan itu. “Sudah” jawabku singkat. Ledekan itu tidak berhenti sampai situ “Kapan kamu mendapat giliranya?” teman-teman pun menertawakannya lagi, seolah-olah kematian tersebut adalah sebuah lelucon dan mainan. Aku hanya diam tak berkata sepatah kata pun. Pikiranku terfokus pada kematian, tidak! Aku tidak mau mati, aku masih ingin hidup. Deru tawa teman-teman terbayang dalam pikiranku. Telingaku sudah tidak kuat lagi untuk mendengarnya. Akhirnya aku pergi meninggalkan ruangan itu.
Sore itu aku sedang duduk-duduk menikmati pemandangan luar. Sebuah mobil Avanza berhenti di depan rumahku, “kelihatanya aku kenal mobil itu?” Tanyaku penasaran. Aku tersentak kaget dan langsung berdiri dari dudukku ketika aku melihat yang keluar dari mobil itu Wahyu. Mau apa dia datang kerumahku? apa mau mengejek aku lagi?. Dia tersenyum kepadaku sambil berjalan menghampiriku. Dia menyalamiku, aku memepersilahkan dia duduk dia membalasnya dengan senyum. Tiba-tiba dadaku sesak perasaanku tidak enak, aku harus siap mental ini, jangan-jangan dia mengejekku lagi. Dia membuka pembicaraan “Kedatanganku mengganggu mu?” “Oh, ti..dak!” jawabku gugup “malahan aku sedang santai, a..da apa, kok tum..ben kemari? Tanyaku dengan mencoba menghilanhkan rasa gugupku. Dia hanya diam dan tersenyum tidak menjawabnya. Aneh, pikirku. Ada apa dengan Wahyu?. 3 menit lamanya aku kami diam, “ Kedatanganku kesini, mau minta maaf soal tadi siang” Aku tersentak kaget. “ kamu mau kan maafkan aku?”. Aku tidak bias mengatakan apa-apa, aku hanya mengangguk mengiyakan. “ Makasih, aku harus pamit masih banyak urusan yang harus aku kerjakan. Selamt sore”. Dia menjabat tanganku dan berjalan keluar. Aku masih terbengong dan tidak percaya sampai bayangan mobil wahyu menghilang. Aku mimpi? Wahyu minta maaf? Padahal dia sangat membenciku dan selalu bersaing dalam masalah pekerjaan, dia tidak mau kalah denganku.
Tiba-tiba pikiranku langsung menuju ke kematian. Aku ingat kata seorang Ustadz pada waktu aku mengikuti sebuah pengajian. Beliau berkata seseorang sudah menjadi mayat 40 hari menjelang kematiannya. Dan sikapnya akan berubah menjadi baik. Mungkinkah Wahyu akan mati? Malang sekali nasibnya, padahal dia belum menikah?. Aku sudah memaafkan mudah-mudahan kau kembali ke sisi Nya dengan tenang. Ketika itu aku tidak terpikir kalau aku pun akan mendapat gilirannya enyah yang ke nomor berapa. Sudah lah tidak usah dipikirkan yang penting besok dan lusa aku belum mendapatkan giliran.
Aku begitu takut dengan kematian, entah kenapa. Padahal semua orang yang hidup pasti akan mati. Kematian seolah-olah momok bagiku dan aku selalu berusaha untuk menghindarinya. aku pun tahu kematian tidak bias dihindari tapi aku harus menghindarinya. Pokoknya aku tidak ingin mati! Teruiakku dalam hati.
Keesokan harinya aku berangkat kekantor dengan perasaan tenang dan tubuh yang fresh. Aku sudah tidak memikirkan mati lagi karena bukan giliranku. Mobil ku setir dengan nyaman. Sesampai dikantor ku tebarkan senyum semanis-manisnya sehingga seluruh kantor pun terheran-heran. Aku tidak menggubrisnya. Aku percaya karena hari ini adalah hari baikku. Aku duduk di meja kerjaku, wahyu menghampiriku “ Yuda, ada apa gerangan, kelihatnya kau sedang senang?” “ Iya, ini adalah hari terbaik ku” jawabku singkat. “ Yu, aku minta maaf mungkin aku punya salah sama kau” kata-kata itu tak tersadar terucap oleh mulutku. Wahyu hanya mengangguk dan menghilang dari hadapanku.
Jam pulang tiba. Aku menuju lobi bawah. Ketika mau pulang wahyu memanggilku “ Yud, mau pulang?” “ Iya” “ Boleh numpang, mobil masih di bengkel” aku mengangguk tanda meng iyakan. Di perjalanan tak disengaja mobil kusetir dengan cepat, kami berbincang-bincang sambil tertawa. Tiba-tiba ada truk dari depan aku tidak bias menghindar akhirnya mobilku menabrak dan hancur.
Ku buka mataku. Terlihat dinding putih, kain putih, semua serba putih. Rumah sakit rupanya, terkaku dalam hati. Aku bangkit dari tempat tidurku. Seperti ada yang aneh? Ini aku tapi siapa yang sedang berbaring di situ? Sekilas mirip aku. Tidak! Itu bukan aku. Ku lihat sekelilingku. Mayat. Tidak mungkin aku mati, aku pasti salah orang. Aku berlari dengan cepat. Tiba-tiba mataku tertuju oleh sebuah ruangan. “ Wahyu?” ku lihat wahyu berbaring di ruang ICU. Aku masuk untuk memperjelas pandanganku. Tidak mungkin! Seharusnya yang mati bukan aku tapi dia. Hari-hari ini tingkahnya aneh. Aku belum mati, aku masih hidup!”
Aku tidak menyadari. Sikap ku aneh akhir-akhir ini ternyata ajal telah menjemputku. Aku tertunduk dan bersujud tidak mau menerima kenyataan ini.



Read More......

Monday, October 1, 2007

Masyarakat posok dan globalisasi

Masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki banyak sekali suku dengan peraturan atau hukum adat yang beda-beda. Suku-suku yang ada merupakan salah satu bentuk dari pengaruh geografis Indonesia, perbedaan dan letak pulau yang terpisah-pisah membuat pengaruh besar dalam persebaran manusia. Pengelompokan manusia-manusia yang memiliki ras dan kebiasaan sama akan berkembang manjadi sebuah suku-suku, mendiami wilayah tertentu serta mengakui daerah tersebut menjadi tanah adat. Manusia menciptkan budaya dari kebiasaan hidup itu pun berkembang sampai anak cucu, kemudian menjadi hukum adat setempat.


Suku yang ada saat ini sangatlah beda dengan keadaan suku-suku pada masa lampau, dimana saat ini kebiasaan suku atau masyarkat adat telah beralkulturasi dengan masyarakat lain. Suku yang dahulu sangat tertutup dengan masyarakat luarpun saat ini sudah mulai membuka diri menerima para pendatang dengan budaya yang beda.
Perbedaan budaya pun sebenarnya sudah ada dari jaman nenek moyang kita saat zaman masyarakat nusantara belum mengerti apa itu agama, dan masih percaya dengan roh nenek moyang atau atisme, nenek moyang kita sudah memiliki kebudayaan sendiri. Setelah bangsa india datang sekitar abad 4 dengan membawa agama hindu masyarakat indonesia mulai mengerti atau mengelompokkan masyarakat dalam empat kasta. Dari brahmana, satrya, waisa dan sudra dimana empat kasta tersebut tidak boleh tercampur apabila kasta-kasta tersebut sampai tercampur maka manusianya dikelompokkan dalam golongan paria (buangan) serta tidak bias masuk dalam kelompok manapun.
Setelah abad 5 para pedagang dari india yang beragama Budha pun datang kenusantara, bahkan sempat terjadi perang dengan ditandai runtuhnya kerajaan-kerajaan hindu dan digantikan dengan kerajaan yang beragama budha. Setelah itu disusul dengan datangnya pedagang-pedagang islam dari Gujarat pada sekitar abad 7. Dengan alkulturasi ketiga agama tadi secara langsung mengubah pola pikir masyarakat yang menganutnya. Agama juga berdampak pada hukum adat yang dianut masyarakat, sedikit banyak agama tetap mempengaruhi hokum-hukum yang ada dimasyarakat baik itu agama Hindu, Budha, dan Islam. Sekitar abad 16 bangsa asing dari daratan eropa datang dengan membawa agama Nasrani, karena bangsa-bangsa eropa yang datang ke nusantara waktu itu memiliki tiga tujuan pokok yaitu mencari kekayaan, mencari kekuasaan, dan penyebaran agama khususnya Nasrani dan lamanya bangsa eropa khususnya portugis, inggris, dan belanda lama tinggal di nusantara sedikit banyak mengubah adat kebiasaan dan budaya yang ada.
Budaya yang terus berkembang semakin menambah kekayaan yang kita miliki sehingga apa yang ada sekarang merupakan bentuk dari alkulturasi budaya dan agama-agama dari jaman masa lampau atau bentuk dari komunikasi dengan dunia luar entah itu sebagai penjajah , pendeta, dan pedagang.
Dari proses yang panjang masyarakat secara tidak sadar menciptakan beberapa budaya yang ada dan dipertahankan sampai saat ini. Menurut Iris Verner dan Linda Beamer, dalam buku intercultur Communication in the Global Workplace, mengartikan kebudayaan sebagai pandangan yang koheren tentang sesuatu yang dipelajari, yang dibagi, atau yang dipertukarkan oleh sekelompok orang. Pertukaran dan kebiasaan yang terbentuk dipertahankan dan dilakukan turun temurun sehingga oleh anak cucu dinilai sebagai budaya asli mereka yang diturunkan turun temurun.


Read More......